Jumat, 12 Juni 2009

Telaah bourdieu 5

Dominasi Maskulin dalam Filem PPC PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Grace Samboh
Selasa, 15 Juli 2008 20:17

Perempuan Punya Cerita. Sebuah Filem garapan empat sutradara perempuan muda Indonesia. Satu ulasan mengatakan bahwa filem ini lebih pantas berjudul "Perempuan Punya Derita” karena penderitaan tanpa-akhir yang dialami hampir semua tokoh perempuan di dalamnya. Salah satu situs perfileman Indonesia, bahkan meresensi filem ini dengan judul Para Perempuan Malang. Padahal, omnibus filem Perempuan Punya Cerita (PPC) ini disutradarai oleh empat perempuan: Fatimah T. Rony, Upi Avianto, Nia Dinata, dan Lasja Fauzia Susatyo; ditulis oleh: Vivian Idris dan Melissa Karim; dan diproduseri oleh Nia Dinata.

Para pembuat filem perempuan ini, menurut saya, malah menciptakan tokoh-tokoh perempuan yang lemah, kasihan, menderita, dan malang dalam masing-masing sekuennya. Saya menemukan cukup banyak tulisan yang menyorot penderitaan tokoh perempuan dalam omnibus filem produksi Kalyana Shira ini. Padahal, keempat filem pendek ini dinyatakan oleh produser dan para sutradaranya sebagai filem dari, oleh, dan untuk perempuan. Filem ini terlanjur mempunyai beban sebagai ‘pernyataan sosial’ apabila dilihat semua materi publikasinya (poster, kaos panitia, dan sejumlah pernyataan yang dimuat media massa). Salah satu ulasan mengenai filem ini mengatakan bahwa isu yang ‘terlanjur dibebaninya’ adalah mengenai ‘perempuan yang berdaya’.

posterperempuanpunyacerita

Dominasi Maskulin Bourdieu, Dekonstruksi Derrida, dan Kematian Pengarang Barthes

Mengetahui adanya sekelompok laki-laki yang bersekutu untuk meminta Menteri Urusan Laki-laki di India, saya tertarik menuliskan penindasan yang terjadi pada laki-laki, walau hanya dalam filem. Alasannya sepele. Pertama, cobalah Anda tulis ‘kajian gender’ sebagai kata kunci pencarian dalam Google. Dalam 0,22 detik Anda akan menemukan sekitar 103.000 hasil pencarian. Sampai halaman kesepuluh dari penemuan tersebut, saya belum menemukan tulisan tentang ‘penomorduaan’ laki-laki, mulai dari esai ilmiah, jurnal, artikel, sampai ke tulisan-tulisan dalam sejumlah situs pribadi. Padahal situs-situs pribadi ini adalah sebuah ruang di mana pemiliknya bebas menyuarakan hal-hal yang ‘menyimpang’. Apakah berarti laki-laki tidak ada yang tertindas (atau ditindas)? Apakah hanya perempuan yang merasa dimarginalisasi? Saya rasa tidak.

Merujuk kepada dominasi maskulin Bourdieu, laki-laki sebenarnya tidak seberuntung kelihatannya. Bourdieu melihat dominasi maskulin seperti koin, mempunyai dua sisi. Sisi pertama dari koin tersebut adalah privilese, untuk berbagai macam hal dan posisi, dan sisi keduanya adalah jebakan, karena keterikatannya dengan pemahaman-pemahaman maskulinitas yang ada. Dalam Masculine Domination, Bourdieu menggunakan sejumlah konsep yang mendukung ke pemahaman mengenai dominasi maskulinnya: habitus dan doksa. Habitus, menurut Bourdieu, adalah sebuah sistem di mana masing-masing individu menerapkan disposisinya sendiri untuk menghadapi realitas sosialnya. Pada tahap yang lebih lanjut, disposisi diri ini menjadi pengalaman mental yang sudah biasa dialami, sehingga tidak lagi objektif (‘dipaksakan’) dan menjadi subjektif (‘normal’). Keterbiasaan menerima struktur objektif sosial, lama-kelamaan menjadikan masing-masing individu ‘terbiasa’ dalam tatanan pemikiran dan perilaku. Hal inilah yang akhirnya membuat hubungan doksa muncul.

Doksa adalah pemahaman yang sudah tidak lagi dipikirkan, sudah tertanam, diterima sebagai kebiasaan yang mendasari perilaku dan pemikiran dalam lapangan (arena ‘perjuangan’ sosial) tertentu. Doksa bertendensi untuk memenuhi kebutuhan sosial mereka yang memberikan previlese pada yang dominan dan mereka yang memperlakukan posisi dominannya sebagai sebuah keuntungan. Maka, kategori-kategori pemahaman dan persepsi yang mengonstitusikan sebuah habitus, yang harmonis dengan tujuan organisasi dalam sebuah lapangan, bertendensi untuk mereproduksi struktur dalam lapangan. Bourdieu memang melihat habitus sebagai kunci reproduksi sosial karena habitus adalah pusat pembuatan dan pembatasan hal-hal yang menjadi kehidupan sosial.

Roland Barthes, dalam artikelnya di jurnal Aspen, mengatakan bahwa pengarang itu sudah mati. Pengertian pembaca terhadap karya, itulah yang penting. Kelahiran pembaca, demikian tutup Barthes dalam artikelnya. Saya pun menganut kepercayaan ini. Namun, ketertarikan saya menganalisis PPC memang karena pembuat filemnya (atau pembuat naskahnya —scriptor dalam terminologi Barthes) perempuan: bagaimana mereka menciptakan laki-laki dalam ‘dunia’ mereka. Apabila memposisikan diri sebagai pembaca yang baru lahir (new-born reader), para lelaki-dalam-filem dibaca sebagai teks, mereka tetap dapat dikategorikan tidak berguna, bahkan memperburuk situasi dan kondisi para perempuan yang diceritakan. Ketidakbergunaan para lelaki-dalam-filem inilah yang akan saya analisis dalam tulisan ini, berkebalikan dengan sejumlah tulisan yang sudah beredar dan diskusi yang pernah dilaksanakan.

Saat para Platonis percaya bahwa esensi lebih penting dari eksistensi, Derrida mengatakan sebaliknya (seperti juga Sartre dan eksistensialismenya). Dekonstruksi menggoyahkan segala konsep kemapanan, membuatnya menjadi tidak mapan, dan mengembalikannya sebagai sebuah konsep baru. Merujuk kepada pemikiran Derrida, saya merasa perspektif yang seringkali digunakan dalam pengajian gender perlu diubah. Setidaknya, dalam menganalisis PPC.

Pilihan perspektif saya memang berbeda dengan sejumlah kritik yang sudah beredar atas filem PPC ini. Banyaknya tulisan yang sudah menjabarkan penderitaan para perempuan-dalam-filem PPC, membuat saya tertarik untuk melihat dari perspektif lain. Saya, kemudian, tertarik dengan karakter laki-laki dalam PPC ini. Mengapa? Karena, laki-laki-dalam-filem ini diciptakan oleh perempuan. Seperti sudah dipaparkan sebelumnya, penulis naskahnya adalah perempuan, Vivian dan Melissa. Maka, penulis naskah filem menjadi krusial posisinya, karena naskah yang buruk tidak akan pernah bisa menghasilkan filem yang baik. Penulis naskah, menurut saya, adalah ‘Tuhan’ dalam filem yang ditulisnya. Filem itu sendiri adalah sebuah dunia yang diciptakannya. Vivian ‘menuhani’ dua filem: Cerita Yogyakarta dan Cerita dari Pulau; sementara kedua filem lainnya, Cerita dari Cibinong dan Cerita Jakarta, ‘tuhan’nya adalah Melissa Karim. Kedua penulis naskah ini menciptakan dan memposisikan karakter laki-lakinya dengan cara, bentuk, dan porsi yang berbeda.

Saya melihat ketidakbergunaan laki-laki-dalam-filem ini sebagai bentuk penindasan para pembuat filemnya. Lelaki-dalam-filem PPC dengan semua rincian gerak, lagak, dan cakapnya adalah hasil penciptaan kedua penulis naskahnya. Atas alasan inilah saya mengatakan filem ini menindas laki-laki. Karakter laki-laki yang diciptakan para pembuat filemnya hampir semua tidak berguna dalam tatanan tertentu. Para lelaki-dalam-filem ini bukannya digambarkan tidak (atau kurang) maskulin, namun, yang lucu adalah bagaimana mereka, selain tidak berguna, menjadi sumber masalah atau hanya ‘figuran’ dalam hidup para perempuannya. Ketidakbergunaan lelaki-dalam-filem ini bahkan terjadi pada mereka yang protagonis atau yang (katakanlah) ‘baik’.

Representasi Karakter Lelaki Tertindas dalam Keempat Filem Pendek Perempuan Punya Cerita

Cerita dari Pulau

Ahmad Rokim (Arswendy Nasution) pada Cerita dari Pulau, karya Fatimah T. Rony, adalah seorang suami yang tidak digambarkan memiliki pekerjaan tetap —sementara istrinya adalah sosok penting karena berprofesi sebagai (satu-satunya) bidan di pulau tempat mereka tinggal. Filem ini mengarahkan pemahaman penonton kepada keberadaan Rokim dan Sumantri (Rieke Diah Pitaloka) di salah satu pulau terpencil di Kepulauan Seribu itu dikarenakan pekerjaan sang istri. Kebaikan Rokim, yang direpresentasikan melalui pembawaannya, adalah ‘kebaikan ideal’ yang diinginkan perempuan pada sosok suami (ramah, sopan dalam bertutur, lembut, namun tetap mengurangi kelelakiannya). Bentuk kepedulian Rokim yang besar kepada Sumantri digambarkan dengan ngototnya ia mencari informasi mengenai penyakit yang diderita istrinya. Walau setelah tahupun ia menerima istrinya apa adanya, Rokim, yang juga tahu istrinya mencintai pekerjaannya dengan sepenuh hati, tetap mengajak Sumantri kembali ke Jakarta dengan mengatasnamakan kemudahan akses pengobatan penyakit Sumantri. Di tengah cerita, laki-laki yang digambarkan sebagai suami penyayang istri ini memutuskan untuk menjual rumah tanpa berdiskusi dengan istrinya. Konflik dalam filem semakin memanas ketika si suami ‘ideal’ ini ternyata memutuskan untuk memukuli tanpa ampun sejumlah laki-laki yang ditemukannya sebagai pemerkosa Wulan (Rachel Maryam), anak tetangganya.

Ada dua tokoh yang digambarkan sebagai pemerkosa Wulan, perempuan penderita kelainan mental yang sangat disayangi Sumantri. Nanda (Ferry Ardian) dan Tommy (Edo Borne Putra) adalah dua pemuda asal Jakarta yang statusnya berlibur di pulau ini. Eric Sasono, dalam resensinya, menuliskan bahwa mereka seakan-akan ada di sana hanya untuk memerkosa Wulan. Kesimpulan itu, menurut saya, timbul karena sejak penampilan pertama —saat turun kapal— kedua tokoh ini digambarkan langsung menggoda Wulan. Kemunculan kedua mereka adalah adegan nongkrong bersama salah satu pemuda penghuni pulau, Hasan (Iwan Bango), dengan tujuan menunggu Wulan lewat. Masih dalam adegan nongkrong, mereka menyusun strategi memancing perhatian Wulan untuk, akhirnya, diperkosa. Kemudian setelah berhasil memerkosa, mereka menertawakan ke’istimewa’an Wulan. “…makin dia meronta-ronta, gua makin nafsu, man!” ujar Tommy yang kontan disusul oleh gelak tawa Nanda dan Hasan.

Nah, Hasan adalah si pemuda yang nongkrong bersama kedua turis tadi. Ia turut dipukuli pada saat Rokim mendengar pembicaraan mereka mengenai pemerkosaan Wulan. Sebagai pemuda asli pulau, ia digambarkan tidak peduli lingkungan dan masyarakat sekitar dengan memberikan sejumlah tips untuk menarik perhatian Wulan, yang tertarik pada cahaya —dan akhirnya memang dengan cahayalah mereka memancing Wulan. Hasan kemudian dijadikan kambing hitam oleh Tommy dan Nanda. Ialah yang ditangkap sebagai pemerkosa Wulan —sementara Tommy dan Nanda melenggang bebas— oleh serombongan warga yang kemudian berarak ke rumah Wulan.

Rombongan ini isinya adalah Tommy; Nanda; Pak Lurah (Syamsul Hadi) yang sama sekali tidak membela Wulan, warganya, dan, malah, mendukung perdamaian-dengan-uang; Pak Ipul (Syaiful) yang, mungkin karena uangnya, disegani di pulau ini dan, memang, bergestur semena-mena; dan beberapa laki-laki sebagai warga (setempat) yang malah memihak kepada Tommy dan Nanda. Cara Pak Lurah dan Pak Ipul menghadapi keluarga Wulan adalah dengan menyuruh Tommy memberikannya uang damai.

Selain serombongan laki-laki tidak berperasaan itu, masih ada satu tokoh (figuran) lagi dalam filem ini, yang tidak kurang ‘ketidakpentingannya’, yaitu Pak Polisi (Miftah). Kepadanyalah Sumantri melaporkan pemerkosaan Wulan. Tanggapan yang didapatkan Sumantri adalah penolakan atas laporan tersebut dengan alasan Wulan tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pihak kepolisian. Kenyataan bahwa Wulan adalah penderita kelainan mental diabaikan Pak Polisi. Selain tidak menghiraukan laporan pemerkosaan Wulan, salah satu aparat pemerintah yang berslogan “Pelindung, Pengayom, dan Pelayan Masyarakat” ini malah mengancam Sumantri.

Cerita Yogyakarta

“Heh! Awas kalau berani buka mulut! …bilang-bilang! Tak’ bunuh!” ancam Jarwo (Achmadi) pada Tejo (Cia Partawinata), temannya yang sering dimaki ‘banci’. Bagi saya, terlalu berlebihan mendengar Jarwo dengan entengnya mengatakan kepada Jay Anwar (Fauzi Baadila) bahwa ia dan teman-temannya sudah berhubungan seks secara aktif sejak duduk di bangku SMP. Pernyataan Jarwo ini mengakibatkan ia ditertawai ‘geng’nya karena ia tidak pernah dilihat bersama perempuan. Ia, yang sepanjang filem tidak pernah disebutkan namanya, tidak tahu bahwa Jay pernah (dengan tidak sengaja) melihat skandalnya dengan Tejo. Adegan ‘skandal’ yang hanya sekian detik ini menggambarkan kontroversi karakter Jarwo, karena pengancaman Tejo ini berlangsung saat ia sedang menghisap kemaluan Jarwo. Tentunya, ini menjadi salah satu dari sekian banyak adegan yang dipotong oleh Lembaga Sensor Film untuk versi bioskop Cerita Yogyakarta, karya Upi Avianto. Jarwo adalah salah satu anggota ‘geng’ murid laki-laki SMAN 69 yang banal dan binal. Dalam kelas, bersama kelompoknya, ia menertawai guru yang mengajarkan sistem reproduksi perempuan, mengatakan teori yang diajarkan sudah ketinggalan zaman. Salah satu teman Jarwo menyatakan “…wong kita praktiknya udah lebih maju, ya ndak?!”

Kalimat itu keluar dari mulut Dimas (Kukuh Adirizky), pelajar SMA dengan tampang kontradiktif, antara nakal dan ‘anak mami’. Pemilik rumah tempat teman-teman seangkatannya nongkrong ini merelakan kamarnya untuk digunakan berhubungan seks oleh semua temannya (secara bergantian dengan pasangan masing-masing). Menurut saya, hal itu dilakukannya supaya ia disenangi teman-temannya. Dimas juga digambarkan manut terhadap ibunya dengan selalu menyahut akan setiap sapaan basa-basi ibunya. Bahkan, suatu ketika ia sedang berhubungan seks dengan salah satu teman perempuannya, ia tetap menjawab ibunya dengan teriakan dari dalam kamar. Di lain kesempatan, ia memaki dan membodoh-bodohi ketiga temannya karena Rahma (Adithya Putri) —yang pernah mereka gilir— ternyata hamil. Ia kemudian memutuskan bahwa cara menentukan siapa di antara mereka berempat yang harus bertanggungjawab menikahi Rahma adalah dengan mengundinya (dengan kertas kocokan seperti arisan). Sosok yang digambarkan sebagai ‘kepala geng’ ini juga digambarkan minim pengetahuan dalam ‘khazanah pornografi kontemporer’ dengan menyimpan video di telepon selularnya tanpa mengetahui apa (atau, lebih tepatnya, siapa) nama aktris filem porno Jepang yang beberapa waktu lalu sempat populer –Miyabi.

Bagas (Dyo Aleathea) adalah tokoh yang digambarkan paling ‘berwacana’ dalam ‘khazanah pornografi kontemporer’ dengan mengetahui asal-usul Miyabi dari Jepang, bukan Mandarin. Ia juga mengetahui cara menggugurkan kandungan, walaupun caranya kuno (menggunakan Sprite dan nanas muda) dan tidak ada jaminan keampuhannya. Anehnya, ia rela pacarnya, Rahma, digilir teman-temannya. Laki-laki ini digambarkan tidak berperasaan dengan hanya tersenyum, entah manis atau pahit —susah dijelaskan karena, menurut saya, tidak ada penokohan yang kuat dan konsisten dalam filem ini— pada saat menyelamati Rahma di hari perkawinannya dengan Yanto (Ariel Vanka K.).

Yanto, si pengantin laki-laki Rahma, adalah anggota terakhir ‘geng’ laki-laki SMAN 69 yang berwajah paling muda. Ia, yang dengan bangganya memamerkan bahwa telah berhasil memerawani gadis berseragam putih-biru, ternyata terlalu bodoh untuk menyadari bahwa ia dicurangi teman-temannya dalam undian mereka mencari siapa yang ‘harus’ menikahi Rahma. Keputusannya —walau karena undian— untuk menikahi Rahma juga aneh mengingat ia mengaku tidak menyelesaikan hubungan seksnya dengan Rahma karena ibu Dimas sudah terlanjur pulang saat itu. Ketika mendengar kepoloson Yanto mengatakan Miyabi berasal dari Mandarin, Anda, yang mengerti pornografi, akan langsung melupakan bahwa ternyata tumpukan di bawah DVD porno yang sibuk mereka pilih adalah CD Trio Macan dan Peterpan.

“Ada Miyabi nggak?” sela Jay di hadapan sekelompok anak SMA yang sedang memilah DVD porno itu. Tanpa membeli, ia langsung pergi. Mungkin hanya supaya terlihat jagoan di mata ‘geng’ berseragam putih abu-abu tadi saja, karena tanpa akhirnya membeli, iapun pergi. Tokoh utama laki-laki dalam filem ini selalu (dan berulang-ulang kali) dengan bangga menyatakan ia berasal dari Jakarta. Jay digambarkan menjadi sosok lelaki dewasa yang digemari para tokoh perempuan yang pada umumnya sama banalnya dengan yang laki-laki. Jay lebih sering bersama Safina (Kirana Larasati), selaku perempuan yang berbeda-dengan-teman-temannya-karena-masih-perawan. Akhirnya Safina menyerahkan keperawanannya kepada Jay, yang keesokan harinya pulang ke Jakarta dengan hanya mengatakan terima kasih dan mempunyai seorang kekasih di Jakarta (yang diperankan oleh Tiara).

Beberapa waktu kemudian murid-murid (dan, tentunya, guru-guru) SMAN 69 gempar melihat Koran Tumpas yang mengulas kehidupan seksual sekolah mereka. Penulisnya adalah Jay, yang ternyata seorang wartawan. Demikianlah ia digambarkan sebagai wartawan laki-laki yang tidak beretika karena selama perjalanannya di Yogyakarta, ia tidak pernah menyatakan posisinya sebagai penulis yang sedang meneliti. Selain itu, di awal filem ini penonton disodorkan dengan kemungkinan Jay adalah mahasiswa yang baru datang ke Yogyakarta melalui pernyataan pemilik warung internet (warnet), diperankan oleh Arie Dagienk, “…oh, mahasiswa dari Jakarta, toh!”

Filem ini juga punya peran (figuran) yang tidak kalah ‘ketidakpentingannya’, seperti Cerita dari Pulau, yaitu si pemilik warnet yang selalu mengonsumsi hal-hal porno. Mulai dari koran merah (yang kalau tidak dipegang, minimal tampak di layar), buku stensil, sampai situs porno. Warnetnya ini digambarkan mempunyai bilik khusus untuk indehoi —meminjam istilah yang digunakan pemilik warnet dalam filem ini untuk menawarkan fasilitas tersebut. Dengan alasan bisnis, pemiliknya tidak berkeberatan warnetnya dipakai untuk tempat masturbasi sambil mencari ‘literatur untuk memperluas wawasan’ pornografi para pelajar kota pelajar itu.

Cerita dari Cibinong

Melissa Karim, seperti Vivian Idris, juga mengisahkan tokoh ‘bencong’, walau hanya sekilas dan tidak memiliki peranan penting dari segi cerita. Dalam Cerita dari Cibinong karya Nia Dinata, tokoh ‘bencong’ hanya tampil sebagai figuran yang meramaikan (dan mungkin maksudnya membuat jadi lucu) adegan berkelahi di depan bar dangdut Merem Melek milik Jaja (Firza Achmar Paloh). Selain sebagai pemilik, Jaja juga digambarkan sebagai preman penguasa di daerah sekitar bar tersebut. Tidak jelas apakah Jaja adalah suami atau sekadar pasangan kumpul kebo Cicih (Sarah Sechan), penyanyi utama dalam Trio Dag Dig Duer yang populer di bar tersebut, namun yang pasti Jaja menjaga Cicih dengan baik. Ia juga, seperti halnya Rokim dalam Cerita dari Pulau, digambarkan sebagai laki-laki baik dan penyayang pasangannya. Ketika Mansur (Otto Satrya Djauhari) yang dinilainya mengancam keamanan Cicih muncul, Jaja menunjukkan kekuasaannya dengan berkata (setengah memaki) “Eh, lo! Ngapain lo disini lo?! Gua tau banget siape elo! … Macem-macem di sini, gua awetin lo, ye!” Makiannya tidak berhasil menjaga Cicih, yang akhirnya kabur dengan lelaki yang diancam Jaja tadi. Kegagalan kelelakiannya dalam menjaga Cicih, kemudian tertutup dengan sikapnya yang tetap baik dan sopan kepada Esi (Shanty) dan anggota Trio Dag Dig Duer lainnya.

Mansur, yang mengaku berasal dari agensi yang mengorbitkan Vetty Vera (penyanyi dangdut populer), adalah tokoh laki-laki hidung belang yang pekerjaannya adalah mencari ‘korban’ di daerah-daerah terpencil. ‘Korban’nya tentu perempuan muda yang masih perawan, seperti yang ditegaskan oleh atasan Mansur yang dipanggilnya ‘Koh’ (Alditio Pradana). Mereka kemudian dijual ke Taiwan dan Singapura. Mansur menjanjikan Cicih sebuah pekerjaan menyanyi di klub dangdut Belarosa, dengan syarat Cicih mau membawa Maesaroh (Ken Nala Amrytha) ke Jakarta. Tentu Mansur tak berkata apapun mengenai Maesaroh akan diperjualbelikan. Mansur mengatakan bahwa Maesaroh akan dipekerjakan di sebuah hotel berbintang lima dengan gaji yang sangat besar. Walau akhirnya Cicih mengetahui kebodohannya yang telah terperdaya Mansur, Maesaroh sudah terlanjur dinikahi pengusaha Taiwan. Cicih pun harus kabur dari cengkeraman Mansur yang menguncinya dalam area tempat tinggalnya.

Sekembalinya Cicih ke Cibinong, ia harus menghadapi Esi yang setengah mati menderita karena kehilangan Maesaroh, anaknya. Penderitaan yang jaraknya terlalu dekat dengan kenyataan ia baru saja meninggalkan Narto (Reka Wijaya) yang ia tangkap basah sedang menyuruh Maesaroh memuaskan birahinya. Narto yang memang bukan bapak kandung Maesaroh ini tidak diberikan karakter sama sekali. Ia hanya muncul sebagai laki-laki yang serumah dengan Esi (entah suami atau hanya tinggal bersama) tanpa latar belakang apa-apa. Yang dapat diketahui kemudian melalui pernyataan Maesaroh adalah bahwa ia tidak pernah berhubungan seks dengan Narto, hanya disuruh ‘isap-isap’.

Selain Jaja, Mansur, Narto, dan Bun Liang, semua tokoh laki-laki lainnya hanyalah figuran semata. Si ‘bencong’ tadi, satpam, dan para pengunjung bar Merem Melek yang beringasan, selalu mabuk, suka menjamah para penyanyinya, dan dengan penuh amarah siap ‘meruntuhkan’ bar (pada saat para penyanyinya sedikit terlambat naik panggung). Lagi-lagi sekumpulan warga sekitar yang tidak punya kepentingan apa-apa selain menambah penggambaran kebodohan warga, terutama laki-laki, dalam setiap konflik di masing-masing filem.

Cerita Jakarta

Untuk Cerita Jakarta, konfliknya sedikit berbeda. Cerita ini tidak melibatkan tokoh sebanyak di filem-filem lainnya dan tidak ada sekumpulan laki-laki bodoh yang diceritakannya. Hanya ada dua tokoh laki-laki yang digambarkan tertindas.

Pertama, Reno Sumardiprojo (Winky Wiryawan) yang tampil tidak sampai tiga menit tetapi merupakan penyebab malapetaka yang menimpa istrinya yang beretnis Cina, Laksmi (Susan Bachtiar). Dalam kemunculan sebentarnya, Reno diperlihatkan sebagai laki-laki dalam kubikal kamar mandi uniseks yang sedang berhubungan seks dengan seorang perempuan tak dikenal (Nasta Sutardjo) sambil menyuntikkan obat-obatan terlarang sampai akhirnya meninggal (entah karena kelebihan dosis atau penyakit) —sayang pada saat harusnya ditunjukkan terkulai mati, perutnya masih terlihat bergerak tanda masih bernafas. Dengan pemunculan yang demikian, penonton dibawa ke pemahaman bahwa ia adalah pecandu obat-obatan terlarang dan laki-laki yang berhubungan seks dengan siapa saja yang ditemuinya dan mau. Akhirnya, (sebagian) penonton akan mengasumsikan bahwa ialah yang menyebabkan Laksmi juga menderita AIDS, karena Laksmi digambarkan sebagai perempuan dan ibu yang baik.

Sayang, mertua Laksmi, Ibu Sumardiprojo (Ratna Riantiarno) dan Bapak Sumardiprojo (Tarzan), malah akhirnya menyalahkan Laksmi atas kepergian Reno. Mereka menuduh Laksmi sebagai penular penyakit itu kepada anaknya. Sosok ayah Reno disini digambarkan sebagai tipikal ikatan-suami-takut-istri. Bapak Sumardiprojo menurut saja pada semua pendapat dan perilaku istrinya terhadapnya.

Selain kedua tokoh penting itu, yang cukup sering muncul adalah Sinshe Cen Lung (Henky Solaiman) sebagai tabib tradisional Cina yang mengobati Laksmi. Ia digambarkan sebagai tabib yang baik, dengan tidak meminta uang pada saat melihat Laksmi datang dengan keadaan menyedihkan dan memberikan referensi tempat pengobatan gratis untuknya.

Dominasi Maskulin Bourdieu dan Pengandaian

Pada akhirnya, saya melihat bahwa tokoh laki-laki utama yang diciptakan penulis naskah dalam filem-filem pendek ini memiliki peranan ‘merusak’ kehidupan para tokoh perempuannya. Posisinya adalah: apabila tidak ada para laki-laki itu, tentu kehidupan tokoh perempuannya, yang memang sudah menyedihkan, akan lebih baik.

Dominasi maskulin adalah salah satu buah pemikiran Pierre Bourdieu. Dominasi maskulin merupakan salah satu contoh penting dari kekerasan simbolik —kekerasan yang hampir tidak terlihat, ‘baik’, dialami sehari-hari dalam kehidupan sosial sehingga tidak lagi dirasakan sebagai sebuah kekerasan. Melalui konsep ini, Bourdieu menyatakan bahwa maskulinitas memiliki dua sisi yang saling terikat, bagaikan koin. Di satu sisi, maskulinitas adalah privilese, namun di sisi lainnya, ia merupakan sebuah jebakan (bagi laki-laki). Seperti halnya dalam filem PPC ini, laki-laki-dalam-filem ini sebagian besar memenuhi standar maskulinitas pada awal penemuannya, yang dikatakan Wikipedia meliputi tujuh area yang dirumuskan Janet Saltzman Chafetz dalam Handbook of the Sociology of Gender (1974, 35-36).

Walau tanpa semua tokoh laki-lakipun Sumantri tetap menderita kanker stadium tiga, coba bayangkan Cerita dari Pulau tanpa Rokim, suami yang merepresi keinginan Sumantri untuk tetap menjadi bidan di pulau itu? Ia tentu akan tetap bisa mengekspresikan kecintaannya terhadap Wulan, tetap menjaganya, tetap menjalankan apa yang diinginkannya, dan tidak membuat para perempuan penghuni pulau itu resah karena harus berhadapan dengan bidan baru. Atau, tanpa adanya Tommy, Nanda, dan Hasan? Wulan tentu tidak perlu punya pengalaman diperkosa dan aborsi. Atau dengan Pak Lurah dan polisi yang lebih baik? Tentu para pemerkosanya tak akan lolos atas nama uang. Apalagi kalau kesemua tokoh laki-laki itu tidak ada?

Cerita Yogyakarta tanpa Jay saja mungkin belum lengkap, perlu ketidakadaan semua tokoh laki-laki dalam filem ini baru para perempuannya akan baik-baik saja. Tetapi, marilah mengecualikan filem ini. Saya rasa keseluruhan tokoh filem ini sudah terlalu bobrok untuk diandai-andaikan tidak ada salah satu tokohnya pun. Semua karakternya terlalu bermoral bobrok dan, untuk menganalisis lebih lanjut, kenyataan bahwa filem ini tidak mampu menceritakan Yogyakarta dengan baik, membuat saya tidak dapat menganalisisnya dari perspektif gender.

Bagaimana kalau Esi tidak perlu tinggal bersama Narto? Mungkin ia tidak perlu kabur dari rumah yang melindunginya bersama Maesaroh, kemudian tidak perlu tinggal di rumah Cicih. Tentu dengan demikian Maesaroh tidak berkesempatan bertemu Mansur, hingga akhirnya ia di jual. Bahkan, Cicih mungkin tidak akan menderita akibat ditipu Mansur di Jakarta, karena apabila tidak ada Maesaroh, yang lebih diinginkan Mansur karena faktor uang, toh, Mansur tidak akan membawa Cicih ke Jakarta.

Tanpa Reno, Laksmi, mungkin, tidak akan mengidap AIDS dan, yang pasti, tidak perlu berhadapan dengan kedua mertuanya. Maka tak perlulah filem ini ada. Karakter-karakter laki-laki dalam filem-filem ini dibuat oleh untuk menindas karakter perempuannya.

Pengandaian di atas memang tidak menyelesaikan masalah apapun. Saya hanya berusaha mengilustrasikan bagaimana laki-laki ditindas para pembuat filem perempuan ini dengan ditokohkan sedemikian rupa. Apakah dengan menindas tokoh laki-laki yang mereka ciptakan kemudian mereka berhak menyatakan filem ini tentang para perempuan yang berdaya? Saya rasa tidak. Saya malah malu, terutama apabila dengan (balik) menindas laki-laki mereka merasa filem ini adalah filem tentang perempuan. Selain karena akhirnya sejumlah ulasan (terpublikasi/tidak) dan diskusi (formal/non-formal) mengatakan bahwa akhirnya filem ini malah menyudutkan perempuan dengan menggambarkan kemalangan-kemalangan tanpa solusi. Sebagai perempuan, saya juga malu karena akhirnya filem ini terlihat seperti lebih mementingkan isu ‘dari, oleh, dan untuk perempuan’ ketimbang menawarkan (pilihan) jalan keluar dari keterpurukan atau ketersudutan perempuan di Indonesia.[]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar