Jumat, 12 Juni 2009

Adat Tradisi Bourdeou

Resume Pustaka: Antara Adat Dan Tradisi: Sebuah Pemetaan Konsep
Oleh Andi Cipta Asmawaty
Sabtu, 13 Desember 2008 12:10
Problem membedakan antara kedua konsep yang saling berhubungan sering ditemui dalam tahap analisa data riset. Begitu pula memfungsikan konsep adat dan tradisi yang selalu membuat kesusahan peneliti ketika mengkerangka sebuah etnografi. Sederhananya, wikipedia membedakan konsep ini dari segi perlakuan masyarakat dan historisnya.

Tradisi berasal dari bahasa latin; Traditio, yang berarti kebiasaan. Definisi ini mengacu pada segala hal yang dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan kelompok tertentu. Bisa jadi dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama. Substansi tradisi adalah informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik secara lisan maupun tulisan. Sedangkan adat[1] merujuk pada gagasan kebudayaan yang terdiri dari sistem nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan dan hukum adat yang sering digunakan oleh suatu kelompok. Karena bermuatan norma, bila adat tidak dilaksanakan maka si pelaku akan mendapat ganjaran dan dianggap perilaku menyimpang (deviant)

Pertanyaannya selanjutnya, bagaimana posisi kedua konsep ini dalam alur sosiologi dan antropologi yang telah lama mematok kebudayaan dan masyarakat sebagai basis ilmunya? Para antropolog sepakat mengusung adat dan tradisi merupakan sisi kebudayaan yang harus digali lebih dalam pada subjek penelitian. Deskripsi dan eksplanasi kedua konsep ini membantu peneliti untuk memahami secara deep structure mereka.

Koentjaraningrat mendefinisikan adat melalui bentuk-bentuknya, seperti: adat menetap menikah, adat pertukaran gadis, adat sopan santun, adat pergaulan[2]. Jelas, adat bermuatan peraturan dan ganjaran. Berbeda dengan tradisi, yang tidak selalu dikaitkan dengan kebudayaan (yang biasanya berasosiasi dengan etnisitas), melainkan bisa jadi mengacu pada apapun yang menjadi kebiasaan. Seperti Bruno Latour yang selalu memadankan kata tradisi dengan konsep sainstis: "in the tradition of classical detective"[3].

Sosiolog juga tidak kalah mendefinisikan tradisi, seperti yang dikemukakan oleh Peter Berger. Menurutnya[4], tradisi berasal dari objektifikasi atas pengalaman yang terealisasi dalam bentuk bahasa. Kata-kata inilah yang bersinggungan pada nilai dan memiliki signifikansi luas pada setiap generasi baru atau bahkan terdifusi pada berbeda kolektif secara bersama-sama. Tidak berbeda dengan definisi versi Wikipedia, kata kunci tradisi menurut Berger, yakni transmisi pengetahuan. Pengetahuan yang datang pada generasi baru melalui jalur tradisi. Jadi, tradisi adalah wadah generasi sebelumnya untuk menyampaikan argument-argumennya pada generasi yang baru.

Tradisi yang identik dengan kebiasaan tidak hanya berupa gagasan, tetapi juga dipentaskan dalam praktik[5]. Praktik berasosiasi dengan ketidaksadaran dan lebih nampak. Konsep inilah yang menjadi "rebutan" para antropolog dan sosiolog dalam alur pengetahuannya.

Dalam perkembangan terbaru, tradisi yang dibawa oleh kaum sosio-antropologi klasik dihadang oleh penemu konsep habitus oleh Mauss dan Bourdieu. Sintesis mereka adalah kebiasaan dilaterbelakangi oleh praktik kolektif.

Perdebatan mengenai perbedaan antara habitus dan kebudayaan telah menjadi wacana antropologis dan sosiologis. Sekelompok sosiolog pengkaji pemikiran Bourdieu, Wilkes menemukan benang merah konsep habitus dengan kebudayaan yang diusung oleh Clifford Geertz. Menurut mereka, keduanya menggunakan konsep "disposisi" untuk menjelaskan habitus dan kebudayaan. Menurut Geertz, disposisi tersebut berbentuk sikap, mental, dan pikiran sedangkan bagi Bourdieu, "disposisi" itu berupa way of being dan keadaan kebiasaan.

Ada sejumlah alasan Bourdieu untuk penggunaan konsep "habitus"nya, yang tidak menggunakan "culture" yang jelas-jelas melakukan otokritik pada konsep "culture" ala Strauss, karena ia mencoba mengembang konsep "hexis" yang lebih dulu muncul daripada "culture" itu sendiri[6]. Benang merah antara habitus dan kebudayaan juga berhasil ditemukan oleh seorang antropolog bernama Sherry B. Ortner melalui konsep internalisasi. Menurutnya, gagasan habitus memiliki kesamaan dengan gagasan kebudayaan, yang dapat dilihat dari segala hal yang terinternalisasi[7].

REFERENSI

Austin, Terry. 2005. Hybrid Genres: Fieldwork, Detection, and Method of Bruno Latour. London: Sage Publications.

Berger, Peter. 1979. Society as Objective Reality, dalam Peter Berger and Thomas Luckmann. The Social Construction of Reality. USA: Penguin Books

Bourdieu, Pierre.1977. Outline Of A Theory of Practice. London: Cambridge Univ. Press

Bourdieu, Pierre. 1990. The Logic of Practice. California: Stanford Univ. Press

Geertz, Clifford. 1974 . Tafsir Kebudayaan (terj). Yogyakarta: Kanisius

Koentjaraningrat. 1992. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: PT Dian Rakyat

Ortner, Sherry B. 2006. Anthropology and Social Theory: Culture, Power, and The Acting Subject. London: Duke University Press

WEBSITE

http://id.wikipedia.org/wiki/Adat

http://id.wikipedia.org/wiki/Tradisi



[1] Menurut Jalaluddin Tunsam (seorang yang berkebangsaan Arab yang tinggal di Aceh dalam tulisannya pada tahun 1660), Adat berasal dari bahasa Arab. Adah yang berarti "kebiasaan-kebiasaan dari masyarakat".Di Indonesia kata Adat baru digunakan pada sekitar akhir abad 19. Sebelumnya kata ini hanya dikenal pada masyarakat Melayu setelah pertemuan budayanya dengan agama Islam pada sekitar abad 15-an. Kata ini antara lain dapat dibaca pada Undang-undang Negeri Melayu.

[2] Lihat Koentjaraningrat, 1992, 206

[3]Dalam Austin, 2005, 159

[4] Lihat Berger, 1979, 85-89

[5] Melalui bukunya Outline Of A Theory of Practice dan The Logic of Practice yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris oleh Richard Nice, Bourdieu menggunakan konsep "practice" untuk menjelaskan tindakan-tindakan praktis. "Practice" ini mengacu pada Theses on Feuerbach yang ditulis oleh Karl Marx. Karl Marx mengusung konsep "Praxis". Kata "praksis" berasal dari bahasa Yunani yang berarti pekerjaan, sebuah aktivitas, sebuah tindakan atau aksi. Bagi yang menelaah pemikiran Bourdieu terdapat perbedaan penggunaan kata. Richard Jenkins yang memilih "praxis" (praksis), sedangkan Grenfell dan Richard Harker menggunakan "practice" (praktik).

[6] lihat Barnard dalam 2005: 79-85

[7] lihat Ortner 2006: 78

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar