Jumat, 12 Juni 2009

REFORMASI BOURDEOU

Muthia Esfand

Dalam dunia sosiologi, nama Pierre Bourdieu nampaknya sudah tidak asing lagi. Sosiolog berdarah Perancis ini bahkan menjadi ikon gerakan anti globalisasi di negara asalnya. Salah satu pemikirannya yang cukup terkenal adalah teori habitus modal.

Ada tiga aspek utama yang menjadi inti teori ini, habitus, modal, dan ranah. Habitus adalah sekian produk perilaku yang muncul dari berbagai pengalaman hidup manusia. Habitus bisa dikatakan akumulasi dari hasil kebiasaan dan adaptasi manusia, yang bahkan bisa muncul tanpa ia sadari. Modal adalah segala aspek kebutuhan yang harus dimiliki dan diusahakan oleh setiap manusia demi menjaga kelangsungan hidupnya, baik yang bersifat fisik maupun tidak. Sedangkan ranah adalah ruang dan kesempatan yang melingkupi kehidupan manusia. Bourdieu merumuskan teori praktik sosialnya tersebut dalam sebuah persamaan matematis, yaitu : (Habitus x Modal) + Ranah = Praktik.

Praktik sosial merupakan akumulasi proses dari berbagai macam bentuk habits manusia, baik yang berupa pola pikir maupun tingkah laku. Habitus yang dikalikan dengan beragam modal yang dimilki, dalam suatu ranah tertentu akan menghasilkan produk berupa praktik sosial.

Menelaah sejarah reformasi kita tempo hari barangkali memang tidak ada habisnya. Bisa jadi karena reformasi menjadi satu diantara sekian momentum emas dalam sejarah bangsa ini. Momentum yang sedemikian cepatnya berubah menjadi catatan pilu sejarah. lagi-lagi rakyat hanya dibahagiakan sesaat, disemangati sesaat, dilambungkan impiannya sesaat. Ada banyak perspektif dan sudut pandang dalam menganalisis momentum reformasi yang telah berlalu itu. Satu hal yang masih menjadi pertanyaan besar adalah, apa yang salah dengan reformasi?

Masa-masa menjelang digulirkannya reformasi menjadi saat-saat tak terlupakan bagi banyak kalangan di negeri ini. Mahasiswa dengan jaringan pro demokrasi dan perubahan segera, akademisi yang sudah jenuh dalam kepura-puraan, rakyat yang semakin merasakan penderitaan akibat depresi ekonomi yang semakin mencekik leher, bahkan politisi bunglon yang mulai sibuk memasang mata telinga agar terselamatkan. Semua kalangan mulai bergerak dan menganalisa, dan ketika mahasiswa akhirnya memutuskan bahwa saatnya telah tiba maka reformasi pun bergulir ke permukaan.

Siapa yang meyangka jika semangat perubahan yang puritan itu cepat sekali berlalu disapu arus kuat dari para hypocrite pembonceng reformasi. Beragam tuntutan terlupakan, berbagai peristiwa kriminal ditutup begitu saja. Seolah menyaksikan sequel film thriller di layar televisi, jika film sudah usai cukuplah dengan mengganti channel maka acara lain pun bisa dinikmati. Hilang tanpa bekas.

Bila dikontekskan dengan pemikiran Bourdieu, akan tampak bahwa permasalahan utama gagalnya reformasi terletak pada aspek habitus. Cengkeraman tirani selama lebih dari tiga dasawarsa ternyata begitu kuat dan efektif untuk membentuk pakem kepribadian masyarakat yang cenderung anti perubahan, koruptif, nepotis, bahkan introvert. Selama bertahun-tahun masyarakat ditekan untuk tidak menentang pemerintah sekecil apapun, dibiasakan untuk saling memberi suap dan upeti pelicin borokrasi, diajarkan untuk mengakui bahwa segala kondisi yang terjadi adalah ketentraman dan kedamaian. Berbagai penindasan, kekerasan, dan ketidakadilan ditutup rapat.

Habitus inilah yang paling mendominasi masyarakat Indonesia, sehingga ketika semangat dan gelora muda mahasiswa sebagai arus perubahan mulai menyuarakan pekik reformasi, sambutannya jauh panggang dari api. Bahkan ketika para inteletual akademiai dan politisi pun mulai mengambil bahgian, lagi-lagi habitus aslinya lebih dominan.

Modal yang dimilki saat itu memang belumlah maksimal, akan tetapi sudah sangat mencukupi untuk suatu gerakan perjuangan bersama. Pihak-pihak pendukung reformasi sudah sedemikian signifikan dan progresif, bahkan bisa jadi tinggal menyisakan pemerintah tiran beserta kroninya dan massa mengambang. Kondisi ini turut dilengkapi dengan adanya ruang dan waktu yang sangat mendukung, saat depresi ekonomi mulai menyadarkan masyarakat akan ketimpangan dan kebobrokan yang telah sekian lama menggerogoti bangsa ini.

Modal mencukupi, ranahpun tersedia. Hanya satu masalahnya, habitus pelakunya masih produk lama. Masalah tidak adanya habitus yang kuat ini ternyata menjadi masalah pokok juga sampai detik ini. Bisa kita lihat deretan kasus dan permasalahan seperti korupsi, mafia peradilan, dan lain sebagainya adalah imbas dari budaya yang terinternalisasi selama tiga dasawarsa lebih tersebut.

Menegaskan kembali identitas dan jati diri bangsa barangkali penting untuk segera dilakukan. Habitus yang negatif perlu untuk segera ditandingi dengan habitus asli bangsa ini yang pastinya jauh dari kategori menindas.


Tuesday, November 07, 2006
NB: Tulisan lama juga niy...udah agak gak kontekstual memang, tapi gpp lah...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar