Jumat, 12 Juni 2009

MICHAEL FOUCOULT

Persahabatan sebagai Jalan Hidup

Wawancara dengan MICHEL FOUCAULT

T: Anda berusia 50'an. Anda juga pembaca "Le Gai Pied" yang sudah beredar selama 2 tahun belakangan. Apakah diskursus macam ini menurut Anda punya dampak positif bagi Anda sendiri?

F: Bahwa majalah seperti itu ada adalah adalah hal positif dan penting. Untuk menjawab pertanyaan Anda, saya dapat mengatakan bahwa saya tidak harus menjadi pembacanya hanya untuk menyatakan usia saya. Tapi membacanya memang memaksa saya untuk memikirkan kaitan pertanyaan tersebut; dan saya tidak begitu puas dengan cara saya digiring untuk menghadapinya. Sangat sederhana, saya tidak punya tempat di sana.

T: Mungkin masalahnya adalah kelompok usia dari kontributor dan pembacanya, yang kebanyakan berusia 25 sampai dengan 35 tahun.

F: Itu benar. Semakin majalah itu ditulis oleh anak muda semakin isinya akan mengenai anak muda. Tapi persoalannya bukan memberi satu ruang pada kelompok tertentu sambil menyampingkan yang lain, tapi bagaimana menghadapi persoalan quasi identifikasi antara homoseksualitas dan percintaan antara anak muda.

Satu hal lagi yang patut dicurigai adalah kecenderungan untuk mengaitkan persoalan homoseksualitas dengan permasalahan "Siapakah aku ?" dan "Apakah yang tersembunyi dari hasratku?". Mungkin akan lebih baik untuk menanyakan kepada diri sendiri "Hubungan macam apa yang bisa dibangun, diciptakan, dilipatgandakan dan disetarakan?" Persoalannya bukan menemukan dalam diri sendiri kebenaran tentang seks tapi menggunakan seksualitas untuk sampai pada bentuk hubungan yang berlipat ganda. Jelas itu adalah alasan kenapa homoseksualitas bukanlah bentuk hasrat tetapi sesuatu yang dihasratkan. Oleh karena itu kita harus bekerja untuk menjadi homoseksual dan tidak berhenti pada pengenalan bahwa kita adalah seorang homoseksual. Kecenderungan persoalan homoseksual sedang bergerak ke arah persahabatan.

T: Apakah Anda berpikir demikian ketika masih berusia duapuluhan atau Anda menemukannya jauh setelah itu?

F: Sejauh saya ingat, menginginkan anak laki-laki adalah menginginkan untuk punya relasi dengan anak laki-laki itu. Itu selalu jadi hal penting untuk saya. Tidak harus dalam bentuk pasangan, tapi sebagai eksistensi, bagaimana kemungkinan para lelaki untuk bisa bersama-sama? Hidup bersama, saling berbagi waktu, makanan, ruangnya, waktu senggangnya, kesedihannya, pengetahuannya, rahasia-rahasianya? Bagaimana menjadi telanjang di antara sesama lelaki di luar hubungan institusional, keluarga, profesi dan kesetiakawanan ( camaraderie ) yang mewajibkan? Ini adalah hasrat, ketidaknyamanan, hasrat dalam ketidaknyamanan yang hadir pada banyak orang.

T: Apakah orang bisa mengatakan bahwa hasrat, kesenangan dan hubungan yang dapat dijalin tergantung pada usia?

F: Ya, sangat. Antara seorang lelaki dan perempuan yang lebih muda hubungan dalam satu lembaga perkawinan menjadikan segalanya lebih mudah, perempuan itu dapat menerimanya dan menjadikannya berhasil. Tapi dua laki-laki dengan beda usia yang begitu terlihat, dengan kode bahasa apa mereka bisa berkomunikasi? Mereka saling menghadapi satu sama lain tanpa syarat atau kata-kata yang disepakati bersama, tidak ada satupun yang bisa menjaminkan kepada mereka apa makna dari ketertarikan yang telah menggerakkan mereka ke arah satu sama lain. Mereka harus menciptakan, dari A sampai Z, sebuah hubungan yang belum punya bentuk yakni persahabatan; atau dengan kata lain segala hal yang mereka perlu tempuh untuk memberikan kesenangan antara satu sama lain.

Salah satu kesepakatan yang dibuat orang dengan lainnya adalah tidak menampilkan homoseksualitas sebagai kenikmatan yang segera, dua lelaki muda bertemu di jalan, saling menggoda satu sama lain lewat tatapan, saling menggerayangi bokong mereka masing-masing kemudian menuntaskannya hanya dalam seperempat jam saja. Dari sana Anda bisa melihat gambaran rapi tentang homoseksualitas yang sudah dijauhkan dari kemungkinannya untuk menyebabkan ketidaknyamanan, dan karena dua hal: sebagai respon kepada puncak (canon) keindahan dan untuk menghapus hal-hal tidak nyaman dalam afeksi, kelembutan, kesetiaan, kesetiakawanan dan persahabatan. Hal-hal yang dalam masyarakat kita yang cenderung steril ini tidak lagi diberi tempat, karena khawatir dengan terbentuknya formasi persekutuan yang baru dan menyatunya ikatan kekuatan-kekuatan yang tidak terlihat sebelumnya. Saya kira itulah yang membuat homoseksualitas ini kerap dianggap "mengganggu": lebih karena cara hidup mereka dari pada tindakan seksualnya belaka. Membayangkan suatu kegiatan seksual yang tidak bersesuaian dengan hukum atau alam bukanlah hal yang menjadi masalah bagi orang. Tapi bagaimana individu-individu sejenis mulai saling mencintai satu sama lain, itu baru masalah. Institusi terperangkap dalam kontradiksi; ketegangan afektif menghadangnya tanpa henti dan terus mengguncangnya. Perhatikan dalam ketentaraan yang mana kasih sayang di antara laki-laki terus dibangkitkan dan dipermalukan tanpa henti. Kode-kode institusional tidak bisa meneguhkan relasi dengan ketegangan berlipatgAnda, bermacam warna, gerakan-gerakan yang tidak kasat mata dan bentuk-bentuk yang selalu berubah. Hubungan ini membuatnya mengalami korslet ketika mengenalkan cinta pada sesuatu yang harusnya hanya hukum, peraturan dan kebiasaan.

T: Anda pernah mengatakan "Daripada menangisi musnahnya kesenangan, saya lebih tertarik dengan apa yang kita bisa lakukan." Bisa Anda jelaskan secara lebih rinci?

F: Asketisme sebagai penolakan terhadap kesenangan punya konotasi jelek. Tapi hal lain dalam aksesis: yakni kerja yang dilakukan orang atas dirinya sendiri agar bisa mentransformasikan dirinya atau membuat diri jadi tampak lebih senang daripada sebelumnya.

Itukah masalah kita sekarang? Kita sudah menyingkirkan asketisme. Namun tergantung pada kita untuk masuk ke dalam askesis homoseksual yang dapat memberi kesempatan untuk menggarap diri sendiri dan menciptakan, saya tidak mengatakan menemukan, kata itu masih mengandung arti kalau ada kemungkinan yang bisa tidak terjadi.

T: Artinya homoseksual muda harus waspada pada pencitraan (imagerie) tentang homoseksual; dia harus mengerjakan hal lain juga?

F: Menurut saya, apa yang harus kita kerjakan adalah bukan hanya membebaskan hasrat tapi menjadikan diri semakin tidak membatasi daya tangkap kita atas kesenangan. Kita harus membebaskan diri dan membantu orang lain membebaskan diri dari dua rumusan siap pakai: perjumpaan seksual yang murni dan pencampuran identitas antara sepasang kekasih.

T: Apakah bisa melihat hasil awal dari hubungan konstruktif yang kuat di Amerika Serikat, pada kasus kota-kota yang tampak lebih bisa menangani kemalangan (misery) sekualitas?

F: Bagi saya tampak jelas di Amerika Serikat, bahkan kemalangan seksual dengan bentuk yang mendasarnya saja masih ada, minat kepada persahabatan menjadi semakin penting: orang tidak menjalin hubungan hanya untuk konsumsi seksual; yang pastinya sangat gampang. Tapi dalam menyikapi persahabatan orang bisa sangat berseberangan. Bagaimana lewat sistem relasional dapat dicapai melalui praktek-praktek seksual? Apakah mungkin menciptakan cara hidup (mode of life) seorang homoseksual?

Pengertian cara hidup ini penting untuk saya. Apakah hal ini akan memprasyaratkan sebuah perkenalan atas diversifikasi yang berbeda dari yang diberlakukan pada kelas sosial, profesi atau kultur, diversifikasi yang juga mengambil bentuk hubungan dan juga menjadi "jalan hidup" (way of life )? Jalan hidup dapat digarap bersama di antara individu-individu dari usia, status dan kegiatan sosial yang berbeda. Jalan hidup dapat menghasilkan hubungan yang tegang yang tidak mirip dengan hubungan yang diinstitusionalisasikan. Menurut saya jalan hidup dapat menghasilkan kultur dan etika. Alih-alih mengidentifikasikannya dengan ciri psikologis dan topeng homoseksual yang tidak kasat mata, saya kira, menjadi (to be) 'gay' adalah mencoba untuk mendefinisikan dan mengembangkan jalan hidup.

T: Bukankah semacam mitos untuk mengatakan: inilah kita yang sedang menikmati hasil awal dari sosialisasi antara kelas-kelas, usia dan bangsa yang berbeda-beda?

F: Ya, seperti juga mitos yang menyatakan: Tidak akan ada lagi perbedaan antara homo dan heteroseksualitas. Apalagi, saya kira itulah alasan mengapa homoseksualitas menjadi masalah hari ini. Berbagai gerakan pembebasan seksual membayangkan gagasan tentang "membebaskan dirimu dari batasan mengerikan yang membelenggumu" Akan tetapi penegasan bahwa untuk menjadi homoseksual adalah dengan menjadi seorang lelaki yang mencintai lelaki lainnya--pencarian jalan hidup ini menjadi harus berhadapan dengan ideologi gerakan pembebasan seksual ala '60-an. Dalam pengertian inilah 'klon-klon' berkumis menjadi penting. Hal ini menjadi cara untuk merespon: "Jangan khawatir, semakin seseorang terbebaskan, semakin orang itu akan tidak mencintai perempuan, semakin orang tidak akan membangun poliseksualitas sehingga tidak akan ada lagi perbedaan antara keduanya". Gagasan ini sama sekali bukan ide besar dari pembauran komunitas.

Homoseksualitas adalah peristiwa historis yang membuka kembali penampakan (virtualities) afektif dan relasional, tidak hanya melalui kualitas yang berada dalam homoseksualitas itu sendiri, tapi lebih pada bias terhadap posisi yang sedang ia tempati; dalam pengertian tertentu garis-garis diagonal yang dapat dia telusuri dari jalinan sosial mengijinkannya untuk menampakkan virtualitas ini.

T: Perempuan bisa saja mengajukan keberatan: apa yang membuat hubungan antara laki-laki menjadi diatas hubungan antara laki-laki dan perempuan atu antara dua orang perempuan?

F: Ada sebuah buku yang barusan terbit di Amerika Serikat tentang persahabatan antara dua perempuan (Faderman, L. 1980. Surpassing the Love of Men. New York: William Morrow). Afeksi dan hasrat di antara perempuan telah terdokumentasi dengan baik. Dalam bagian pengantarnya, si penulis menyatakan bahwa dia mengawalinya dengan gagasan untuk mengungkapkan hubungan homoseksual, namun apa yang dia terima kemudian tidak hanya berhenti temuan bahwa hubungan tersebut tidak selalu ada tapi juga tidak penting apakah hubungan itu disebut homoseksual atau tidak. Dan dengan membiarkan hubungan itu mengungkapkan dirinya sendiri lewat kata-kata dan bahasa tubuh hal-hal esensial lainnya juga bermunculan: pekat, menyilaukan, afeksi dan percintaan yang mengagumkan atau percintaan yang sangat suram dan menyedihkan. Buku tersebut menujukkan sejauh mana tubuh perempuan telah memainkan peran penting dan bagaimana kontak fisik antara perempuan adalah hal penting: perempuan saling merias rambutnya satu sama lain, saling mendAndani wajah, dan juga dalam mengenakan pakaian. Perempuan punya akses pada tubuh perempuan lainnya: mereka saling merangkul pundak, saling berciuman. Tubuh laki-laki merupakan wilayah yang sangat terlarang bagi laki-laki lainnya. Jika benar bahwa kehidupan antara perempuan lebih ditolerir, hal ini hanya berlangsung pada periode tertentu dan sejak abad ke-19 kehidupan antara sesama lelaki tidak lagi hanya ditolerir namun juga disokong: yakni dalam suasana perang.

Demikian juga di kamp-kamp penjara. Pada masa itu ada prajurit dan tamtama yang menghabiskan waktu bersama-sama selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun. Selama PD I laki-laki sepenuhnya hidup bersama, satu di atas yang lain, dan bagi mereka itu bukan hal penting, dalam bayangan kematian pengabdian antara satu sama lain dan pelayanan yang berlangsung didalamnya lebih ditentukan permainan hidup mati. Di luar beberapa pernyataan tentang kesetiakawanan, semangat persaudaraan dan beberapa amatan yang sangat parsial, apa yang kita ketahui dari hiruk-pikuk emosional dan badai perasaan yang terjadi pada masa itu? Dapat dibayangkan bagaimana dalam perang yang absurd dan mengerikan ini, dalam pembantaian kejam ini, para lelaki itu bisa bertahan. Lewat jalinan emosional pastinya. Tentunya saya tidak sedang mengatakan bahwa mereka sedang berperang demi kekasihnya. Tapi kehormatan, keberanian, tidak kehilangan muka, pengorbanan, meninggalkan parit perlindungan bersama dengan sang kapten--semuanya meanndakan ikatan emosional yang dalam. Bukan untuk menyatakan: 'Nah, itu namanya homoseksualitas!' Saya jijik dengan penjelasan semacam itu. Tapi jelas dari sana ada satu dari beberapa kondisi, bukan satu-satunya, yang mengindahkan kehidupan seperti di neraka itu di mana para lelaki itu selama berminggu-minggu harus bergelimang lumpur dan tahi, di antara mayat-mayat, kelaparan dan bangun dalam keadaan mabuk pada suatu serangan pagi.

Akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa sesuatu seperti publikasi yang merefleksikan tentang kesukarelaan dapat membuka ruang bagi kultur homoseksual, yaitu sebagai perangkat dari hubungan yang banyak bentuk, bervariasi dan termodulasi secara individual. Tapi gagasan untuk melanjutkan ini menjadi program yang diprakarsai secara formal adalah berbahaya. Seketika prakarasa tersebut diajukan, maka ia menjadi hukum dan memberlakukan larangan terhadap penciptaan (lainnya). Harus ada daya cipta yang khusus untuk situasi seperti kita dan juga dalam dorongan-dorongan yang di Amerika dinamakan "coming out" atau mengungkapkan identitas seksual ini. Program ini harus terbuka. Kita harus menggali dalam-dalam untuk menunjukkan bagaimana hal-hal berlangsung dalam kontingensi kesejarahan, karena hal tersebut bermakna dan bukan karena kebutuhan semata. Kita harus memunculkan makna dihadapan latar kekosongan dan tidak menjadikannya sebagai keharusan. Kita harus berpikir bahwa apa yang ada sekarang masih sangat jauh dari mengisi kemungkinan yang ditawarkan oleh ruang-ruang. Untuk membuat sebuah pertanyaan menjadi tantangan yang tak dapat pelak lagi: apa yang bisa kita bikin agar bekerja, permainan baru apa yang bisa kita ciptakan?

Diterjemahkan oleh FERDI TAJIB dari Michel Foucault, 1989. "Friendship as a Way of Life" dalam Sylvére Lotringer (Ed.) Foucault Live: Interviews, 1961-1984. New York: Semiotext(e). Hal. 308-312.

Alamat halaman ini: http://kunci.or.id/esai/misc/ferdi_foucault.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar