Jumat, 12 Juni 2009

Strukturasi Cina

Secara garis besar ajaran Kung Fu Tze dapat dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda namun saling melengkapi, yaitu pemikiran Kung Fu Tze tentang Manusia dan pemikirannya tentang Masyarakat. Kedua ajaran ini, Manusia dan Masyarakat, mengarahkan pada bentuk yang ideal.

Pemikiran ini muncul setelah Kung Fu Tze melihat kekacauan dalam masyarakat, dimana terdapat banyak peperangan, yang berakibat muncul masalah anarki sosial. Satu sisi Kung Fu Tze tidak setuju dengan pemikiran pada realis yang mendahulukan kekuatan atau kekerasan dalam menegakkan kepatuhan. Dilain pihak Kung Fu Tze juga tidak terlalu setuju dengan konsep cinta kasih yang dipaparkan oleh kaum Mohisme karena cinta kasih yang tidak mengenal perbedaan akan menyebabkan kemerosotan nilai.

Kung Fu Tze melihat ada satu titik terang dalam mengatasi masalah yang dihadapi oleh masyarakatnya pada saat itu, yaitu menemukan kembali “lem perekat” yang selama ini telah hilang. Perekat yang dapat menyatukan kembali setiap elemen yang ada dalam masyarakatnya agar kembali berfungsi sebagaimana layaknya sebuah masyarakat.

Kung Fu Tze menyadari bahwa “lem perekat” tersebut adalah Adat Istiadat. Ada dua fungsi penting adat istiadat, pertama adalah kemampuan adat istiadat yang luar biasa untuk mengendalikan perbuatan-perbuatan yang bersifat asosial. Kedua, tahap sosialisasi dari adat istiadat ini berjalan dengan spontan tanpa pemikiran khusus. Anggota masyarakat menerima adat istiadat itu tanpa bertanya dan tanpa sadar. (Smith,1999,197)

Pada masa Kung Fu Tze, seperti telah diceritakan pada bab ini, terjadi banyak peperangan dan penurunan moral. Kejadian ini disebabkan karena telah menurunnya rasa kebersamaan yang diwujudkan dalam bentuk adat istiadat atau tradisi. Walter Lippmann mengatakan bahwa ketika tradisi mulai ditinggalkan dalam masyarakat maka masyarakat tersebut dalam keadaan terancam. Dan jika terputusnya kesinambungan tradisi itu tidak diperbaiki maka masyarakat tersebut akan terjerumus kedalam peperangan antar golongan.

Manusia dan masyarakat merupakan suatu elemen yang tidak dapat dipisahkan bagi Kung Fu Tze, seperti yang diungkapkan oleh Chen Jingpan bahwa Masyarakat harus menyesuaikan diri pada individu untuk menghindari stagnasi, dan individu pun harus menyesuaikan diri pada masyarakat untuk menjadi manusia, dan individu tidak bisa hidup atau berkembang tanpa bantuan masyarakat. (Jingpan, 1994, 175).

Adat istiadat atau tradisi bagi Kung Fu Tze merupakan sumber perekat dalam masyarakat. Ia sendiri amat tertarik akan tradisi, sebagai jawaban sebenarnya terhadap masalah sosial. Kung Fu Tze percaya bahwa bangsa Cina pernah mengalami masa keselarasan yang agung dan tradisilah yang menciptakan abad gemilang tersebut.

Kung Fu Tze memang memimpikan kejayaan masa lampau, dan menginginkan agar masa itu terulang kembali, namun Ia sungguh hidup dalam zamannya, yang waspada melihat hal-hal baru yang menyebabkan zamannya berbeda dengan zaman yang lampau. Kung Fu Tze sadar bahwa tidak semua tradisi lama itu bisa diterapkan terus untuk masa sekarang. Tradisi harus mengalami penyesuaian sedangkan yang harus dijaga adalah kesinambungan tradisi itu agar terus hidup dalam masyarakat.

Kung Fu Tze selalu mempertimbangkan hal-hal baru yang mnyebabkan tradisi lama tidak bisa lagi dijalankan, kemudian Ia melakukan penafsiran kembali yang disertai perubahan-perubahan. Bukti otentik dari penyesuaian itu Ia mengeluarkan 6 buah kitab klasik yang Ia rangkum dari banyak tradisi-tradisi masa lampau yang Ia nilai masih relevan terhadap kehidupan di masanya.

Tradisi ini akan berjalan baik dalam masyarakat apabila ada kesadaran dalam diri manusia yang ada dalam masyarakat. Dengan kata lain tradisi akan berjalan jika manusia yang ada dalam masyarakat mau menjalankannya secara sukarela tanpa paksaan dan sadar bahwa tradisi itu penting bagi kehidupannya dalam masyarakat.

Penjelasan diatas menunjukkan bahwa dibutuhkan orang-orang yang cinta akan kebenaran, patuh terhadap adat istiadat, dan selalu melakukan kebajikan. Maka untuk mewujudkan suatu bentuk masyarakat yang ideal dibutuhkan suatu wujud manusia yang ideal pula. Manusia ideal disini adalah manusia yang sangat sadar akan keberadaannya didalam masyarakat. Mereka adalah manusia yang telah mengerti akan jalan hati, rahasia transformasi benda-benda, sebab dari yang misterius dan kudus, lalu menyesuaikannya dengan sumber dan prinsip peredaran (prinsip yang mengatur hidup dan mati ). Hanya oleh ini manusia direalisasikan. Jadi seorang mengetahui “jalan langit” dan dalam hidupnya melaksanakan kebijakan kemanusiaan yang sempurna (jen) dan keadilan dalam hubungan antarpribadi (yi); ia menghiasi dirinya dengan ritus dan musik. Kemanusiaan, keadilan, ritus dan musik: inilah kebajikan dari orang yang telah mewujudkan dirinya; pengetahuan akan prinsip spiritual tentang transformasi: inilah yang menunjukkan keberhasilan kuasanya. Manusia seperti inilah yang oleh Kung Fu Tze dinamakan Chun Tzu.

Daftar Rujukan

Jingpan, Chen. (1994). Confucius As A Teacher. 2nd Ed. Beijing: Foreign Languages Press
Smith, Huston. (1999). Agama-agama Manusia. ed.5. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar