Jumat, 12 Juni 2009

Dramaturgi Ervin Goffman

Teater Kematian Soeharto

Oleh DEDDY MULYANA

Wafatnya mantan Presiden RI Soeharto telah menyita begitu banyak perhatian kita. Fenomena sosial tersebut dapat ditafsirkan dengan berbagai perspektif, keagamaan (spiritual), hukum, politik, sosial-budaya, klenik, ilmiah, dan sebagainya. Kematian Pak Harto, khususnya via TV, menarik diikuti karena mengandung aspek-aspek yang memenuhi naluri kita sebagai khalayak media, yang salah satunya adalah drama (tragedi). Dari perspektif ilmiah misalnya, pendekatan dramaturgi dari sosiolog Amerika Erving Goffman (1959) sangat potensial untuk menganalisis ritual kematian Soeharto.

Goffman adalah penafsir brilian teori interaksi simbolik George Herbert Mead (1934). Sebagaimana Mead, Goffman sangat menekankan makna sosial dari (konsep) diri karena individu mengambil peran orang lain dan bergantung pada orang lain untuk melengkapkan citra-diri tersebut. Namun, kontras dengan diri Mead yang stabil dan sinambung selagi membentuk dan dibentuk masyarakat secara jangka panjang, diri Goffman bersifat situasional karena selalu dituntut oleh peran-peran sosial berbeda dalam episode-episode pendek.

Menurut Goffman, kehidupan sosial itu dapat dibagi menjadi "wilayah depan" (front region) dan "wilayah belakang" (back region). Wilayah depan adalah tempat atau peristiwa sosial yang memungkinkan individu atau suatu tim menampilkan peran formal atau bergaya, bak memainkan suatu peran di atas panggung sandiwara. Sebaliknya, wilayah belakang adalah tempat atau peristiwa yang memungkinkan mereka mempersiapkan peran di wilayah depan. Wilayah depan ibarat panggung depan (front stage) yang ditonton khalayak, sedangkan wilayah belakang ibarat panggung belakang (back stage) atau kamar rias tempat pemain sandiwara bersantai, mempersiapkan diri, atau berlatih untuk memainkan perannya di panggung depan.

Menggunakan pandangan Goffman, kebanyakan atribut, milik (rumah dan perabotannya, mobil, busana), dan perilaku manusia digunakan untuk presentasi diri, termasuk cara berjalan dan berbicara, pekerjaan dan cara menghabiskan waktu luang, untuk memberi tahu orang lain siapa kita dan mengendalikan pengaruh yang akan ditimbulkan busana, penampilan, dan kebiasaan kita terhadap orang lain supaya orang lain memandang kita sebagai orang atau tim yang ingin kita tunjukkan.

Dalam kebanyakan kasus, pelaku dan khalayak mencapai apa yang Goffman sebut "konsensus kerja" (working consensus) mengenai definisi atas satu sama lain dan situasi yang kemudian membimbing interaksi mereka. Seperti aktor panggung, aktor sosial membawakan peran, mengasumsikan karakter, dan bermain melalui adegan-adegan ketika terlibat dalam interaksi dengan orang lain. Meskipun Goffman mengakui bahwa drama kehidupan sosial sehari-hari lebih penting daripada produksi teater bagi mereka yang melaksanakan dan menyaksikannya, Goffman menunjukkan bahwa kedua jenis drama tersebut menggunakan teknik yang sama, aktor sosial seperti aktor teater bergantung pada busana, make up, pembawaan diri, dialek, pernak-pernik, dan alat dramatik lainnya untuk memproduksi pengalaman dan pemahaman realitas yang sama.

Goffman sebenarnya secara intrinsik menekankan karakter yang kooperatif dan moral interaksi manusia. Ia menunjukkan bahwa pertunjukan timbal balik menciptakan aturan-aturan yang secara timbal balik diterima yang membentuk basis interaksi sosial yang tertib. Ia tidak bermaksud mengatakan bahwa semua perilaku manusia adalah berpura-pura, tidak jujur atau untuk menipu. Dengan kata-kata Cahill (1998), "Saya mempertunjukkan bagi Anda dan menyajikan diri saya dengan cara yang saya pilih. Anda mempertunjukkan bagi saya dan menyajikan diri Anda dengan cara yang Anda pilih. Sebagian dari pertunjukan ini jujur, sebagian lagi tidak jujur. Akan tetapi, bila tidak terdapat bukti penipuan maka kita sepakat menghormati pertunjukan satu sama lain dan memperlakukan satu sama lain."

Dengan kata lain, tidak semua presentasi diri adalah misrepresentasi diri, orang ingin dan dapat menunjukkan siapa dirinya sebagaimana ia ingin dan dapat menyembunyikannya. Pemainan yang menipu, penipuan, sinisme, dan pengkhianatan memang dilakukan melalui dramaturgi, tetapi begitu juga cinta, kebenaran, ketulusan, dan keotentikan (Brissett dan Edgley, 1990). Bagaimana orang tahu bahwa kita orang yang ramah kecuali memang kita harus bersikap ramah baik secara verbal ataupun nonverbal, yang memungkinkan orang lain mendefinisikan siapa kita.

**

Dalam kehidupan manusia, salah satu peristiwa paling dramatis adalah upacara kematian. Dalam hasil penelitiannya tentang upacara kematian Amerika yang klasik, "Death as Theater: A Dramaturgical Analysis of the American Funeral", Ronny Turner dan Charled E. Edgley dalam jurnal Sociology and Social Research (1976) melukiskan bagaimana para penyelenggara upacara kematian di Amerika yang dibayar keluarga mendiang mendandani mayat sedemikian rupa agar tampak bersih dan damai ketika dilihat para pelayat, meskipun tubuhnya sudah rusak bahkan diolok-olok saat dibersihkan dan dirapikan di panggung belakang, dan meskipun si mayat punya sisi kehidupan yang gelap pada masa lalunya.

Mereka juga tidak jarang melatih keluarga mendiang untuk bersikap sedemikian rupa di depan publik, bahkan kalau perlu menangis agar mereka tampak begitu mencintai dan kehilangan si mati. Mereka memilih peti mati tertentu untuk menunjukkan status mendiang dan menyewa kelompok musik tertentu (kalau perlu yang mahal) untuk melengkapi upacara itu agar tercipta kesan bahwa si mayat sekadar sedang istirahat atau tidur dengan damai, misalnya melalui lagu "Death is Only a Dream" atau "It is not Death to Die."

Jika ritual umumnya memungkinkan para pesertanya berbagi komitmen emosional dan menjadi perekat bagi kepaduan mereka, terlebih lagi ritual kematian. Bukanlah substansi kegiatan ritual itu sendiri yang terpenting melainkan makna simbolisnya yakni bahwa manusia adalah "makhluk agung" yang diciptakan oleh sesuatu yang lebih Agung lagi daripada manusia itu sendiri, yang bersifat "Maha".

Ritual kematian menunjukkan bahwa si mati, terlepas dari banyaknya kesalahan yang pernah dilakukannya, diterima dalam keluarga yang mencintainya dan diakui oleh kelompok yang pernah memperoleh jasa darinya atau bersumpah setia kepadanya.

Maka, pada minggu terakhir Januari ini kita menyaksikan kematian Soeharto yang diupacarakan secara resmi kenegaraan, meskipun perannya sebagai kepala negara selama 32 tahun sangat kontroversial, berjasa besar bagi bangsa Indonesia tetapi juga dianggap membangkrutkan bangsa ini.

Di kediaman Soeharto di Jakarta, mendiang dilepas oleh inspektur upacara ketua DPR Agung Laksono. Putra-putri mendiang tak lupa melewati usungan jenazah Soeharto dari bawah untuk menunjukkan bahwa mereka ikhlas melepas ayah mereka. Dalam upacara di Astana Giribangun, Presiden SBY dan putri sulung Soeharto, Siti Hardianti Rukmana, memberikan sambutan dalam upacara kematian tersebut di Astana Giribangun Karanganyar Jateng, dan menegaskan bahwa Soeharto meninggal dengan tenang.

SBY khususnya mengatakan bahwa Soeharto adalah putra terbaik bangsa. Stasiun Metro TV bahkan memperdengarkan lagu "Gugur Bunga" berulang-kali seusai penayangan upacara tersebut, mengisyaratkan bahwa Soeharto adalah seorang pahlawan.

Kita memang bukan makhluk rasional semata-mata. Bila segala kegiatan manusia harus rasional, mengapa kita harus melakukan upacara pemakaman yang melibatkan begitu banyak orang dan menghabiskan begitu banyak biaya? Mengapa mayat Pak Harto harus dibersihkan dan didandani terlebih dulu? Mengapa harus ada begitu banyak ritual sebelum, selama, dan setelah pemakamannya?

Agama Islam yang dianut dan budaya Jawa Pak Harto tentu saja dapat memberikan penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan itu. Akan tetapi, sebagaimana diisyaratkan Ralph Ross (1957), upacara kematian menegaskan kembali tempat manusia dalam masyarakat, keluarga, persahabatan, dan dalam cinta. Hal itu juga menegaskan kembali jati diri manusia, kekhususan hidupnya, kesenjangan yang ia tinggalkan dalam kehidupan orang lain.

Seorang manusia bukan seperangkat mesin dan tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh orang lain. Setiap manusia itu unik dan keunikannya juga diperingati kembali. Menururt Ross, masyarakat menyatakan kepeduliannya kepada setiap anggotanya dan para penerusnya lewat upacara pemakaman. Masyarakat menegaskan kematian seorang manusia dan kesinambungannya dalam memori dan pengaruh, dalam keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan masyarakatnya sendiri.

Oleh karena itu, sebagaimana dilukiskan Ross, beralasan bila dalam "Hamlet" karya sastra Shakespeare yang legendaris itu, penutupnya bukanlah kematian sang pangeran melainkan pemakaman tentara yang simbolis dan orasi yang disampaikan penerus Hamlet, Fortinbras. Makna hidup Hamlet dikemukakan dan kebajikan-kebajikannya dipuji. Ia bukan hanya seorang pangeran, namun pangeran yang satu ini, dan kematiannya membuat negerinya kehilangan dia.

Mirip dengan pemakaman Hamlet, dalam pemakaman Soeharto, tidak mengherankan bahwa jasa-jasa besarnyalah yang ditonjolkan, bukan kesalahan-kesalahannya. Seperti diakui putri Soeharto, Mbak Tutut, dalam pemakaman Soeharto di Astana Giribangun Karanganyar, sebagai manusia biasa Pak Harto tidak luput dari kesalahan dan karenanya mohon dimaafkan.

Namun, dibandingkan dengan pemakaman Hamlet, ada sedikit yang berbeda dalam pemakaman Soeharto. Para pemainnya jauh lebih banyak dan ucapan serta tindak-tanduk mereka jauh lebih semarak. Lebih spesifik lagi, dalam drama kematian Soeharto yang kolosal itu, ada drama-drama lain yang dimainkan oleh individu-individu atau tim-tim kecil.

Bahkan, para pemain tersebut juga termasuk orang-orang yang semula menghujat Soeharto. Maka, kita melihat ucapan belasungkawa bertebaran di media massa, dari perusahaan, organisasi, atau individu. Karangan-karangan bunga berdatangan baik ke rumah sakit, ke kediaman mendiang di Jln. Cendana Jakarta, ataupun di peristirahatannya yang terakhir di Astana Giribangun. Para pejabat penting atau mantan pejabat penting menghadiri pemakamannya, termasuk dari negara-negara asing. Sejumlah orang yang dulu dizalimi Soeharto pun dikabarkan memaafkan Soeharto setelah Soeharto wafat. Semua itu boleh jadi dimaksudkan agar khalayak punya kesan positif terhadap individu-individu, tim-tim, atau lembaga-lembaga tersebut.

Betapa pun, sebagai teater kehidupan, kemegahan upacara kematian manusia, termasuk upacara kematian Pak Harto, tidak selalu berkorelasi dengan derajat penerimaan Dia yang memiliki kehidupan, meskipun kita berdoa semoga ada korelasinya dalam kematian Pak Harto. Allah boleh jadi memandang baik orang mati, meskipun ia diantar sedikit orang, dan sebaliknya memandang buruk kematian yang diantar oleh sedemikian banyak orang, termasuk oleh orang-orang penting.

**

Teori dramaturgi Erving Goffman sebenarnya tidak baru sama sekali. Empat belas abad lalu Allah SWT juga telah mengingatkan lewat Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw bahwa kehidupan di dunia ini adalah panggung sandiwara, meskipun Ia menggunakan istilah-istilah lain, misalnya, "Dan kehidupan dunia hanyalah kesenangan tipuan." (Ali-Imran: 185), "Sungguh, kehidupan di dunia hanyalah permainan dan kegembiraan sia-sia. Tetapi jika kamu beriman dan menjaga diri dari kejahatan. Akan diberi-Nya kamu pahalamu." (Muhammad: 47), dan "Kehidupan dunia ini dibandingkan dengan kehidupan akhirat hanyalah kesenangan yang sedikit." (Arrad: 26).

Jabatan kekuasaan atau gelar akademis setinggi apa pun, kekayaan, rumah megah, dan mobil semewah apa pun takkan berguna dalam kehidupan sejati yang akan kita jalani kelak jika kita dalam hidup kita di dunia sekarang ini jauh dari-Nya.

Jika kita tidak menyadari bahwa kehidupan sesungguhnya adalah kehidupan akhirat, celakalah kita. Di dunia ini pada akhirnya kita tak bisa pergi ke mana-mana, kecuali kepada-Nya. Allah menyeru, "Ke mana kamu akan pergi?" (Attakwir: 26), dan "Sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah." (Albaqarah: 156), apakah kita rela atau tidak.

Oleh karena itu, seyogianyalah kita pulang ke haribaan-Nya dengan jiwa yang murni, sebagaimana Allah menyeru, "Wahai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku." (Alfajr: 27-30).***

Penulis, Guru Besar Fikom dan Program Pascasarjana Unpad.

Penulis:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar