Jumat, 12 Juni 2009

Feminisme Eksistensial

Eksistensialisme merupakan suatu aliran dalam ilmu filsafat yang menekankan pada manusia, dimana manusia dipandang sebagai suatu mahluk yang harus bereksistensi, mengkaji cara manusia berada di dunia dengan kesadaran. Jadi dapat dikatakan pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkret.

Ada beberapa ciri eksistensialisme, yaitu, selalu melihat cara manusia berada, eksistensi diartikan secara dinamis sehingga ada unsur berbuat dan menjadi, manusia dipandang sebagai suatu realitas yang terbuka dan belum selesai, dan berdasarkan pengalaman yang konkret.

Jadi dapat disimpulkan bahwa eksistensialisme memandang manusia sebagai suatu yang tinggi, dan keberadaannya itu selalu ditentukan oleh dirinya, karena hanya manusialah yang dapat bereksistensi, yang sadar akan dirinya dan tahu bagaimana cara menempatkan dirinya.

Dari paradigma ini yang menarik adalah adanya suatu penekanan pada keberadaan manusia di dunia ini yang terus berkesadaran secara terarah. Dan dari eksistensialisme ini pula ditekankan pentingnya eksistensi bukan essensi yang selalu diagung-agungkan pada jaman modern, sesuatu harus dilihat nomenanya, sedangkan pada eksistensialisme yang harus dilihat fenomena dahulu baru setelah itu selesai boleh melihat nomena.

Manusia memang sejak lahir telah diberikan kebebasan untuk memilih jalan hidupnya, mereka diberi kebebasan untuk mengatur dirinya, yang kemudian akan menentukan eksistensinya di dunia ini.

Terlepas dari itu semua yang cukup menarik adalah bagaimana cara manusia berada di dunia ini, salah satunya Jean Paul Sartre yang mengungkapkan ada tiga tipe keberadaan manusia di dunia ini yaitu :

Being in itself, merupakan suatu gagasan metafisika/ ontologi yang melihat ada yang padat dan penuh.

Being for itself, ada yang bercelah atau tidak penuh dikarenakan sebagai manusia kita tidak sempurna selalu ada kekurangannya, dan oleh karena itu manusia dilahirkan untuk bebas dan berkesadaran

Being for others, lebih ditekankan pada relasi sosial dimana manusia saling mengobyekkan satu sama lain, subyek berusaha mengobyekkan subyek lain.

Menurut Sartre manusia yang bereksistensi adalah manusia yang bisa membuktikan bahwa dirinya bisa sebagai being for itself terutama setelah dihadapkan pada situasi yang genting.

Dari segi feminisme dilihat bahwa perempuan selalu menjadi obyek terutama di dunia yang sifatnya sangat patriarkal ini, maka dari itu salah satu tokoh feminisme eksistensialis yaitu Simone de Beauvoir mengatakan bahwa dunia perempuan selalu akan dimasukkan kedalam dunia laki-laki sebagai bukti penguasaan laki-laki terhadap perempuan. Dan Beauvoir memberi contoh pada institusi pernikahan yang sebenarnya lembaga yang merebut kebebasan perempuan.

Simone de Beauvoir menulis sebuah buku yang diberi judul The Second Sex yang secara garis besar diungkapkan tentang bagaimana manusia perempuan itu dijadikan obyek pada dunia laki-laki ini. Beauvoir melihat dari 3 sisi yang diungkapkan dalam 3 bagian bukunya, yaitu melalui takdir dan sejarah, disini Dia melihat adanya alasan-alasan biologis yang dituduh sebagai sebab terobyekannya perempuan. Banyak bukti-bukti biologis yang diungkapkan oleh para ahli biologi laki-laki yang mendiskreditkan perempuan, seperti kecilnya volume otak perempuan sehingga perempuan dianggap tidak bisa menerima hal-hal yang eksakta sifatnya. Beauvoir mengkritik hal ini dengan mengatakan bahwa perempuan tidak bisa didefinisikan melalui tubuh saja tetapi harus dilihat juga melalui manifestasinya lewat kesadaran yang disalurkan melalui aktifitas-aktifitas sosial.

Demikian juga dilihat dari mitos-mitos yang dikenakan pada perempuan, dimana mitos perempuan adalah ibu rumah tangga yang baik yang mengasuh anak-anak dirumah, tidak perlu berkarir diluar rumah, Ada hal yang cukup menarik bagi saya berkenaan dengan eksistensialisme ini yaitu mengenai gagasan malafide, yaitu suatu bentuk manusia yang kalah dalam proses mempertahankan eksistensinya. Malafide ini suatu bentuk manusia munafik yang lebih suka untuk diatur, yang lebih suka untuk digariskan jalan hidupnya, mereka tidak mau menerima tanggung jawab yaitu kebebasannya.

Seperti telah disinggung diatas bahwa manusia dilahirkan bebas dan manusia berhak menentukan arah kehidupannya, demikian juga perempuan, menurut Beauvoir, harus diberikan kebebasan yang sama dengan kebebasan yang diberikan pada laki-laki untuk menentukan kehidupannya sendiri. Maka bagi Beauvoir institusi pernikahan merupakan suatu institusi yang merenggut kebebsan perempuan, dimana perempuan dengan suka rela menukarkan kebebasannya dengan ketenangan, kemapanan, kepuasan dalam berumah tangga.

Dalam kesempatan lebih lanjut Simone de Beauvoir mengemukakan ada tiga ciri perempuan yang malafide, yaitu :

The Prostitute, dimana mereka selalu dengan rela dijadikan obyek bagi laki-laki, terutama mereka rela dijajah dari sudut tubuh dan sex.

The Narcistic, Banyak perempuan yang menjadi sadar akan penampilannya sehingga mereka berusaha untuk memperbaiki penampilannya yang sesungguhnya merupakan jalan agar perempuan tadi indah untuk dilihat oleh laki-laki. Dengan kata lain laki-laki akan lebih terpuaskan menjadikan perempuan sebagai obyeknya.

The Mystic, Perempuan yang menaggap dirinya lebih baik dari perempuan lain karena mereka patuh pada ajaran norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat, mereka dituntut untuk menjadi perempuan yang ideal.

Simone de Beauvoir mengungkapkan bahwa perempuan yang sadar akan kebebasannya, mereka akan dapat dengan leluasa menentukan jalan hidupnya, sehingga menurut Beauvoir perempuan dapat pergi bekerja dan mengkatualisasikan diri secara maksimal, perempuan bisa menjadi intelektual dan tidak perlu khawatir akan kemampuannya jika dilihat dari keterbatasan biologisnya. Dan yang terpenting perempuan harus dapat menolak dijadikan obyek, perempuan juga bisa mengobyekkan laki-laki.

Hal yang menarik bagi saya untuk mengamati fenomena saat ini adalah keberadaan perempuan terutama di Indonesia yang masih senang untuk menjadi obyek laki-laki, in terbukti dari penampilan mereka yang berusaha menunjukkan kemolekan tubuhnya dan seperti dengan sengaja menunjukkannya pada laki-laki, mereka berusaha untuk membentuk tubuh mereka agar terlihat molek dengan berbagai produk yang ditawarkan.

Padahal saya sangat percaya bahwa perempuan pasti diciptakan bukan untuk melakukan kegiatan yang sia-sia seperti itu. Saya sangat ercaya bahwa perempuan diciptakan mempunyai potensi yang hebat, yang terkadang apabila dioleh dengan baik dengan kesadran yangtinggi dari perempuan itu sendiri, mereka dapat melebihi kemampuan laki-laki. Banyak sudah contoh yang dapat membuktikan hal ini, seperti dari segi pemikiran Simone de Beauvoir sendiri bisa dijadikan contoh, dari segi ilmu eksakta pun banyak. Bahkan astronot pun ada, namun jika dilihat dari segi jumlah memang masih sangat kurang perempuan yang berprestasi dibandingkan laki-laki, hal ini bisa disebabkan karena sudah terlalu lamanya dunia dikuasai oleh laki-laki, sehingga eksistensi perempuan terhambat.

Namun saya percaya tidak pernah ada kata terlambat, perempuan masih bisa memajukan dirinya dengan segala potensi yang ada, dan dari perempuan sendirilah hal itu bisa terwujud. Yang terpenting adalah membangkitkan kesadaran kaum perempuan akan keberadaannya didunia ini, terutama golongan perempuan biasa yang golongannya paling banyak dibandingkan perempuan akademisi dan aktifis. Untuk itu perlu ditingkatkannya kesadaran terutama dari perempuan akademisi yang sekarang ini sudah cukup banyak namun kesadarn akan ke-feminis-annya masih dirasa kurang, terbukti masih banyakknya perempuan yang memiliki pendidikan tinggi namun mereka masih dengan suka rela diobyekkan atau ditindas secara moral oleh laki-laki.( banyak wanita yang menjadi the narcistic dan the mystic dalam dunia akademis)

Hal yang masih mengganjal dari saya mengenai eksistensialisme yang berorientasi pada feminisme ini adalah kecurigaan yang amat sangat terhadap lembaga pernikahan dan keluarga, dimana ketika sudah menikah perempuan akan menjadi pihak yang diobyekkan oleh laki-laki, dan secara moral tertindas, bahkan dengan cukup sadis, menurut saya, dikatakan bahwa perempuan dengan suka rela menyerahkan kebebasannya, yang telah menjadi haknya sejak lahir, pada lembaga pernikahan. Menurut saya tidak smeua pernikahan yang terjadi saat ini seperti itu, bahkan banyak pernikahan terjadi tetapi perempuan masih diberi kebebasan untuk mengaktualisasikan dirinya di dunia ini. Bahkan ada dibeberapa keluarga yang memilih tidak memiliki anak karena dari pihak perempuan menginginkan hal itu, walaupun sangat jarang tetapi ada, yang jelas tidak semua lembaga pernikahan buruk seperti pandangan Simone de Beauvoir (sehingga Ia lebih memilih untuk tidak menikah dengan Sartre yang menurut saya itu merupakan tindakan yang tidak berani menerima tanggung jawab atau dengan kata lain mau enaknya saja)

Bagaimanapun juga saya masih percaya bahwa manusia dilahirkan untuk bebas memilih ingin bereksistensi sebagai apa, keputusan itu semua sepenunya berada di tangan manusia itu sendiri, termasuk perempuan, namun sekali lagi keputusan itu harus bertanggung jawab dan seperti yang diungkapkan oleh Kiekeegaard yang mengatakan bahwa eksistensi manusia bukanlah sesuatu yang statis tetapi senantiasa menjadi, manusia selalu bergerak dari kemungkinan menuju suatu kenyataan, dari cita-cita menuju kenyataan hidup saat ini. Jadi ditekankan harus ada keberanian dari manusia untuk mewujudkan apa yang ia cita-citakan atau apa yang ia anggap kemungkinan.

Pustaka

Dagun Save. M, Filsafat Eksistensialisme, cet.1, Rineka Cipta, Jakarta, 1990
Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Cet.14, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1998
Hassan, Fuad, Berkenalan dengan Eksistensialisme,cet.5, Pustaka Jaya, Jakarta, 1992
Tong, Rosemarie Putnum, Feminist Thought, Allen & Unwin, Westview Press, 1998

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar