Jumat, 12 Juni 2009

Strukturalisme Live Strauss

Semiotika dan Strukturalism

Strukturalisme adalah suatu metode analisis yang dikembangkan oleh
banyak semiotisian berbasis model lingusitik Saussure. Strukturalis
bertujuan untuk mendeskripsikan keseluruhan pengorganisasian sistem
tanda sebagai 'bahasa' - seperti yang dilakukan Lévi-Strauss dan
mitos, keteraturan hubungan dan totemisme, Lacan dan alam bawah sadar;
serta Barthes dan Greimas dengan 'grammar' pada narasi. Mereka
melakukan suatu pencarian untuk suatu "struktur yang tersembunyi"
yang terletak di bawah 'permukaan yang tampak' dari suatu fenomena.
Social Semiotics kontemporer telah bergeser di bawah concern para
strukturalis yang menemukan relasi internal dari bagian-bagian di
antara apa yang terkandung dalam suatu sistem. Melakukan eksplorasi
penggunaan tanda-tanda dalam situasi tertentu. Teori semiotik modern
suatu ketika disatukan dengan pendekatan Marxist yang diwarnai oleh
aturan ideologi.

Strukturalisme adalah teori yang menyatakan bahwa seluruh organisasi
manusia ditentukan secara luas oleh struktur sosial atau psikologi yang
mempunyai logika independen yang menarik, berkaitan dengan maksud,
keinginan, maupun tujuan manusia. Bagi Freud, strukturnya adalah
psyche; bagi Marx, strukturnya adalah ekonomi; dan bagi Saussure,
strukturnya adalah bahasa. Kesemuanya mendahului subyek manusia
individual atau human agent dan menentukan apa yang akan dilakukan
manusia pada semua keadaan1.

Strukturalisme terutama berkembang sejak Claude Levy-Strauss Hubungan
antara bahasa dan mitos menempati posisi sentral dalam pandangan
Lévi-Strauss tentang pikiran primitif yang menampakkan dirinya dalam
struktur-struktur mitosnya, sebanyak struktur bahasanya. Mitos biasanya
dianggap sebagai 'impian' kolektif, basis ritual, atau semacam
'permainan' estetika semata, dan figur-figur mitologisnya sendiri
dipikirkan hanya sebagai wujud abstraksi, atau para pahlawan yang
disakralkan, atau dewa yang turun ke bumi sehingga mereduksi mitologi
sampai pada taraf semata sebagai 'mainan anak-anak', serta menolak
adanya relasi apapun dengan dunia dan pranata-pranata masyarakat yang
menciptakannya. Perhatian Lévi-Strauss terutama terletak pada
berkembangnya struktur mitos dalam pikiran manusia, baik secara
normatif maupun reflektif, yaitu dengan mencoba memahami bagaimana
manusia mengatasi perbedaan antara alam dan budaya. Tingkah laku
struktur mitos yang tak disadari ini membawa Lévi-Strauss pada
analisis fonemik, di mana berbagai fenomena yang muncul direduksi ke
dalam beberapa elementer-struktural dasar, namun dengan satu
permasalahan yang mendasar:

Di satu sisi tampaknya dalam mitos apa saja mungkin terjadi. Tak ada
logika di sana, tak ada kontinuitas. Karakteristik apapun bisa
disematkan pada subjek apa saja ; setiap relasi yang mungkin bisa saja
ditemukan. Namun di sisi lain, kearbitreran penampakan ini dipungkiri
oleh keserupaan yang mengejutkan di antara mitos-mitos yang dikumpulkan
dari berbagai wilayah yang amat luas...Jika muatan dari mitos bersifat
kontingen, bagaimana kita menjelaskan suatu fakta bahwa mitos-mitos di
seluruh dunia tampak serupa?[

Mitos, menurut Levi-Strauss, memiliki hubungan nyata dengan bahasa itu
sendiri karena merupakan satu bentuk pengucapan manusia sehingga
analisisnya bisa diperluas ke bidang linguistik struktural. Namun tentu
saja, analogi seperti ini tidaklah eksak dan mitos tidak bisa dengan
begitu saja disamakan dengan bahasa sehingga sekaligus pula harus
ditunjukkan pula perbedaannya melalui konsep Saussure mengenai langue
dan parole, struktur dan kejadian individual. Versi-versi individual
yang berbeda-beda dalam tiap mitos, yaitu aspek parole-nya, diturunkan
dari dan memberikan kontribusi pada struktur dasar langue-nya. Sebuah
mitos, secara individual, selalu dikisahkan dalam suatu waktu: ia
menunjuk pada kejadian-kejadian yang dipercaya begitu saja pernah
terjadi di waktu lampau, namun pola spesifik atau strukturnya dikatakan
sebagai sesuatu yang kekal dan ahistoris: ia merangkum mode penjelasan
tentang kekinian dengan apa yang terjadi di masa lalu dan sekaligus
masa depan. Maka, setiap kali mitos dikisahkan kembali, ia
menggabungkan elemen-elemen langue dan parole-nya, dan dengan begitu
mentrandensikan keduanya sebagai penjelasan trans-historis dan
transkultural atas dunia. Tidak seperti puisi, mitos tak terpengaruh
oleh penerjemahan maknanya: penggunaan bahasa atau aspek linguistik
yang paling rendah sekalipun cukup untuk mengungkapkan nilai mitikal
dari mitos. Mitos merupakan bahasa, yang bekerja pada suatu tingkat di
mana makna terlepas dari tataran linguistiknya.

Berdasarkan anggapan ini, Lévi-Strauss memformulasikan dua proposisi
dasar dalam hubungannya dengan mitos:

*
Makna dari mitologi tidak dapat muncul dalam elemen-elemennya
yang terisolir, tetapi haruslah melekat dalam suatu cara elemen-elemen
itu dikombinasikan, dan punya peran potensial bagi sebuah transformasi
yang melibatkan kombinasi seperti ini.
*
Bahasa di dalam mitos memperlihatkan ciri khasnya yang spesifik:
ia menguasai tataran linguistik biasa.

Apa yang ingin coba ditangkap Lévi-Strauss di sini adalah sense
tentang adanya interaksi antara dimensi sinkronik dan diakronik, antara
langue dan parole dalam mitos, sesuatu yang lebih dari sekadar kisah
yang sedang diceritakan. Sebuah mitos selalu mengandung keseluruhan
versinya, dan ia mengatakan bahwa mitos itu bekerja secara simultan
pada dua sumbu, seperti halnya dalam partitur orkestral, untuk
membangkitkan paduan nada dan harmoni. Di sisi lain, Lévi-Strauss
percaya bahwa ia telah menemukan sebuah metode analisis yang melengkapi
aturan-aturan formasi, untuk memahami perpindahan dari satu varian
mitos ke varian yang lain. Dalam prosesnya, agen-agen mediasi dan
validasi bekerja mengatasi realitas kasar dan mentransformasikannya ke
dalam bahasanya sendiri. Di sini, mitos muncul sebagai sebuah
'perangkat-logika' yang berfungsi menciptakan ritus-perbatasan untuk
mengatasi realitas yang saling beroposisi.

Pada titik inilah usaha Lévi-Strauss untuk menemukan aspek langue
mitos dan memisahkannya dari parole dengan melakukan analisis fonemik
atasnya mencapai batas-batas terjauh dalam memahami bagaimana mitos
dikonstruksi oleh masyarakat lampau. Tetapi Lévi-Strauss terpukau dan
berhenti di tingkat struktur yang secara rigid memisahkan antara langue
dengan parole sedemikian sehingga, baginya, di balik struktur tak ada
apapun lagi. Kenyataan bahwa banyak mitos di dunia sangat mirip
disimpulkannya dengan sederhana disebabkan oleh adanya aturan-aturan
transformasi arbitrer yang menciptakan varian mitos. Kearbitreran ini
dimungkinkan karena, bagi Lévi-Strauss, satu-satunya yang kokoh
hanyalah mode-mode operasi yang bekerja di dalam struktur.
Pemeriksaannya terhadap langue mitos tidak membuka gagasan lebih jauh
mengapa muncul ragam-ragam yang unik padanya. Padahal struktur mitos
hanyalah penjelasan bahwa ia adalah 'bahasa khusus' yang mesti dicari
logos di balik langue-nya.

Dalam sebuah mitos suku-suku di Amerika Utara yang mengisahkan tentang
Angin Selatan yang jahat karena begitu kencang dan dingin sehingga bila
angin ini berhembus manusia tidak dapat beraktivitas secara normal.
Demikianlah hingga semua makhluk hidup berusaha menangkap dan
menjinakkannya. Pemburu yang berhasil adalah ikan skate yang kemudian
menegosiasikan pembebasan angin dengan syarat bahwa ia diijinkan untuk
berhembus hanya pada hari-hari tertentu secara berganti-ganti, sehingga
meninggalkan daerah itu pada saat manusia dapat bepergian normal.
Lévi-Strauss menskemakan mitos tersebut dengan oposisi biner antara
alam yang ramah terhadap manusia dengan alam yang bermusuhan, yaitu
kehadiran angin dan ketidakhadiran angin, dan melihat aspek yang sama
terhadap ikan skate pada posisi manusia memandang ikan tersebut, yaitu
bila dilihat dari samping ia seperti segaris pipih yang nyaris tiada
sedangkan dari atas tampak sangat besar. Ia menyatakan bahwa ketika
orang Indian menjadikan ikan skate sebagai 'tokoh pendamai' pada masa
transisi kedua kondisi alam tersebut sesungguhnya mereka tengah
mengkonkretkan peranan mereka dalam menata alam. Logika konkrit ini
dalam pandangan Lévi-Strauss menunjukkan demikian mudahnya masyarakat
lampau menetapkan suatu kesamaan antara spesies-spesies alam dengan
segolongan masyarakat.

Structuralist Constructivism

Pierrre Bourdieu mengembangkan aliran constructivist structuralism atau
structuralist constructivism yang mengacu pada struktur-struktur
objektif, terlepas dari kesadaran dan keinginan pelaku-pelaku, yang
mampu mengarahkan dan sekaligus menghalangi praktik-praktik atau
representasi mereka. Dengan menggunakan istilah konstruktivisme,
Bourdieu menyatakan bahwa terdapat genesis sosial dari skema-skema
persepsi, pemikiran, dan aksi, serta bagian lain dari struktur sosial2.

Bourdieu meletakkan konspetualisasi pemikirannya melalui aspek-aspek
habitus3 dan arena4 (champ). Kedua konsep ini didukung oleh sejunlah
konsep antara lain : modal5 (capital), praktik sosial (practique
sociale)6, pertarungan (lutte) dan strategi (strategie)7. Salah satu
ajaran Bourdieu dalam hubungannya dengan praktik penelitian adalah
penekanan pentingnya penelitian lapangan. Arena dan habitus bukanlah
konsep yang dapat diterapkan hanya dengan duduk di belakang meja.
Keduanya merupakan konsep yang baru bermakna jika digunakan di
lapangan.
Dalam praktik penelitian, Bourdieu mengajarkan tiga langkah yang saling
terkait dalam upaya mengenali dan menganalisis arena. Pertama, kita
harus menganalisis posisi arena dalam hubungannya dengan arena
kekuasaan. Dengan demikian, kita menemukan bahwa suatu hal merupakan
bagian dari kekuasaan8. Kedua, kita harus menetapkan struktur objektif
hubungan-hubungan antara posisi-posisi yang dikuasai oleh pelaku dan
institusi yang berada dalam persaingan di dalam arena ini. Ketiga, kita
harus menganalisis habitus para pelaku, sistem-sistem kecenderungan
yang berbeda yang diperoleh melalui internalisasi sesuatu yang
ditentukan menurut kondisi ...

baca lainnya »









Anda harus Masuk agar dapat mengeposkan pesan.
Untuk mengeposkan pesan, Anda harus terlebih dahulu bergabung ke grup ini.
Perbarui nama panggilan di laman setelan langganan sebelum mengeposkan.
Anda tidak memiliki izin yang diperlukan untuk mengeposkan.



silves...@jrs.or.id
Tampilkan profil
Opsi lainnya 24 Feb 2006, 08:20
Dari: silves...@jrs.or.id
Tanggal: Fri, 24 Feb 2006 01:20:51 -0000
Lokal: Jum 24 Feb 2006 08:20
Perihal: SEMIOTIKA DAN STRUKTURALISM
Semiotika dan Strukturalism

Strukturalisme adalah suatu metode analisis yang dikembangkan oleh
banyak semiotisian berbasis model lingusitik Saussure. Strukturalis
bertujuan untuk mendeskripsikan keseluruhan pengorganisasian sistem
tanda sebagai 'bahasa' - seperti yang dilakukan Lévi-Strauss dan
mitos, keteraturan hubungan dan totemisme, Lacan dan alam bawah sadar;
serta Barthes dan Greimas dengan 'grammar' pada narasi. Mereka
melakukan suatu pencarian untuk suatu "struktur yang tersembunyi"
yang terletak di bawah 'permukaan yang tampak' dari suatu fenomena.
Social Semiotics kontemporer telah bergeser di bawah concern para
strukturalis yang menemukan relasi internal dari bagian-bagian di
antara apa yang terkandung dalam suatu sistem. Melakukan eksplorasi
penggunaan tanda-tanda dalam situasi tertentu. Teori semiotik modern
suatu ketika disatukan dengan pendekatan Marxist yang diwarnai oleh
aturan ideologi.

Strukturalisme adalah teori yang menyatakan bahwa seluruh organisasi
manusia ditentukan secara luas oleh struktur sosial atau psikologi yang
mempunyai logika independen yang menarik, berkaitan dengan maksud,
keinginan, maupun tujuan manusia. Bagi Freud, strukturnya adalah
psyche; bagi Marx, strukturnya adalah ekonomi; dan bagi Saussure,
strukturnya adalah bahasa. Kesemuanya mendahului subyek manusia
individual atau human agent dan menentukan apa yang akan dilakukan
manusia pada semua keadaan1.

Strukturalisme terutama berkembang sejak Claude Levy-Strauss Hubungan
antara bahasa dan mitos menempati posisi sentral dalam pandangan
Lévi-Strauss tentang pikiran primitif yang menampakkan dirinya dalam
struktur-struktur mitosnya, sebanyak struktur bahasanya. Mitos biasanya
dianggap sebagai 'impian' kolektif, basis ritual, atau semacam
'permainan' estetika semata, dan figur-figur mitologisnya sendiri
dipikirkan hanya sebagai wujud abstraksi, atau para pahlawan yang
disakralkan, atau dewa yang turun ke bumi sehingga mereduksi mitologi
sampai pada taraf semata sebagai 'mainan anak-anak', serta menolak
adanya relasi apapun dengan dunia dan pranata-pranata masyarakat yang
menciptakannya. Perhatian Lévi-Strauss terutama terletak pada
berkembangnya struktur mitos dalam pikiran manusia, baik secara
normatif maupun reflektif, yaitu dengan mencoba memahami bagaimana
manusia mengatasi perbedaan antara alam dan budaya. Tingkah laku
struktur mitos yang tak disadari ini membawa Lévi-Strauss pada
analisis fonemik, di mana berbagai fenomena yang muncul direduksi ke
dalam beberapa elementer-struktural dasar, namun dengan satu
permasalahan yang mendasar:

Di satu sisi tampaknya dalam mitos apa saja mungkin terjadi. Tak ada
logika di sana, tak ada kontinuitas. Karakteristik apapun bisa
disematkan pada subjek apa saja ; setiap relasi yang mungkin bisa saja
ditemukan. Namun di sisi lain, kearbitreran penampakan ini dipungkiri
oleh keserupaan yang mengejutkan di antara mitos-mitos yang dikumpulkan
dari berbagai wilayah yang amat luas...Jika muatan dari mitos bersifat
kontingen, bagaimana kita menjelaskan suatu fakta bahwa mitos-mitos di
seluruh dunia tampak serupa?[

Mitos, menurut Levi-Strauss, memiliki hubungan nyata dengan bahasa itu
sendiri karena merupakan satu bentuk pengucapan manusia sehingga
analisisnya bisa diperluas ke bidang linguistik struktural. Namun tentu
saja, analogi seperti ini tidaklah eksak dan mitos tidak bisa dengan
begitu saja disamakan dengan bahasa sehingga sekaligus pula harus
ditunjukkan pula perbedaannya melalui konsep Saussure mengenai langue
dan parole, struktur dan kejadian individual. Versi-versi individual
yang berbeda-beda dalam tiap mitos, yaitu aspek parole-nya, diturunkan
dari dan memberikan kontribusi pada struktur dasar langue-nya. Sebuah
mitos, secara individual, selalu dikisahkan dalam suatu waktu: ia
menunjuk pada kejadian-kejadian yang dipercaya begitu saja pernah
terjadi di waktu lampau, namun pola spesifik atau strukturnya dikatakan
sebagai sesuatu yang kekal dan ahistoris: ia merangkum mode penjelasan
tentang kekinian dengan apa yang terjadi di masa lalu dan sekaligus
masa depan. Maka, setiap kali mitos dikisahkan kembali, ia
menggabungkan elemen-elemen langue dan parole-nya, dan dengan begitu
mentrandensikan keduanya sebagai penjelasan trans-historis dan
transkultural atas dunia. Tidak seperti puisi, mitos tak terpengaruh
oleh penerjemahan maknanya: penggunaan bahasa atau aspek linguistik
yang paling rendah sekalipun cukup untuk mengungkapkan nilai mitikal
dari mitos. Mitos merupakan bahasa, yang bekerja pada suatu tingkat di
mana makna terlepas dari tataran linguistiknya.

Berdasarkan anggapan ini, Lévi-Strauss memformulasikan dua proposisi
dasar dalam hubungannya dengan mitos:

*
Makna dari mitologi tidak dapat muncul dalam elemen-elemennya
yang terisolir, tetapi haruslah melekat dalam suatu cara elemen-elemen
itu dikombinasikan, dan punya peran potensial bagi sebuah transformasi
yang melibatkan kombinasi seperti ini.
*
Bahasa di dalam mitos memperlihatkan ciri khasnya yang spesifik:
ia menguasai tataran linguistik biasa.

Apa yang ingin coba ditangkap Lévi-Strauss di sini adalah sense
tentang adanya interaksi antara dimensi sinkronik dan diakronik, antara
langue dan parole dalam mitos, sesuatu yang lebih dari sekadar kisah
yang sedang diceritakan. Sebuah mitos selalu mengandung keseluruhan
versinya, dan ia mengatakan bahwa mitos itu bekerja secara simultan
pada dua sumbu, seperti halnya dalam partitur orkestral, untuk
membangkitkan paduan nada dan harmoni. Di sisi lain, Lévi-Strauss
percaya bahwa ia telah menemukan sebuah metode analisis yang melengkapi
aturan-aturan formasi, untuk memahami perpindahan dari satu varian
mitos ke varian yang lain. Dalam prosesnya, agen-agen mediasi dan
validasi bekerja mengatasi realitas kasar dan mentransformasikannya ke
dalam bahasanya sendiri. Di sini, mitos muncul sebagai sebuah
'perangkat-logika' yang berfungsi menciptakan ritus-perbatasan untuk
mengatasi realitas yang saling beroposisi.

Pada titik inilah usaha Lévi-Strauss untuk menemukan aspek langue
mitos dan memisahkannya dari parole dengan melakukan analisis fonemik
atasnya mencapai batas-batas terjauh dalam memahami bagaimana mitos
dikonstruksi oleh masyarakat lampau. Tetapi Lévi-Strauss terpukau dan
berhenti di tingkat struktur yang secara rigid memisahkan antara langue
dengan parole sedemikian sehingga, baginya, di balik struktur tak ada
apapun lagi. Kenyataan bahwa banyak mitos di dunia sangat mirip
disimpulkannya dengan sederhana disebabkan oleh adanya aturan-aturan
transformasi arbitrer yang menciptakan varian mitos. Kearbitreran ini
dimungkinkan karena, bagi Lévi-Strauss, satu-satunya yang kokoh
hanyalah mode-mode operasi yang bekerja di dalam struktur.
Pemeriksaannya terhadap langue mitos tidak membuka gagasan lebih jauh
mengapa muncul ragam-ragam yang unik padanya. Padahal struktur mitos
hanyalah penjelasan bahwa ia adalah 'bahasa khusus' yang mesti dicari
logos di balik langue-nya.

Dalam sebuah mitos suku-suku di Amerika Utara yang mengisahkan tentang
Angin Selatan yang jahat karena begitu kencang dan dingin sehingga bila
angin ini berhembus manusia tidak dapat beraktivitas secara normal.
Demikianlah hingga semua makhluk hidup berusaha menangkap dan
menjinakkannya. Pemburu yang berhasil adalah ikan skate yang kemudian
menegosiasikan pembebasan angin dengan syarat bahwa ia diijinkan untuk
berhembus hanya pada hari-hari tertentu secara berganti-ganti, sehingga
meninggalkan daerah itu pada saat manusia dapat bepergian normal.
Lévi-Strauss menskemakan mitos tersebut dengan oposisi biner antara
alam yang ramah terhadap manusia dengan alam yang bermusuhan, yaitu
kehadiran angin dan ketidakhadiran angin, dan melihat aspek yang sama
terhadap ikan skate pada posisi manusia memandang ikan tersebut, yaitu
bila dilihat dari samping ia seperti segaris pipih yang nyaris tiada
sedangkan dari atas tampak sangat besar. Ia menyatakan bahwa ketika
orang Indian menjadikan ikan skate sebagai 'tokoh pendamai' pada masa
transisi kedua kondisi alam tersebut sesungguhnya mereka tengah
mengkonkretkan peranan mereka dalam menata alam. Logika konkrit ini
dalam pandangan Lévi-Strauss menunjukkan demikian mudahnya masyarakat
lampau menetapkan suatu kesamaan antara spesies-spesies alam dengan
segolongan masyarakat.

Structuralist Constructivism

Pierrre Bourdieu mengembangkan aliran constructivist structuralism atau
structuralist constructivism yang mengacu pada struktur-struktur
objektif, terlepas dari kesadaran dan keinginan pelaku-pelaku, yang
mampu mengarahkan dan sekaligus menghalangi praktik-praktik atau
representasi mereka. Dengan menggunakan istilah konstruktivisme,
Bourdieu menyatakan bahwa terdapat genesis sosial dari skema-skema
persepsi, pemikiran, dan aksi, serta bagian lain dari struktur sosial2.

Bourdieu meletakkan konspetualisasi pemikirannya melalui aspek-aspek
habitus3 dan arena4 (champ). Kedua konsep ini didukung oleh sejunlah
konsep antara lain : modal5 (capital), praktik sosial (practique
sociale)6, pertarungan (lutte) dan strategi (strategie)7. Salah satu
ajaran Bourdieu dalam hubungannya dengan praktik penelitian adalah
penekanan pentingnya penelitian lapangan. Arena dan habitus bukanlah
konsep yang dapat diterapkan hanya dengan duduk di belakang meja.
Keduanya merupakan konsep yang baru bermakna jika digunakan di
lapangan.
Dalam praktik penelitian, Bourdieu mengajarkan tiga langkah yang saling
terkait dalam upaya mengenali dan menganalisis arena. Pertama, kita
harus menganalisis posisi arena dalam hubungannya dengan arena
kekuasaan. Dengan demikian, kita menemukan bahwa suatu hal merupakan
bagian dari kekuasaan8. Kedua, kita harus menetapkan struktur objektif
hubungan-hubungan antara posisi-posisi yang dikuasai oleh pelaku dan
institusi yang berada dalam persaingan di dalam arena ini. Ketiga, kita
harus menganalisis habitus para pelaku, sistem-sistem kecenderungan
yang berbeda yang diperoleh melalui internalisasi sesuatu yang
ditentukan menurut kondisi ...

baca lainnya »

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar