Jumat, 12 Juni 2009

JACQUES LACAN

Seminar "Purloined Letter" (Bagian I dari IV) [1]

Oleh JACQUES LACAN

Telaahan kita sebelumnya telah mengantarkan kita pada suatu pemahaman bahwa dasar dari otomatisme repetisi [2] (repetition automatism) terletak pada rantai signifying yang terus bertahan. Kita juga telah mencatat bahwa pengertian itu terletak dalam hubungannya dengan eksistensi (atau eccentric place) [3]. Seperti telah diketahui, melalui realitas pengalaman psikoanalisalah kita dapat menarik garis imajiner yang menghubungkan manusia, yang keberadaan paling intimnya justru tersembunyi dan manifestasinya hanya akan ditemukan dalam dimensi simbolik.

Kajian dalam seminar ini bertujuan untuk menegaskan bahwa insiden-insiden imajiner, yang jarang terwakili dalam esensi pengalaman kita, hanya akan dipahami sebagai kebetulan belaka jika tidak dikaitkan dalam suatu rangkaian simbolik.

Tentu saja disadari pentingnya imaji-imaji yang ditanamkan pada pilihan simbol yang dipisahkan ini akan mengijinkan rangkaian simbol hadir sebagai sesuatu yang tampak.

Namun perlu kami tegaskan bahwa terdapat struktur yang menentukan bagi subyek. Adapun struktur tersebut terdiri dari hukum-hukum spesifik yang mengatur efek-efek psikoanalitik. Efek-efek psikoanalitik tersebut adalah: foreclosure, represi dan pengingkaran diri [4]. Ketiganya merupakan efek-efek yang kerap kali mengikuti proses displacement [5] suatu penanda dari faktor-faktor yang imajiner, yang di luar ketakbergerakannya, hanya akan dikenali dalam proses sebagai bayangan dan pantulan.

Hanya saja penegasan ini akan menjadi sia-sia jika hanya difungsikan sebagai abstrak atas tipe umum dari suatu fenomena. Padahal kekhususannya dalam kajian ini merupakan sesuatu yang penting. Dengan generalisasi, susunan asali akan menjadi mudah diceraikan dalam penampakan-penampakan buatan.

Oleh karena itu, untuk mendemostrasikan kebenaran pemikiran Freud, kami akan mengilustrasikan kepada anda dari cerita, tentang bagaimana subyek ditentukan oleh susunan simbolik, -khususnya orientasi penentu yang diterima subyek dari pergerakan penanda.

Kebenaran itu pula yang kemudian memungkinkan keberadaan suatu fiksi. Seperti juga narasi lainnya, fabel dalam kasus ini juga layak untuk diamati, tentunya dengan resiko bahwa koherensi fabel tersebut menjadi teruji. Selain itu, cerita fiktif juga menawarkan kelebihan dalam memanifestasikan keperluan simbolik (symbolic necessity) secara lebih murni, sejauh mana kita percaya bahwa pengertian tersebut bersifat manasuka.

Sehingga tanpa perlu melihat jauh-jauh, kami memilih cerita tentang permainan dialektik genap atau ganjil- sebuah kajian yang barusan saja hasilnya kita peroleh.
Tanpa diragukan, bahwa dengan sengaja cerita ini memberikan kemungkinan penelahaan lebih lanjut atasnya, sebagaimana faktor-faktor pendukungnya juga sudah tersedia.

Seperti yang anda ketahui, kita sedang membicarakan cerita yang oleh Baudelaire diterjemahkan dengan judul La Lettre Volee. Pada kali pertama pembacaan kita dapat mengenali sebuah drama, sebuah narasi, lengkap dengan kondisi yang melatarinya.
Selain efek drama yang berlangsung menjadi berlipatganda, tafsiran narasi juga memberikan bentuk pada dramaturgi (mise a scene). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aksi-aksinya tidak akan terlihat oleh penonton di bagian ujung depan panggung, ditambah lagi oleh dialognya, yang demi kepentingan waktu dan alur cerita menafikan pengertian apapun bagi penontonnya. Dengan kata lain, tidak ada satupun yang dapat dicerap dari drama tersebut, baik dilihat maupun didengar, tanpa narasi yang memberikan sudut pandang pada tiap adegan.

Terdapat dua babak, yang pertama secara langsung dikenali sebagai babak asli, ,tanpa bermaksud mengabaikan keberadaan babak kedua karena dianggap sebagai pengulangan.

Diceritakan bawah babak pertama terjadi di keputrian, dari sana kita menyimpulkan bahwa orang yang berkedudukan tinggi,- dikatakan di sini sebagai orang penting, yang sedang sendirian ketika dia menerima surat adalah sang Ratu. Asumsi ini dipertegas lagi oleh rasa malu yang dialami oleh orang tersebut ketika orang kedua, -yang juga tak kalah penting, masuk. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, jika surat yang menjadi permasalahan sampai diketahui keberadaannya oleh orang kedua itu maka kehormatan dan keselamatan sang Ratu menjadi taruhan.
Keraguan bahwa orang itu adalah raja atau bukan segera terjawab ketika adegan disusul dengan masuknya Menteri D___. Pada saat itu Ratu tidak mampu melakukan hal lain kecuali memanfaatkan kelengahan Raja dengan meletakkan surat itu di meja dalam keadaan terbalik dengan alamat menghadap ke atas. Namun peristiwa tersebut ternyata tidak luput dari ketajaman pandangan Menteri D___, yang diibaratkan seperti seekor lynx. Ditambah oleh Ratu yang tak dapat menutupi kegelisahannya maka ia pun akhirnya mengetahui rahasia apa yang sedang disembunyikan.

Dari sana semua bergulir seperti jarum jam. Selesai berurusan dengan hal-hal lazimnya tugas sehari-hari seorang menteri, kemudian ia mengambil sebuah surat dari kantongnya, yang yang mirip dengan surat yang tergeletak di meja. Setelah sejenak berpura-pura membaca, diletakkannya surat tersebut bersebelahan dengan yang satunya. Sambil berbicara sepintas lalu, tanpa ragu ia mengambil surat yang asli seraya pergi sambil membawanya pergi. Sementara itu sang Ratu, karena takut menarik perhatian Raja yang waktu itu berada di dekatnya, tidak dapat melakukan apa-apa untuk mencegahnya meskipun semuanya terjadi depan mata kepalanya sendiri.

Dari mata seorang pengamat hipotetis, semua berjalan dengan yang lancar, yang hasilnya adalah Menteri telah mengambil surat milik Ratu dan yang lebih penting lagi sang Ratu pun tahu bahwa Menterilah yang kini memegang surat tersebut, ini bukan tanpa maksud tertentu.

Sebuah peristiwa yang tidak akan diabaikan oleh seorangpun analis, karena ia dilatih untuk menangkap apa-apa yang signifikan. Meski tak tahu apa yang dapat diperbuat dengannya, surat itu kini berada di bawah kuasa sang Menteri dan kini keputusan apa yang diambil berikutnya berada di tangan sang Ratu.

Babak kedua berlangsung di kantor Menteri yang terletak di dalam sebuah hotel. Seperti telah kita ketahui dari penjelasan Prefek Polisi pada Dupin (ini adalah kali kedua Poe mengangkat tokoh Dupin dalam fiksi) bahwa polisi telah memeriksa hotel dan seluruh isinya selama 18 bulan belakangan. Pemeriksaan tersebut berlangsung setiap malam-malam pada saat Menteri sedang tidak ada. Suatu kesia-siaan, meskipun dari sana semua orang dapat menyimpulkan bahwa Menteri masih menyimpan surat tersebut di tempat yang mudah terjangkau.

Dupin kemudian menyambangi Menteri, yang menyambutnya dengan ketenangan yang dibuat-buat. Hal itu terlihat dalam bahasan percakapannya seputar kelesuan romantik. Sementara itu Dupin yang tidak dapat dikelabui dengan kepura-puraan tersebut, dengan matanya yang terlindung lensa kacamata berwarna hijau memeriksa sudut-sudut ruangan. Sampai pandangannya tertumbuk pada selembar kertas lecek yang tampak dimasukkan dengan kasar ke dalam papan rak kartu murahan yang digantung secara serampangan pada gantungan mantel. Lantas ia menyadari bahwa ia telah menemukan apa yang dicari. Keyakinannya agak berlawanan dengan gambaran tentang surat yang dicuri, kecuali dilihat dari bentuknya yang masih sama.

Selanjutnya ia pulang setelah sebelumnya “melupakan" kotak tembakau di meja agar dapat mengambilnya kembali di keesokan hari. Kali ini dengan bermodalkan selembar kertas faksimili. Bersamaan dengan insiden di jalan yang telah dipersiapkan untuk saat yang tepat, Menteri pun bergerak mendekati jendela.

Sekarang giliran Dupin yang memanfaatkan kesempatan untuk mencolong surat tersebut dan menggantinya dengan yang palsu. Selanjutnya yang harus ia lakukan adalah keluar dari kantor tersebut sambil tetap berusaha tampil wajar. Dan semua itu berjalan dengan tanpa keributan, kalau bukan tanpa suara.

Hasil dari operasi tersebut adalah Menteri tidak lagi memegang surat itu, dengan tanpa mencurigai sedikitpun bahwa Dupinlah pencurinya. Apa yang diperolehnya tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang dia dapatkan kelak, yaitu tulisan tangan Dupin.

Kita kembali kepada alasan yang mendorong Dupin menuliskan pesan di surat palsunya, apapun alasan itu jika Menteri tersebut kemudian membaca pesan tersebut kelak ia hanya akan mengenalinya sebagai tulisan tangan Dupin:

Un dessein si funeste, s’il n’est digne d’Atree est digne de Thyeste, sebuah ungkapan yang dikutip Dupin dari drama Crebillon [6].

Perlukah kita tegaskan kembali kesamaan antara dua urutan ini? Ya, karena kemiripan yang kita dapati bukanlah sekedar pemilahan sifat-sifat yang sama untuk menghapus perbedaan diantaranya. Juga tidaklah memadai jika persamaan-persamaan yang ditemukan dipertahankan sementara yang lain dikorbankan demi tercapainya hasil yang sesuai. Yang ingin dikemukakan di sini adalah intersubyektifitas yang memotivasi jalannya kedua aksi ini dan juga tiga persyaratan yang menempatkan mereka pada struktur.

Status khusus ketiga persyaratan ini adalah hasil dari hubungan yang simultan dengan tiga momen logis di mana keputusan mengendap. Keputusan tersebut yang kemudian menempatkan subyek-subyek pada tiga posisi untuk menentukan pilihan.
Keputusan ini dicapai pada saat pandangan, (glance) karena manuver-manuver yang mengikutinya, betapapun berlangsung dengan perlahan dan diam-diam, tidak memberikan satu nilai tambah pun pada glance. Perbedaan perilaku seperti yang ditunjukkan pada babak kedua juga tidak mematahkan kesatuan momen tersebut.
Glance ini juga mengandaikan dua lainnya, yaitu glance yang mencakup visi atas kesenjangan yang tersisa dari komplementaritas yang gagal sekaligus mengantisipasi peristiwa pencurian yang dilatari oleh ketersingkapan. Ringkasnya, tiga momen menstrukturkan tiga glance yang dilahirkan oleh tiga subyek dan menjelma dalam karakter yang berbeda.

Yang pertama adalah glance yang tidak melihat apa-apa yaitu Raja dan Polisi.

Yang kedua adalah glance yang melihat bahwa pihak pertama tidak melihat apa-apa dan sibuk sendiri dengan rahasia yang disembunyikannya; yaitu Ratu, kemudian Menteri.

Yang ketiga melihat bahwa dua glance lainnya membiarkan apa yang harusnya tersembunyi menjadi terungkap pada siapapun yang mencoba mengambilnya: Menteri dan terakhir Dupin.

Untuk mencermati kesatuan dari kerumitan intersubyektifitas yang digambarkan,kita dapat merujuk pada teknik legendaris yang ditemukan pada burung unta yang tengah melindungi dirinya dari bahaya, (sebuah teknik yang dapat dikualifikasikan sebagai politis), sedangkan burung onta kedua merasa dirinya tak terlihat setelah melihat burung onta pertama menancapkan kepalanya ke dalam tanah, dan mengabaikan burung onta ketiga mencabuti bulu ekornya dengan tenang. Kita hanya perlu mengganti denominasi proverbialnya dengan surat.

Dengan demikian struktur tindakan tersebut menegaskan pengertian Freud tentang repetisi, meskipun subyek yang terlibat lebih dari satu.

Kemajemukan subyek tentunya bukan hal yang asing bagi mereka yang sudah terbiasa dengan perspektif yand diringkas dalam formulasi: Bawah sadar adalah wacana Yang Lain - (the unconscious is the discourse of The Other).

Dan kami tidak perlu kembali menambahkan pada diskusi ini pengertian tentang ketidakbercampuran subyek (immixture of subjects) yang baru-baru ini disampaikan pada analisa ulang atas mimpi Irma [7].

Yang menjadi perhatian kita saat ini adalah cara subyek berhubungan satu sama lain melalui displacement-nya masing-masing selama otomatisme repetisi berlangsung.
Kita akan menemukan bahwa displacement tersebut ditentukan posisinya oleh si penanda murni, yaitu si surat yang hilang. Inilah yang kemudian menegaskan statusnya sebagai otomatisme repetisi.

Tidaklah berlebihan jika sebelum mengkaji lebih mendalam, untuk menyepakati beberapa hal yang kita pahami dari cerita.

Dapatkah kita merasionalisasikan fakta bahwa cerita yang disampaikan adalah sebuah misteri detektif?

Sangatlah tepat jika kemudian kita menganggap fakta ini meragukan setelah kita ketahui bahwa semua yang menentukan jalannya kisah misteri tentang kejahatan –seperti motif dan jenis, instrumen dan eksekusi, prosedur yang digunakan pengarang dan cara untuk membuktikan seseorang itu bersalah, telah dengan hati-hati dihilangkan sejak awal cerita. Aksi pencurian pun sudah sejak awal dijelaskan dalam bentuk intrik pelaku dan dampaknya pada korban. Masalah yang disajikan kepada kita lebih dibatasi pada pencarian dan upaya pengembalian dari obyek yang hilang dan sepertinya kesimpulan cerita juga dengan sengaja diberikan sebelum cerita tersebut berakhir. Lantas bagaimana cara kita dipelihara dalam ketegangan?
Setinggi apapun penghargaan yang kita berikan pada konvensi genre yang mampu merangsang minat spesifik dari pembacanya, kita tidak boleh lupa bahwa bagian mengenai Dupin adalah sebuah prototipe, sehingga meskipun jika genre tersebut dibangun di bagian awal, masih terlalu dini bagi pengarang untuk membuat semacam konvensi.

Pada sisi lain akan sama berlebihannya jika kita mereduksikannya pada moralitas cerita belaka, bahwa menyembunyikan sesuatu dari selidik mata kadang diperlukan untuk menjaga ketenangan, yaitu cukup dengan meletakkan surat penting itu di meja dengan dalam keadaan terbalik. Sebuah lelucon tentunya, kami tidak akan merekomendasikan siapapun untuk mencoba menerapkannya kalau ia tak ingin dikecewakan oleh harapan kosongnya sendiri.

Jika dihubungkan dengan Prefek maka misteri itu menjadi tidak punya arti karena ia terbukti tidak mampu menghasilkan apa-apa. Lain halnya dengan Dupin karena misterinya terletak pada ketidakcocokan antara pernyataan-pernyataan yang dibuatnya dan tindakan yang diambil.

Untuk mengkaji perasaan mistifikasi ini secara lebih mendalam mungkin akan muncul pertanyaan pada diri, apakah pada sejak awal babak bukankah hanya jabatan tinggi yang dapat mencegah para protagonis untuk tidak terlihat seperti sekumpulan pelawak, -bahkan sampai ke bagian akhirnya pun di mana sudah siap menunggu sebuah olok-olok yang ditujukan untuk Menteri, bukankah kesan bahwa semua orang sebenarnya sedang dipermainkan, termasuk juga kita, membuat cerita ini menjadi begitu dinikmati?

Bagi anda yang telah membaca bahasan-bahasan sebelumnya, bukankah gambaran yang kita tangkap sedikit banyak menyerupai definisi kami tentang pahlawan modern, di mana ia akan tampak menggelikan kalau ia dieksploitasi oleh kebingungan total.

Tapi bukankah kita sendiri juga ikut hanyut dalam peran yang dihadirkan si detektif amatir, suatu prototipe dari centeng jaman dahulu, yang menyelamatkan kita dari kejemuan akan superman-superman kontemporer?

Sebuah trik, cukup menjelaskan kepada kita bagaimana kebenaran mengungkapkan dirinya lewat susunan yang fiktif.

Kepada kesimpulan semacam inilah prinsip-prinsip representasi tersebut kemudian ingin menggiring kita. Memasuki strategi, kita menangkap sebuah drama baru, yang fungsinya melengkapi babak pertama, di mana yang pertama adalah murni drama tanpa kata-kata sedangkan yang kedua banyak bermain-main dengan percakapan.
Jelas bahwa masing-masing babak dalam drama ini memang dinarasikan dalam alur dialog yang berbeda. Berangkat dari apa yang tengah kita pelajari, maka dapat dipahami bahwa hal ini dilakukan bukan melulu dilatari alasan keindahan eksposisi. Namun dengan kekuatan percakapan yang berlawanan, kedua dialog ini berusaha membentuk ketegangan, yang menawarkan keunikan efek dramatis.
Perbedaan inilah yang dalam amatan kita dinyatakan sebagai susunan simbolik (symbolic order).

Catatan Kaki

  1. Semua tulisan dan catatan kaki diambil dari John P. Muller dan William J. Richardson (eds.), 1998, The Purloined Poe, Lacan, Derrida and Psychoanalytic Reading, London: The John Hopkins University London.
  2. Freud mengidentifikasikan otomatisme repetisi sebagai kecenderungan banyak pasien untuk mengulang secara mekanis pengalaman yang tidak mengenakkan (contoh: mimpi akan trauma perang yang berulang-ulang) dalam mengabaikan prinsip-prinsip yang menyenangkan. Solusi yang ia tawarkan kemudian adalah hipotesa mengenai kekuatan psikis manusia yang lebih fundamental dari prinsip kesenangan, yaitu insting kematian.
    Menurut Lacan, yang dimaksud Freud dengan repetisi adalah pertanyaan lama yang mencoba menyelidiki asal muasal ingatan. Ia menambahkan bahwa sistem psi milik Freud (yang dalam perkembangannya disebut sebagai bawah sadar) terperangkap dalam upayanya menemukan obyek yang hilang meskipun tidak dapat dikembalikan. Repetisi yang dimaksud bukanlah upaya mengingat-ingat obyek yang hilang tersebut melainkan semacam perjuangan bawah sadar akan kehilangan itu sendiri. Repetisi di sini sifatnya lebih simbolik, di mana dengan melalui simbol maka kehadiran dari yang tidak ada menjadi dapat dipahami.
  3. Dalam esai ini Lacan beranggapan bahwa pembaca sudah mengenali konsep dasar dari apa yang disampaikan. Mengenai pengertian eccentric place, Lacan berangkat dari teori Levi Strauss yang mengidentifikasi fungsi dari struktur linguistik sebagai paradigma dari hubungan sosial yang digambarkannya dalam tabel periodik.
  4. Oleh Lacan, paradigma ini diterapkan untuk memahami hukum universal yang bekerja di balik aktivitas pikiran bawah sadar. Bagaimana hukum tersebut kemudian dapat menembus lapisan bahasa yang mengelilingi balita pada masa awal kelahirannya, oleh Strauss (dan Lacan) inilah yang disebut sebagai susunan simbolik (the symbolic order). Susunan tersebut kemudian menentukan pusat yang eksentrik, yaitu sebuah pusat di luar (bawah?) kesadaran subyek. Susunan ini kemudian juga menjelaskan bagaimana balita diperkenalkan pada eccentric place dan bagaimana susunan tersebut kemudian menjadi faktor penentu bagi subyek.
  5. Efek-efek psikonalitik ini oleh Laplance dan Pontalis (1973) didefinisikan sebagai berikut: Foreclosure adalah mekanisme pusat dalam psikosis di mana signifier pusat gagal ditanamkan (inskripsi) pada bawah sadar, represi adalah kegagalan untuk menerjemahkan dari satu tingkatan inskripsi ke tingkatan yang lain, pengingkaran diri melibatkan penggunaan signifieruntuk mencegah mekanisme represi dibawa ke tataran kesadaran.
    Istilah displacement pertama kali digunakan oleh Freud dalam The Interpretation Of Dream,dikatakan bahwa displacement adalah salah satu dari dua faktor yang membentuk mimpi. Lacan menegaskan bahwa proses psikologi ini distrukturkan oleh rangkaian linguistik dan bukannya peragaan citra yang fungsinya di sini lebih menyamarkan daripada memberi arahan proses yang jelas. Catatan penerjemah: Dalam Webster New 20th Century Dictionary,1973, arti displacement dalam istilah psikiatri adalah emosi yang ditransfer ke obyek yang secara logis tidak tepat.
  6. Sebuah rencana yang begitu keji jika tidak pantas untuk Atreus maka pantas untuk Thyeste
    Merujuk pada monolog Atreus ketika berencana untuk membalasdendam kepada adiknya sendiri dengan membuat adiknya minum darah anaknya sendiri.
  7. Pengertian immixture of subjects diperkenalkan oleh Lacan dalam essaynya yang berjudul "Of Structure as an Immixing of an Otherness Prerequisite To Any Subject Whatever" dan kemudian dibahas lagi dalam diskusi mengenai mimpi Irma. Adapun definisi dari immixture subjects adalah suatu fenomena bawah sadar yang tersingkap pada dataran simbolik dan tercerai dalam hubungannya dengan ego, dimana hal ini selalu terjadi pada hubungan diantara dua subyek.

Diterjemahkan oleh FERDI TAJIB dari John P. Muller dan William J. Richardson (eds.), 1998, The Purloined Poe, Lacan, Derrida and Psychoanalytic Reading, London, The John Hopkins University London @1998

Ilustrasi: Gareth Southwell. http://www.woodpig.com

Alamat halaman ini: http://kunci.or.id/esai/misc/ferdi_lacan1.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar