Jumat, 12 Juni 2009

Masa Lalu Bourdieu

`the esfand`


"Menurut saya, ada dua versi masa lalu Bourdieu : yang pertama adalah versi dongeng dimana ia merupakan seorang bocah petani yang berhadapan dengan peradaban urban, dan versi kedua, yang benar-benar ia renungkan secara lebih serius, adalah bagaimana rasanya menjadi seorang borjuis kecil dan sebuah kisah kesuksesan. Dan, semua obsesi akan bahasa orang lain, yaitu obsesi untuk menggunakan bahasa guna mendominasi dan menumpas dengan cara-cara yang irasional ini, barangkali juga merupakan pemikiran ulang terhadap pengalamannya sendiri."
(Nice, 1985)

Memahami dunia seorang pengarang memang bukanlah suatu hal yang mudah, ibarat menyingkap kabut yang menyelimut di pegunungan. Serasa mudah tetapi lain kenyataannya. Terlebih lagi memahami mengapa seorang pengarang akhirnya menghasilkan sebuah karya yang menjadi manifestasi kondisi kemanusiannya kala itu. Proses kelahiran sebuah karya oleh seorang pengarang pastilah beragam rupa asal mulanya, namun bisa jadi memilki pola proses yang sama.

Ada kalanya proses tersebut diawali dari ruang dan waktu yang membentuk suatu fenomena di hadapan sang pengarang, untuk kemudian dibawa dalam ruang pribadinya. Setelah bergumul dengan beragam unsur di dalam ruang tersebut, akhirnya fenomena tersebut mewujud dalam sebuah karya baru. Terkadang pula, pola tersebut bermula dari kekagetan seorang pengarang yang tiba-tiba menemukan ruang baru dalam alam pikiran dan jiwanya, kemudian setelah melalui proses pewujudan dari konsepsi abstrak menjadi realita akhirnya pun menjadi sebuah karya.

Selalu ingin tahu dan mencoba suatu hal yang baru pada hakikatnya merupakan ciri khas manusia. Setiap kali ia menemukan titik nol yang ternyata memilki kemungkinan untuk terus berkembang, maka ia akan terus berupaya mengikuti perkembangan tersebut sampai ke sudut tersempitnya tanpa batas akhir kepuasan mutlak. Kesemuanya karena ruang semesta manusia bukan hanya sebuah ruang kenyataan yang bersifat statis, namun juga dinamis. Berbagai pengalaman kehidupan tersebut menjadi persepsi-persepsi yang terserak-serak dalam ruang batin dan pikir manusia yang akan mampu digeneralisir sesuai kecenderungan masing-masing, dan akhirnya menjadi suatu konsepsi dasar kehidupan itu sendiri. Karena merupakan ciri khas manusia, normalnya ia akan terus menjadi pola dasar yang akan muncul dengan sendirinya dalam melihat setiap fenomena yang ada disekitarnya, akan tetapi kenyataannya tidak sepenuhnya demikian.
Bahwa kemanusiaan adalah satu (mankind is one) dan sama di mana-mana, adalah benar adanya. Akan tetapi, terkadang ekspresi cipta, rasa, dan karsa manusia lebih didominasi oleh pengalaman rasa individu ataupun kecenderungan ego pribadi, yang tentu saja seharusnya menggabungkan ketiga unsur tersebut. Siapapun bisa jadi akan sangat sulit beranjak dari segala internalisasi nilai yang membentuk pola pikirnya, di setiap proses penemuan jati dirinya, sehingga ia akan lebih cenderung mempersepsikan dan mempolarisasi sesuatu hal sesuai dengan konsepsi kebiasaaannya. Baik individual maupun komunal. Jikalau para ahli antropologi, sosiologi, dan psikologi yang mempelajari pola-pola kelakuakn manusia tidak lagi berbicara mengenai pola-pola kelakukan manusia (patterns of behaviour), melainkan mengenai pola tingkah laku (patterns of action) dari indiviu tersebut, maka tidak demikian halnya dengan memahami dunia seorang pengarang, karena memahami sorang pengarang pada hakikatnya memahami keseluruhan unsur yang melingkupi individu manusia itu sendiri.

Pemikiran Pierre Bourdieu, seorang sosiolog Perancis, tentang habitus sepertinya menarik untuk dicermati dalam memandang permasalahan ini. Pierre Felix Bourdieu (1 Agustus 1930 – 23 Januari 2002) adalah seorang pemikir Perancis yang terkemuka, dikenal sebagai seorang sosiolog, antropolog, bahkan aktivis pergerakan antiglobalisasi. Karya-karyanya sangat beragam, mulai dari etnografi, seni, sastra, pendidikan, bahasa, kultural, bahkan tentang televisi. Bourdieu merumuskan sebuah pola praktik yang dialami oleh setiap manusia dalam kehidupannya. Pola yang menjadi hasil akhir dari sekian hal yang dimilki maupun terjadi pada fase kehidupan dari seorang individu, yang apabila ditarik gagasan umum terdiri dari tiga hal, yaitu : habitus, modal, dan ranah. Secara ringkas, rumus generatif yang digunakan Bourdieu dalam menerangkan praktik seorang individu adalah dengan persamaan : (Habitus x Modal) + Ranah = Praktik.

Menurutnya, Habitus adalah suatu sistem disposisi yang berlangsung lama dan berubah-ubah (durable, transposible disposition) yang berfungsi sebagai basis generatif bagi praktik-praktik yang terstruktur dan terpadu secara objektif. Habitus berarti pula struktur kognitif yang memperantarai individu dan realitas sosial. Habitus bisa dikatakan sebagai ketidaksadaran kultural, yakni pengaruh sejarah yang secara tak sadar dianggap alamiah. Habitus adalah produk sejarah yang terbentuk setelah manusia lahir dan berinteraksi dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu. Sedangkan ranah (field) diartikan sebagai jaringan relasi antar posisi-posisi objektif dalam suatu tatanan sosial yang hadir terpisah dari kesadaran dan kehendak individual. Modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan, suatu kekuatan spesifik yang beroperasi di dalam ranah. Setiap ranah menuntut individu untuk memilki modal-modal khusus agar dapat hidup secara baik dan bertahan
di dalamnya.

Menurut Pierre Bourdieu pula, sebagai kelanjutan dari pemikirannya, habitus yang dikalikan dengan berbagai bentuk modal yang terdapat disekitarnya kemudian ditambahkan dengan ranah tertentu yang menjadi pilihan dalam mengaktualisasikan hidupnya maka akan menghasilkan suatu bentuk praktik sosial.
Seorang pengarang, dalam berproses menghadirkan sebuah karya pastilah tidak bisa terlepas dari proyeksi kehidupan pengarang itu. Meskipun dalam kondisi yang stabil, dalam artian sedang tidak terjadi tribulasi dalam kehidupannya, materi karya yang ditemukan maupun dimunculkan secara historis adalah hasil dari persamaan Bourdieu tersebut. Sebuah ide mungkin bisa muncul tiba-tiba, ketika sedang menikmati secangkir teh madu ataupun sepiring jamur goreng. Akan tetapi ketika ia mulai digabungkan dengan berbagai unsur tambahan lain, maka ia akan menjelma menjadi wujud lain pengarang tersebut. Material sebaru apapun, tidak akan bisa terlepas dari historis pengarangnya.

Namun, seperti ungkapan di permulaan tulisan ini, Memahami dunia seorang pengarang memang bukanlah suatu hal yang mudah, ibarat menyingkap kabut yang menyelimut di pegunungan. Serasa mudah tetapi lain kenyataannya.
Semoga kebaikan, datang dari segala arah.


--tulisan lama, lupa kapan nulisnya, kayaknya siy tahun 2005an--

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar