Jumat, 12 Juni 2009

Teatrikal Ervin Goffman

Metafora Teatrikal di Lembaga Legislatif



Erving Goffman, sosiolog ternama abad ke-20 menganalisis tingkah laku manusia diibaratkan sebuah metafora teatrikal, di mana masyarakat dianggap sebagai sebuah panggung dan orang-orang bertindak sebagai aktor yang menyusun performa mereka untuk memberi ke
Analisis Goffman dikutip Littlejohn (2002) dalam mengkaji masyarakat dari sudut pandang interaksi simbolik, dan analisis ini sangat signifikan untuk melihat konflik internal terjadi di DPR-RI selama dua pekan.

Perpecahan di lembaga legislatif periode 2004-2009 telah melahirkan dua kubu, yaitu Koalisi Kebangsaan dengan Koalisi Kerakyatan memberi kesan buruk di mata rakyat. Dua koalisi sama-sama mengatasnamakan rakyat untuk mengejar kekuasaan. Perebutan kekuasaan menyebabkan mata hati para anggota dewan melupakan sementara amanah yang dititipkan dipundaknya.

Kepiawaian bersilat lidah dengan jargon komunikasi politik atas nama kepentingan kelompok masing-masing koalisi mengubur budaya demokrasi yang berusaha ditegakkan dalam era keterbukaan. Yang ada di benak politisinya, siapa mendapat apa?

Energi politik dihabiskan berkonflik untuk meraih kursi kekuasaan di lembaga rakyat terhormat, dianggap sebagai pekerjaan mulia atas nama tujuan dan ambisi politik. Koalisi Kebangsaan menyapu bersi seluruh komisi dan Koalisi Kerakyatan membuat komisi tandingan sehingga yang ada adalah pertarungan simbolik kekuasaan.

Adegan konflik di Senayan ini ibarat suatu pertunjukan drama politik, di mana konflik telah dijadikan komoditas untuk di pertontonkan di mata rakyat pemilih. Adegan yang dipangungkan, seperti analisis Goffman diperankan dengan apik dan memunculkan karakter politik masing-masing koalisi.

Karakter dipentaskan para politisi menggunakan politik kuat-kuatan dan menang-menangan, dan unsur dialog-lobby sebagai strategi komunikasi politik untuk mencairkan hubungan memanas dan dead-lock terkooptasi atas nama perebutan kekuasaan.

Efek dramatis sudah menjadi realitas politik di masyarakat, citra anggota dewan ?berseteru? adalah aktor-aktor politik dinilai hanya mementingkan dirinya sendiri dan mengabaikan kepentingan publik. Efek dramatis lainnya menampilkan para ?politisi bertopeng?.

Artinya, politisi pada saat kampanye mengumbar janji-janji politik manis dengan dalih kepentingan rakyat, pada saat duduk di lembaga legislatif, karakter yang bertopeng melekat dalam diri politisi telah terbuka, yang nampak adalah karakter aslinya. Karakter asli ini kadang cenderung culas dan menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisi pribadi dan ambisi koalisi.

Maka interaksi simbolik palsu memunculkan karakter ?penampakan? palsu. Dampaknya, menurunkan kredibilitas aktor-aktor politik. Jika perseteruan dua kubu koalisi tidak diakhiri dengan pembagian kekuasaan secara proporsional dan penyelesaian yang dapat diterima logika publik, maka ada dugaan awal muncul fenomena partisipasi politik masyarakat 5 tahun mendatang untuk memilih wakilnya di lembaga legislatif akan cenderung menurun. Adanya citra buruk itu buka saja merugikan anggota dewan berseteru tetapi menurunkan derajat demokrasi yang sementara dibangun dengan susah payah.

Metafora teatrikal sudah ditunjukkan anggota legislatif akan menjadi catatan tersendiri dalam kehidupan politik di DPR RI, maka perebutan kekuasaan dua kubu koalisi dapat disimpulkan sementara; (1) Wakil rakyat mengatasnamakan diri sebagai politisi berparadigma baru ternyata hanya slogan politik, (2) Jika legislator diperhadapkan pada kekuasaan maka kepentingan rakyat cenderung dilupakan.

(3) Politisi yang ada di Senayan mempermalukan dirinya sendiri dengan mempertontonkan drama perebutan kursi kekuasaan, (4) Hawa nafsu ingin menyapu bersih kursi komisi sehingga rambu-rambu aturan ditabrak demi memenangkan pertandingan politik, (4) Munculnya citra miring terhadap koalisi yang bersengketa tidak saja menurunkan wibawa lembaga legislatif tetapi mencederai proses demokrasi.

Itulah drama politik ditampilkan lembaga legislatif. Dan, aktor-aktor pemeran dari dua kubu koalisi merasa tidak ?sadar dan berdosa? kepada pemberi kedaulatan. Yang ada dibenaknya adalah kekuasaan. Perebutan kekuasaan mengalahkan kepentingan rakyat. Ini suatu ironi bagi wakil rakyat yang dipilih langsung oleh rakyatnya. Sungguh dramatikal, metafora, dan teatrikal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar