Jumat, 12 Juni 2009

Socrates Sang pemikir

Socrates Bicara tentang Bidan

1Jan2009 Filed under: Epistemology, Philosophers, Philosophy

Socrates : Si Jelek yang Lucu

Socrates mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangan filsafat di barat, karena Socrates merupakan filusuf pertama yang memulai filsafatnya dengan mengandalkan sepenuhnya rasio atau akal budi manusia dan meninggalkan jauh mitis yang saat itu mulai ditinggalkan oleh bangsa Yunani.

Socrates lahir di Athena, Yunani pada tahun + 469 dan berasal dari keluarga yang cukup berada karena bapaknya seorang pemahat bernama Sophroniskos dan ibunya adalah seorang bidan yang bernama Phainarete.

Menurut beberapa sumber yang dapat dipercaya diperoleh informasi bahwa Socrates adalah murid dari Arkhelaos yaitu seorang filusuf pengganti Anaxagoras, dan ia juga membaca karya-karya Anaxagoras karena ia tertarik pada ajaran nus yang nantinya ia juga kecewa akan isis ajarannya. Dari filusuf-filusuf alam ini ia kemudian berbalik mencari jalan filsafatnya sendiri.

Socrates adalah seorang yang bertubuh kuat namun berwajah buruk bahkan dicoba digambarkan keburukan wajah Socrates yang disamakan dengan Satyros yang dalam mitologi Yunani adalah mahluk yang setengah berupa hewan dan setengah berupa manusia, namun disatu sisi digambarkan juga kekuatan fisiknya dimana Socrates selalu memakai mantel yang sama disaat musim dingin dan panas, dan ia selalu bertelanjang kaki, Socrates tahu bagaimana cara mengendalikan dirinya sehingga ia luput dari segala kebutuhan insani. Kata sofis Antiphon tentang cara hidup Socrates, “ Seorang budak yang dipaksa untuk hidup begitu, pasti akan melarikan diri”. karena kekuatan fisik itulah tidak mengherankan apabila ia bisa bergabung dalam kemiliteran dan masuk dalam Hoplites, yaitu suatu bentuk pasukan infanteri, dan pada masa itu persenjataan yang merawat adalah tentara itu sendiri sehingga yang menjadi tentara adalah mereka-mereka yang mampu saja. Dengan menjadi tentara inilah Socrates sempat 3 kali meninggalkan kota Athena untuk berperang, dan menurut beberapa sumber memang hanya 3 kali inilah Socrates meninggalkan Athena.

Socrates sempat menikah dengan seorang wanita yang bernama Xantippe, ia seorang yang toranik dan Socrates sering di marahinya karena gaya hidup yang teramat sederhana dan terkesan tidak memperhatikan keluarganya. Socrates mempunyai 3 orang anak laki-laki dari perkawinannya itu dan 2 aanak masih dalam usia muda saat ia meninggal dunia.

Pada usia 70 tahun ia diajukan ke sidang karena dianggap membahayakan penduduk Athena. Ia dituduh tidak percaya pada allah-allah yang diakui oleh polis dan mengintrodusir praktek-praktek religius baru, ia juga bersalah karena ia mempunyai pengaruh yang kurang baik atau kaum muda. Dan akhirnya Socrates meninggal karena ia dihukum mati dengan meminum secawan racun, demi mempertahankan pendiriannya yang tidak ingin meninggalkan Athena seperti yang dilakukan kaum sofis.

Sayangnya kita tidak bisa menemukan karya asli dari Socrates karena memang Socrates tidak pernah menuliskan ajarannya, karya-karya yang beredar saat ini adalah tulisan dari beberapa muridnya yang bisa di percaya kebenarannya diantaranya ditulis oleh Aristophanes yang seorang pengarang cerita komedi, Xenophon, Plato yang merupakan murid setianya, dan Aristoteles.

Bidan : Membantu Kelahiran Hakekat

Ajaran-ajaran Socrates sebenarnya merupakan kritik terhadap kaum sofis, dimana mereka mengajarkan kebijakan pada banyak orang baik didalam Athena maupun di luar kota Athena, namun dengan memungut bayaran. Yang kaum Sofis ajarkan kebantanya retorika dan kebanyakan dari mereka orangnya angkuh karena mereka merasa mereka lah orang yang paling bijaksana dan merekalah orag yang maha tahu, dan kaum sofis mengatakan kebenaran berlaku relatif.

Socrates membantah itu semua, ia mengatakan pasti ada kebenaran yang sifatnya obyektif, dan ia lebih memusatkan perhatian pada tingkah laku manusia, bahkan ada seorang yang mengatakan Socrates telah membawa filsafat dari langit turun ke bumi, ini didasarkan atas ajarannya yang menjadikan filsafat memperhatikan manusia bukan alam semesta.

Cara yang dilakukannya adalah dengan metode dialektika yaitu melakukan dialog dengan siapa saj ayang ditemuinya dan Socrates bertanya tentang segala hal yang menyangkut khidupan manusia bahkan pertanyaannya terkadang mudah namun sulit untuk dijawab oleh beberapa orang, terkadang ia mengungkapkan pertanyaan dengan humor yang terkesan tidak serius.

Socrates sebenarnya ingin memperkenalkan metodenya ini dengan nama maieutike tekhne atau dapat diartikan sebagai seni kebidanan. Yang dimaksud Socrates disini adalah membidani jiwa, karena ia percaya bahwa setiap orang telah mempunyai pengetahuan semu yang didapat dari ilham yang disampaikan oleh roh atau pertanda ilahi (daimonion semeion), namun biasanya manusia tidak menyadarinya, dan tugasnyalah untuk menyedarkan mereka akan pengetahuan semua itu sehingga yang tadinya pengetahuan bersifat semua menjadi pengetahuan yang nyata dan disadari. Pada perkembangannya Plato yang merupkana muris Socrates akan terpengaruh dengan ajaran ini dalam memandang teori 2 dunianya, dimana Plato berpendapat bahwa manusia sudah mempunyai pengetahuan dari dunia idea dan tugas seorang guru adalah untuk mengingatkannya kembali pengetahuan yang telah didapatkannya di dunai idea.

Mengapa pengetahuan begitu penting bagi Socrates ?, karena pengetahuan itu mempengaruhi manusia dalam bertindak, ia mengatakan bahwa pengetahuan adalah keutamaan (arete) dan keutamaan atau kebijakan ini merupakan sarana utama untuk mencapai kebahagiaan jiwa (eudaimonia). Socrates mengatakan bahwa kebahagiaan terutama kebahagiaan jiwa merupakan tujuan utama kehidupan manusia, selain itu juga jiwa merupakan inti sari dari manusia.

Dalam menerapkan metode maieutike tekhene ini Socrates bertujuan ingin menemukan hakekat atau inti sari dari segala sesuata yang adad disekelilingnya, terkadang dalam mencari pengetahuan itu ia bertindak sebagai orang yang tidak tahu, Plato menamakan ketidaktahuan Socrates ini sebagai ironi (eironeia)

Langkah yang biasa di lakukan Socrates adalah dengan melakukan dialog dengan orang yang ditemuainya biasanya di pasar atau di gymnasium, disana ia melakukan percakapan yang segar tidak terduga, sangat tenang dan sederhana bahkan terkadang diselingi oleh humor. Socrates biasanya mengawali dengan mengajukan pertanyaan tentang suatu hal yang ia tidak tahu, ia meminta orang untuk merumuskannya dan rumusan pertama yang ia temui ia jadikan hipotesa yang harus ia uji dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Sering kali endapat yang diberikan saling bertentangan, Socrates menguji dengan cross-examination dengan membandingkan jawaban dan perkataan. Proses ini dinamakan elenkhos. Setelah didapatkan jawaban yang berbelit-belit dan beraneka ragam ia mencoba melakukan induksi. Ia mencoba membandingkan, membersihkan, menyisihkan dan menolak dan berusaha membuat generalisasi dan merumuskan pengertian yang umum berupa definisi yang tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit.

Proses ini lah yang dilakukan Socrates dalam mengungkapkan pengetahuan orang agar mereka sadar bahwa mereka memunyai pengetahuan itu di dalam otaknya yang mereka tidak sadari keberadaannya, sehingga Socrates tidak sepenuhnya menyalahkan apabila seseorang melakukan kesalahan karena bisa jadi mereka tidak mmempunyai pengetahuan tentang yang benar.

Daftar Pustaka

  1. Bakker, Anton, Metode-Metode Filsafat, cet. 1, Ghalia Indonesia, 1984
  2. Bertens, Kees, Sejarah Filsafat Yunani, cet.14, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1997
  3. ———-, Ringkasan Sejarah Filsafat, cet. 15, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1998
  4. Brouwer, M.A.W, M.P Heryadi, Sejarah Filsafat Barat Modern dan Sezaman, cet. 3, Penerbit Alumni, 1986
  5. Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, cet. 15, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1998
  6. Poedjawijatna, I.R, Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, cet.10, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1997

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar