Selasa, 21 April 2009

Teori Kritik Sosial Habermas

Sejarah dan prawacana Jurgen Habermas

Habermas belajar di bawah Ardono selama bebe­rapa tahun dan umumnya dikenal sebagai pewaris kon­temporer utama dari warisan Frankfurt. Walaupun ter­dapat tema-tema umum yang berbeda antara karyanya dengan karya dari para pendahulunya, namun, demikian dia mengambil hal itu dalam arah yang berbeda sama sekali. Kita membandingkan Lukaes dengan Ardono, Marcuse dan Horkheimer sebagai wakil-wakil pesimistik dan optimistik dari kerangka kerja teoritis yang se­cara mendasar sama; apa yang menyatukan mereka adalah minat yang sangat besar terhadap kebebasan manusia, betapapun tipisnya kemungkinan dari adanya kebebasan itu dalam dunia riil.Begitu juga Habermas juga mengekspresikan per­hatian yang sama tetapi nampaknya dia kurang sedemi­kian melibatkan diri. Dia keluar dari sayap optimisme ke pesimisme dan sebagai gantinya dia memberikan per­hatian yang besar terhadap analisa mengenai struktur-struktur dan tindakan sosial di bandingkan para penulis yang terdahulu. Habermas bukanlah seorang yang bersifat radikal dalam seumur hidupnya, nampaknya setelah pertumbuhan dalam Nazi. Jerman, dia hanya mu­lai bergerak ke kiri di bawah pengaruh dari Ardono. [1] Untuk sementara pada pertengahan tahun 1960-an, dia adalah seorang pendukung yang kuat dari mahasiswa sayap kiri, tetapi kemudian menjauhkan dirinya dari mereka, sambil mengatakan bahwa mereka hanya membangun bentuk-bentuk dominasi baru. Karyanya sering diambil oleh golongan kiri, tetapi hal itu termasuk suatu per­pindahan yang radikal dari bentuk-bentuk Marxisme. Kami akan mencoba membuat out line dari ciri-ciri utamanya dengan memakai suatu pertentangan antara dia dan karyanya dari anggota-anggota madzhab Frankfurt dengan memperhatikan pandangannya mengenai teori. Kemu­dian pada kritikannya terhadap Marxisme dan akhirnya pada pokok analisanya mengenai masyarakat kapitalis modern,

2. Sosok pemikiran Jurgen Habermas

Jurgen Habermas adalah tokoh terkemuka dewasa ini, sebuah aliran filsafat yang sejak 60 tahun sema­kin berpengaruh dalam dunia filsafat maupun ilmu-ilmu sosial, yaitu filsafat kritis. Filsafat kritis berdiri dalam tradisi besar pemikirannya yang mengambil inspi­rasinya dalam karya intelektual Karl Marx. Ciri khas filsafat kritis adalah ia selalu,berkaitan erat dengan kritik terhadap hubungan-hubungan sosial yang nyata, Pemikiran kritis merefleksikan masyarakat serta dirinya sendiri dalam konteks dialektika struktur-struktur penindasan dan emansipasi. Pemikiran kritis merasa diri bertanggungjawab terhadap keadaan sosial yang nyata. Dengan demikian berpikir kritis berarti bahwa di suatu pihak perdebatan tetap berlangsung ditingkat filosofis-teoritis, jadi filsafat kritis tidak mau menjadi ideologi perjuangan. Tetapi di lain pihak filsafat kritis berdasarkan anggapan-anggapan yang mana masuk sampai ke dalam inti metodologinya bahwa justru sebagai kegiatan teoritis yang tetap tinggal dalam medium pikiran.[3] Jurgen Haberman sesudah menjadi profesor di Frankfurt sebagai pengganti Adorno, mengalami begitu banyak gangguan dan demontrasi dari pihak mahasiswa sehingga ia pada tahun 1971, hanya enam tahun kemudi­an berhenti sebagai profesor dan menjadi peneliti pa­da institute Max Plank di Stranberg (sejak tahun 1983 dalam alam akademis yang lain sama sekali, dimana zaman “Kiri Baru” sudah terlupa ia kembali sebagai profesor di Universitas Frankfurt).

3. Teori Epistemologi kaitannya Karl Marx

Filsafat ilmu pengetahuan social melibatkan dirinya dalam dua isu: pertama; hakekat dunia, apa hakekat dari hal yang ada (di dunia), ini dan adakah perbedaan dari keberadaannya. Kedua; filsafat ilmu tertuju pada hakekat suatu penjelasan, mengenai cara mengetahui pengetahuan sebagai pengetahuan Marx me­ngatakan semua ilmu pengetahuan akan menjadi berlebihan. kalau penampilan luar dan esensinya, persis sama. Tidak satupun penampilan luar dari meja saya yang memberitahukan kepada saya, bahwa ia terbuat dari jutaan, molekul yang bergabung satu sama lain. Menurut Marx terdapat dua pengertian yang jelas di mana suatu pro­ses sebab akibat berlangsung dalam masyarakat.Pertama, seperangkat hubungan-hubungan sosial yang pokok, struktur sosial, bisa di lihat sebagai pe­nyebab hubungan-hubungan sosial tertentu di permukaan misalnya seorang Marxis, bisa berdalih bahwa argumen‑argumen politik yang di laporkan dalam berita - berita setiap hari di sebabkan oleh hubun.gan-hubungan ekonomi yang penting, kendati argumen-argumen itu tidak me­nyangkut ekonomi. Kedua, suatu struktur pokok yang se­demikian rupa, sehingga ia memiliki hukum-hukum tertentu atau kecenderungan-kecenderungan perkembangan tertentu; misalnya mungkin ada mekanisme tertentu didalam hubungan-hubungan pokok masyarakat kapitalis yang mem­bawa akibat krisis-krisis ekonomi yang berkelanjutan atau menyebabkan meningkatnya campur tangan negara da­lam kegiatan ekonomi. [4]Pengetahuan menurut Marx yaitu pekerjaan dan akal budi dengan manusia alami. Dengan demikian bagi Marx pun tak ada artinya melawankan subyek dan objek. Manusia dan dunia, dua-duanya hanya mungkin dalam saling pengantaran. Manusia tidak mungkin tanpa alam dari padanya ia hidup dan yang dikerjakannya. Tetapi alam­pun sebagai mana manusia menghadapinya hanyalah alam, melaiui manusia. Ia adalah alam yang diberi bentuk oleh manusia. Baru pekerjaan manusia membuat alam seada sekarang, sebagaimana ia menjadi obyek manusia. “Dengan demikian alam pada dirinya sendiri adalah sesuatu yang abstrak, yang harus kita pikirkan, akan tetapi kita bertemu alam selalu hanya dalam cakrawala proses sejarah universal pembentukan umat, manusia”.Oleh karena itu Marx menyatakan “bahwa kesatuan termashur manusia dengan alam dalam industri sejak du­lu selalu sudah terdapat dan dalam setiap tahap atau sejarah terdapat secara berlainan, tergantung dari tingkat perkembangan industri yang kurang atau lebih be­sar, seperti juga pergulatan manusia dengan alam, sampai keperkembangan alat-alat produktifnya di dasar yang sesuai”. Pertanyaan tentang bagaimana dunia da­pat dimengerti (,masalah epistemologis) di pecahkan, dengan manusia membuat dunia itu.

4. Analisa Habermas tentang Kapitalis Modern

Habermas tentang kapitalisme modern kurang me­naruh perhatian yang besar terhadap yang telah dike­mukakan oleh para madzhab Frankfurt yang lebih awal. Hal itu dilihat pertama-tama sebagai suatu tahap da­lam perkembangan yang bersifat evolusioner - suatu tingkat yang mungkin berlangsung salah dan membawa benca­na, tetapi bagi Habermas bagaimanapun hal itu lebih merupakan suatu sistem sosial daripada suatu yang jahat. Seperti para pemikir yang lebih dahulu, dia menekankan dominasi teknologi dan nalar instrumental dan kits juga bisa lihat suatu pengalihan pandang4n kebelangan yang lebih nostaigik-pads periode kapital­isme awal.[6]Habermas melihat kapitalisme modern seperti yang dikarakterkan oleh dominasi negara atas ekonomi dan bidang-bidang lain dari kehidupan sosial. Bagi Habermas intervensi negara dan akibat pertumbuhan dari nalar instrumental telah menjangkau suatu titik berbahaya yang disebutnya sebagai suatu “utopia negatif” adalah mungkin. Rasionalitas progesif dan putusan-pu­tusan publik lebih menjangkau titik dimana organisasi sosial dan perbuatan putusan mungkin bisa di delegasikan kepada para penghitung mengeluarkannya dari arena perdebatan publik secara bersama-sama.Analisa mengenai kapitalisme awal serupa dengan analisanya Marx dengan krisis ekonomi sebagai hal yang paling penting. Bagaimanapun juga kapitalisme bisa di­lihat sebagai suatu kombinasi dari tebak-berapa-banyak subsistem-subsistem: ekonomi, politik dan sosial buda­ya dan tempat krisis yang berpindah dari satu ke yang lainnya, ketika sistem berkembang krisis ekonomi dan konflik yang di hasilkan antara pekerjaan dan model di lihat semata-mata sebagai krisis sistem. Pertumbuhan integrasi dan kekuasaan dari negara merupakan suatu respons dan suatu usaha yang berhasil, walaupun Habermas tidak menyatakan bahwa krisis-krisis ekonomi telah, menghilang; memang untuk sementara akan sulit untuk bersikap keras terhadap pernyataan separti ini.

5. Jurgen Habermas untuk menuju teori praktis

Teori kritis menurut Habermas di sebut dengan “teori dengan maksud praktis” berarti tindakan yang membebaskan model teori kritis dengan maksud praktis ditemukan Habermas. Dalam masalah teori-teori Habermas mempunyai beberapa kepentingan; kepentingan peng­etahuan dan kepentingan praktis ide itu bukanlah tidak serupa dengan mengatakan bahwa seorang mahasiswa mengembangkan suatu kepentingan” dengan maksud untuk mem­peroleh suatu tingkat dari tujuannya. Kepentingan yang dibicarakan Habermas ini, bagaimanapun juga dimiliki oleh kita semua dalam keanggotaan masyarakat manusia. Argumentasinya berakar di dalam karya Marx, dan kita temukan kritikan utamanya tentang teori Marx.Kepentingan selanjutnya yaitu kepentingan prak­tis, yang pada gilirannya memunculkan ilmu pengetahuan Hermeneutik yang dengan caranya menginterpretasikan tindakan satu sama lain. Baik secara individu, sosial masyarakat maupun secara organisatoris secara kritis menurut Habermas.[8] Kepentingan praktis, kata Habermas memunculkan suatu kepentingan ketiga, “kepentingan emansipatoris“. Dia membangkitkan pengetahuan teoritis, untuk itu Ha­bermas mengambil psikoanalisa sebagai model untuk mengkaitkan antara kemampuan berfikir dan bertindak dengan kesa­daran sendiri. Maka, teori bagi Habermas merupakan suatu produk dan memenuhi maksud dari tindakan manusia. Se­cara esensial itu adalah alat untuk kebebasan manusia yang besar.

6. Rumusan strategi teori epistemoiogi

Penelitian terhadap hubungan antara ilmu peng­etahuan dan kepentingan menjadi salah satu usaha pokok Habermas. Penegasan kunci Habermas adalah bahwa tidak masuk akal kita bicara umum tentang kepentingan di be­lakang ilmu-ilmu sebagaimana dilakukan oleh Horkheimer, Adorno dan Marcuse. Habermas menegaskan (sesuai dengan pendekatan teori kritis sejak semula) bahwa ilmu pengetahuan malah hanya mungkin sebagai perwujudan ke­butuhan manusia, yang terungkap dalam suatu kepentingan fundamental.Pekerjaan merupakan “bentuk sintesis manusia dan alam yang di satu pihak mengikatkan objektivitas alam pada pekerjaan objektif subjek-subjek (manusia­manusia, FMS), tetapi di lain pihak tidak meniadakan independensi eksistensinya” (EI. 46). Kenyataan ini menunjukkan bahwa pekerjaan merupakan kategori episte mologi, istilah filsafat ilmu pengetahuan,

7. Dogma marxisme dan kaitannya dengan struktur sosial

Pada kenyataannya Habermas menyarankan bahwa tingkat ekonomi dari formasi sosial hanya dominan da­lam masyarakat kapitalis, barangkali hanya dalam kapitalisme awal, dia mengatakan setiap tipe masyarakat diatur oleh suatu kompleks institusional tertentu mungkin hal itu adalah institusi ekonomi untuk kapi­talisme awal, negara untuk kapitalisme akhir dan sis­tem kekerabatan dalam masyarakat suku terasing. Namun demikian institusi-institusi itu sendiri bisa dilihat sebagai penjelmaan-penjelmaan dari nilai-nilai budaya dan norma-norma yang dia lihat sebagai hal yang ber­kembang kearah tingkat-tingkat universalitas yang se­makin tinggi. Menurut Habermas bahwa institusi sosial ada tidak hanya untuk membantu dan mempertahankan produksi ekonomi tetapi juga menekan kembali keinginan yang mau membuat kehidupan sosial menjadi tidak mung­kin. Habermas memperhatikan evolusi masyarakat manusia dari jumlah sudut pandangan yang lain, biasanya menghasilkan klasifikasi yang tiga kali lipat.[11]Masyarakat dilihat sebagai hasil dari tindakan manusia pada giiirannya distruktur oleh norma-norma dan nilai-nilai. Dan terhadap perkembangan- perkembangan dari nilai-nilai dan norma-norma inilah kita harus perhatikan kalau kita mau memahami perubahan so­sial. Dasar-dasar untuk kritik sosial terletak dalam tujuan yang terhadapnya perkembangan sosial itu beru­bah, suatu rasional universal yang di dalamnya setiap orang berpartisipasi secara sama. Suatu situasi dimana komunikasi tidak mengalami distorsi - suatu situasi per­cakapan yang ideal, yang ingin dibuatkan out line-nya oleh Habermas. Seperti dengan karya persons kita bera­khir dengan konsepsi kecil atau sederhana tentang tingkat-tingkat dari organisasi sosial, di luar yang di­berikan oleh pemberian prioritas kepada kebudayaan, tak ada pengaruh mengenai mekanisme sebab akibat dan lebih merupakan suatu pengklasifikasian umum daripada suatu sistem yang bersifat menjelaskan.

8. Pendekatan Historis menurut Habermas

Paradigma Teori Kritis masyarakat Ilklasik” di­tentukan oleh dua faham fundamental: gaya pemikiran his­toris dan gaya pemikiran materialis. Dengan pola berpikir historis dimaksud bahwa realitas sosial yang ada sekarang hanya dapat di pahami betul kalau dilihat sebagai hasil sebuah sejarah. Ilmu-ilmu positif menyelubungi secara idiologis fakta yang paling fundamental bahwa sejarah itu di buat oleh manusia sendiri (dalam bahasa Marx: manusia sebagai Gattungswesen atau makhluk jenis membuat sejarahnya sendiri), bahwa sejarah itu merupakan sejarah penindasan, bahwa penindasan itu justru ditutup-tutupi sehingga realitas sekarang tampak sebagai objektifitas yang wajar. Teori kritis bertugas membuka selubung idiologis itu, jadi membuka penghisapan dan penindasan itu sebagai karya manusia dan dengan demikian membuka kemungkinan pembebasan.Maka Habermas bicara tentang “teori kritis sejarah dengan maksud praktis”. Dengan meminjam pola pendekatan psikoanalisa Sigmund Freud, ia mengharapkan agar ingatan kembali terhadap sejarah penderitaan dan penindasan (yang di tutup oleh “teori positif”) melepaskan kekuatan-kekuatan emansipatoris: menyadari diri sebagai kurban penindasan terselubung memberikan tekad untuk membebaskan diri dari sebuah situasi yang sekarang ti­dak lagi dipandang “objektif perlull, melainkan sebagai hasil proses sejarah.

9. Kesimpulan

Dari uraian tersebut di atas maka dapat disimpulkan beberapa hal, yakni :1. Bahwa Jurgen Habermas adalah filosof dari Jerman yang menggunakan sifat kritis terhadap berbagai macam per­soalan termasuk teori tradisional. Tentu hal itu ti­dak sendirian, melainkan bersama temannya Adorno dan Horkheimer. Mereka semua itu berasal dari madzhab Frankfurt, namun dengan itu dia termasuk taruhannya, dan selalu dikritik orang-orang sekitarnya.2. Habermas mempunyai kesadaran mengkritisi segala tin­dakan yang merugikan sosial, baik itu secara individu kelompok, masyarakat, ataupun organisasi.3. Habermas menggunakan dua pendekatan dalam mengkritisi sesuatu; gaya pemikiran historis dan pemikiran materialis. Dengan demikian ia tidak selalu menggunakan ga­ya filsafat kritis. Karena dia melihat adanya perubahan dalam sosial. Namun perubahan tersebut tetap dalam kerangka sosial yang nyata.

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K. Filsafat Barat abad XX (Inggris-Jerman). PT. Graha Media, Jakarta, 1983.Franz Magnis-Suseno, Filsafat sebagai Ilmu Kritis, Kani­sius, Yogyakarta, 1992.IAN CRAIB, Teori-teori Sosial Modern, CV. Rajawali, Jogjakarta, 1966


[1] IAN CRAIB, Teori-teori Social Modern,Rajawali Pers, Jakarta, 1986, h1m. 308.

[2] Ibid, hlm. 309

[3] Franz Magnis-Suseno, Filsafat sebagai Ilmu Kritis, Kanisius, Yogyakarta, 1992, him.175.

[4] IAN CRAIB, Op. Cit. hlm. 33

[5] Dr. K. Kertens, Filsafat Barat Abad XX (Inggris-Jerman), PT. Graha Media, Jakarta, 1985, hlm.39

[6] IAN CRAIB, Op. Cit, hlm.317

[7] Ibidj him. 320

[8] Ibid, him. 310

[9] Ibid, hlm. 313

[10] Franz Magnis-Suseno, Op. Cit, him. 183

[11] IAN CRAIG, Op. Cit, him. 316

[12] Ibid, hlm. 317

[13] Franz Magnis-Suseno, P. Cit, him. 182

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar