Selasa, 21 April 2009

Frankfurt School dan Habermas

Kemunculan mazhab Frankfurt bisa diteropong dari realitas masa ketika sains mulai menakutkan dalam kehidupan manusia. Bagi mazhab Frankfurt, logos telah mengubah wataknya dari protagonis ke antagonis. Senjata nuklir menjadi mitos baru yang menakutkan. Dengan teori kritiknya, mazhab Frankfurt, melakukan pertautan teori dengan praksis sosial manusia. Pengetahuan manusia dan ekistensinya merupakan hal yang tak terpisah pada realitas eksistensi eksternal. Antara pengetahuan manusia dengan segala motif yang menyertainya merupakan konsekuensi logis yang mustahil terberi. Problem motivasi apa yang ada pada pengetahuan setiap manusia, itulah yang mestinya dicurigai, sebab perdebatan apakah pengetahuan itu bebas nilai atau tidak, merupakan perdebatan yang menghabiskan waktu.

Adalah Jurgen Habermas, salah seorang tokoh terkemuka Mazhab Frankfurt, yang kemudian mencoba meretas kebuntuan teori kritis pendahulunya. Dari sejumlah penelitian dan perhatiannya terhadap komunikasi, ia kemudian menemukan solusi atas kesalahan pendahulunya dalam menggagas teori kritik masyarakat. Karenanya, ia dikenal sebagai pembaharu teori kritis. Sebab ia tidak sekedar merefleksikan kesalahan epistemologis pendahulunya yang mengantarkan mereka ke jalan buntu dalam bentuk penilaian. Malah Habermas, menyuburkan kembali khasanah teori kritis dengan sebuah paradigma baru. Rasio instrumental yang menjadi bagian dari teori kritis mashab Frankfurt, digesernya ke dalam apa yang ia sebut sebagai rasio komunikatif.

Habermas, memusatkan diri pada pengembangan piranti teori komunikasi dengan mengintegrasikan linguistic-analysis dalam teori kritisnya. Teori kritis Habermas kemudian diperkenalkan dengan nama The Theory of Communicative Action. Teori Tindakan Komunikatif yang di gagasnya, menandai usaha brilian untuk mendialogkan teori kritisnya dengan tradisi-tradisi besar ilmu-ilmu sosial modern.Dasarnya adalah distingsi tentang praksis. Praksis tidak hanya dipahami sebagai arbeit melainkan juga sebagai komunikasi. Praksis, dilandasi kesadaran rasional, rasio tidak hanya tampak dalam kegiatan menaklukkan alam dengan kerja, melainkan juga dalam interaksi intersubjektif dengan bahasa keseharian. Praksis merupakan konsep sentral dalam tradisi filsafat kritis. Praksis bukanlah tingkah-laku buta atas naluri belaka, melainkan tindakan dasar manusia sebagai makhluk sosial. Praksis merupakan hal yang tak terpisahkan dengan teori. Sehingga pembahasan praksis dalam teori Habermas, merupakan upaya untuk mempertautkan teori dengan praktik yang telah dipisahkan oleh bangunan positivistik atas nama pemurnian pengetahuan, paham kebebasan nilai ilmu-ilmu sosial, sebagai efek dari duel peradaban anatar logos dan mitos. Ruh dari teori tindakan komunikatif Habermas, merupakan cita suci pencapaian konsesnsus melalui komunikasi bebas dominatif, di mana pelaku komunikasi berada pada ruang subyek dan memposisikan apa yang dikomunikasikan sebagai obyek. Pelaku komunikasi mesti berada pada titik kesetaraan sebagai hal yang niscaya, sebab makna sebuah teks mesti dipahami tanpa paksaan.

Bagi Habermas, teori Kritis merupakan suatu metodologi yang berdiri pada ketegangan dialektis antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Teori Kritis hendak menembus realitas sosial sebagai fakta sosiologis, untuk menemukan kondisi yang bersifat transendental yang melampaui data empiris. Dengan demikian, Teori Kritis merupakan dialektika antara pengetahuan yang bersifat transendental dan yang bersifat empiris. Ini sekaligus sebagai penegasan tentang negasi ahistoritas ilmu pengetahuan yang dilancarkan saintisme atau positivisme sebagai serangan terhadap teori kritis. Sebab ilmu pengetahuan yang dipahaminya tidak menafikkan data pengalaman empiris. Teori kritis bermaksud membebaskan pengetahuan manuisa, bila terjatuh dan membeku pada salah satu ranah, entah transendental ataukah empirisme. Sebuah refleksi diri, ideologiekritik. Sebuah kritik ideologi.

Meskipun istilah wacana (discourse) sering dianggap sebagai sesuatu yang sederhana namun pada kenyataannya istilah ini cukup kompleks. Wacana (diskursus) merupakan wilayah kajian bahasa namun ia juga berkaitan langsung dengan praktek sosial dan kehidupan sehari-hari. Dalam konteks bahasa, wacana didefenisikan sebagai cara tertentu dalam berbicara, menulis dan berpikir. Wacana adalah cara tertentu dalam menggunakan bahasa. Akan tetapi, wacana tidak hanya merupakan cara berbahasa, namun lebih penting lagi, ia berkaitan secara langsung dengan praktek berbahasa tersebut, dan relasi sosial dibelakang praktek tersebut. Sebagai satu bentuk praktek, wacana berkaitan dengan ‘sejarah’ dan ‘waktu’. Wacana berkaitan dengan penggunaan bahasa di dalam zaman, waktu dan tempat tertentu. Sebagai salah satu konsep penting dalam filsafat ‘post-strukturalisme’, wacana melihat pentingnya kajian tentang ‘sejarah’ dan ‘waktu’ di dalam perbincangan tentang bahasa prakteknya. Ini bertentangan dengan pandangan strukturalisme yang justru menolaknya karena mementingkan ‘struktur’ yang melampaui kawasan sejarah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar