Selasa, 14 April 2009

Kritik Yang dilakukan Giddens

KRITIK TERHADAP MATERIALISME HISTORIS [1]

Abstraksi
Artikel ini memaparkan pikiran Anthony Giddens dalam melakukan
dekonstruksi, terhadap asumsi pandangan sejarah evolusioner. Pokok pikiran
Giddens, tidak terlepas dari paradigma tiga asumsi skema dalam konsep
historis Karl Marx. Artinya, Giddens berniat melakukan rekonstruksi
kekuasaan sebagai sesuatu yang inheren dalam konstitusi kehidupan
sosial.[2]

Anthony Giddens mengajukan teori sosial baru yang hendak melakukan
dekonstruksi terhadap teori sosial klasik. Tendensi subjektivisme dan
objektivisme dengan berbagai variannya, diwacanakan Giddens dengan teori
strukturasi. Rekonsiderasi terhadap karya Karl Marx, Emile Durkheim dan
Max
Weber, merupakan awal revisi radikal Giddens dalam membangun teori
strukturasi.


Mengenal Hidup dan Karya Giddens

Anthony Giddens lahir 18 Januari 1938. Pernah studi di Hull University dan
London Schools of Economics. Pada 1961, ia diangkat menjadi pengajar di
Leicester University. Karya awal Giddens, cenderung empiris dan berfokus
pada problema bunuh diri.

Sejak 1969, ia mengajar sosiologi di Cambridge University dan terlibat
dalam kegiatan lintas kultural, kemudian menghantarnya menulis karya
perdana, "The Class Structure of Advanced Societies" (1975). Pada tahun
1984, ia menerbitkan "The Constitution of Society", kemudian 1985, ia
diangkat sebagai profesor sosiologi di Cambridge University. Giddens juga
menerbitkan buku teks bercorak Amerika, "Sociology: A Brief but Critical
Introduction" (1987), yang juga menaikkan pamor Giddens sebagai sosiolog.

Teori strukturasi, merupakan salah satu usaha monumental dalam membedah
agensi dan struktur sebagai dualitas. Ia memperkenalkan teorinya sejak
1970, terutama dalam tulisannya bertajuk, "Capitalism and Modern Social
Theory: An Analysis of the Writings of Marx, Durkheim, and Max Weber"
(1971).

Giddens juga menerbitkan trilogi: A Contemporary Critique of Historical
Materialism (1981); The Nation-State and Violence (1985) dan Beyond Left
and Rigth: The Future of Radical Politics (1994). Kesemuanya
merepresentasikan usaha Giddens dalam menjustifikasi teori kritis tentang
modernitas.

Menurut Giddens, teori kritis harus memiliki tiga pendirian. Pertama,
secara metodologis harus memadai sekaitan dengan isu dasar agensi,
struktur
dan interpretasi sejarah. Kedua, harus dilengkapi analisis institusional
terhadap modernitas. Ketiga, harus bergulat dengan apa arti kritik dan
bagaimana dijustifikasikan.

Dalam The Consequences of Modernity (1990), Giddens menggunakan istilah
modernitas "radikal", "tinggi" atau "terakhir", untuk mendiskripsikan
masyarakat saat ini. Menurut Giddens, masyarakat saat ini, merupakan
kontinuasi maupun diskontinuasi masyarakat sebelumnya. Bahkan Giddens
memandang modernitas sebagai "juggernaut", sebuah kereta raksasa yang
menggilas segala sesuatu yang ada di jalannya. Modernitas, menurut
Giddens,
sekurang-kurangnya pada tingkat tertentu tidak terkontrol.

Sejumlah karya Anthony Giddens yang "terkini" diantaranya adalah:
~ Modernity and Self Identity: Self and Society in the Modern Age (1991)
~ The Transformation of Intimacy: Sexuality, Love, and Eroticism in Modern
Societies (1992)
~ Beyond Left and Right: The Future of Radical Politics (1994)
~ Politics, Sociology and Social Theory (1995)
~ Reflexive Modernization: Politics, Tradition, and Aesthetics in Modern
Social Order (1995)
~ In Defence of Sociology: Essays, Interpretation and Rejoinders (1996)
~ Readings for Sociology (1997)
~ The Third Way: The Renewal of Social Democracy (1998)[3]
~ Runway World (1999)

Kritik Terhadap Sejarah Perkembangan Masyarakat

Giddens meneropong tiga asumsi skema evolusioner dalam konsep Karl Marx.
Pertama, masyarakat cenderung berkembang dari bentuk organisasi yang
relatif simpleks ke bentuk organisasi yang relatif kompleks. Kedua, sumber
perubahan sosial pada dasarnya endogen karakternya. Ketiga, perbandingan
antara tipe masyarakat harus dibuat antar tipe-tipe masyarakat yang saling
berdekatan atas dasar skala evolusioner.

Selanjutnya, Giddens berupaya melakukan dekontruksi atas asumsi sejarah
evolusioner. Sekaligus ia melakukan rekontruksi kekuasaan sebagai sesuatu
yang inheren dalam konstitusi kehidupan sosial. Dalam konteks ini, ia
mengemukakan empat area tegangan utama dalam skema sejarah evolusioner
Karl
Marx.

1. Kapitalisme sebagai Puncak Sejarah Dunia

Tema kapitalisme sebagai puncak sejarah dunia, dielaborasi Marx secara
ambigu. Sejatinya, kapitalisme memaksimalkan kontradiksi dalam
perkembangan
kekuatan produksi, sekaligus menyiapkan dasar untuk revolusi.

Kapitalisme adalah masyarakat klas yang mengakhiri masyarakat klas dan
memaksimalkan alienasi diri. Namun membuka jalan untuk tatanan sosial baru
yang men-transendensi-kan alienasi diri.

2. Evolusi sebagai Kontinuitas dan Diskontinuitas

Perkembangan kapitalisme menjadi tanda dari rangkaian dis-kuntinuitas
fundamental dengan sejarah sebelumnya. Kapitalisme lebih berada dari
setiap
tipe masyarakat lain yang dibedakan oleh Marx, daripada masyarakat itu
berbeda satu dari yang lainnya.

Padahal kapitalisme secara distingtif merupakan "masyarakat klas": relasi
kapital/pekerja vs upahan diprediksikan pada runtuhnya ikatan antara alam,
komunitas dan karakteristik individual dari bentuk-bentuk masyarakat lain.

3. Kapitalisme sebagai "Barat"

Analisis Marx mengenai keterpilahan masyarakat Timur dari tipe masyarakat
lain dan interpulasinya sebagai zaman progesif pertama dalam skema
evolusioner, mengandung bias Eropa. Sesungguhnya, Marx mengikuti gagasan
Montesquieu tentang karakter despotik masyarakat Timur dan gagasan
Hegelian
tentang karakter stagnan masyarakat Timur.


Para pemikir Eropa menganggap masyarakat Timur sebagai barbarian, karena
tidak menghargai hak milik privat dan kebebasan individu. Dengan demikian,
konsepsi bahwa masyarakat Timur mengalami kebuntuan historis dalam gerakan
progresif kemanusiaan, niscaya mengandung bias Eropa.

4. Kekuatan dan Relasi Produksi

Dalam skema sejarah evolusioner, Marx menegaskan, pertumbuhan kekuatan
produksi mengarah pada meningkatnya tegangan dengan relasi produksi yang
ada, akhirnya berpuncak pada transformasi revolusioner masyarakat.
Terdapat dua argumen dibalik argumen Marx. Pertama, keunggulan produksi
atas elemen hidup sosial yang lain. Kedua, produksi merupakan daya
> penggerak perubahan sosial. Dengan demikian, evolusionerisme Marx
merupakan
> "world growth story" dan menunjukan adanya pemampatan unilinier dan
> distorsi temporal.
>
> Pemikiran Dasar Teori Strukturasi Giddens
>
> Teori strukturasi dipilih Giddens untuk menamai teori sosial yang ia
> kembangkan.[4]
> Sedangkan yang menjadi fokus teori ini adalah tiga serangkai isu yang
> senantiasa terkait dalam teori sosial, yakni: (1). Tindakan manusia, diri
> yang terpusat; (2). Konseptualisasi interaksi dan relasi interaksi dengan
> institusi; (3). Pemahaman praktis analisis sosial. Berikut dipaparkan dua
> konsep dasar teori strukturasi Anthony Giddens.
>
> 1. Agensi
> Istilah agensi, pertama-tama menunjuk pada kapasitas untuk bertindak.
Maka,
> agensi mengimplikasikan kekuasaan. Giddens, kadang menggunakan istilah
> aktor untuk maksud yang sama. Menurut Giddens. Kekuasaan merupakan
komponen
> inheren interaksi sosial. Kekuasaan juga merupakan aspek primer dan
> integral dalam kehidupan sosial.
>
> Lebih lanjut mengenai kekuasaan, Giddens berpendapat:
> 1. Kekuasaan secara instrinsik terkait dengan agen manusia, maka kekuasaan
> harus diterima sebagai suatu fenomena reguler dan rutin dan tidak perlu
> dikaitkan dengan suatu tindakan tertentu
>
> 2. Kekuasaan tidak boleh difahami sebagai yang secara inheren koersif dan
> penggunaannya mengimplikasikan eksistensi konflik dan sebagai yang
> intrinsik, bertentangan dengan kebebasan manusia untuk bertindak
>
> 3. Kekuasaan juga tidak boleh diperlakukan sebagai resources
>
> 4. Kekuasaan semestinya difahami sebagai kapasitas transformatif atau the
> freedom to act otherwise
>
> Kekuasaan secara intrinsik terkait dengan agensi manusia. Tidak ada agensi
> tanpa kekuasaan dan agensi itu tidak mungkin bertindak tanpa menggunakan
> kekuasaan. Namun, kekuasaan itu baru menjadi kenyataan, ketika digunakan
> dengan memakai struktur.
>
> Sumber daya yang secara analitis dibedakan Giddens sebagai sumber daya
> alokatif (allocative resources)[5] dan sumber daya otoritatif
> (authoritatice resources)[6] merupakan parameter utama bagi agensi dalam
> menjelmakan kekuasaannya.
>
> 2. Struktur
> Struktur menurut Giddens, menunjuk pada peraturan (rules) dan sumber daya
> (resources). Peraturan menunjuk pada prosedur tindakan. Istilah dualitas
> struktur, diungkap Giddens sebagai relasi antara agensi dan struktur.
>
> Sejatinya, antara agensi dan struktur, bukan merupakan dualisme, melainkan
> dualitas. Melalui dualitas struktur diletakkan dasar untuk teori
reproduksi
> sosial dengan postulatnya, bahwa terdapat hubungan inheren antara produksi
> dan reproduksi interaksi. Dengan dualitas itu, kiranya dapat menghindarkan
> perangkap kembar teori objektivisme dan subjektivisme. (#)
>
>
>
> [1] Rujukan artikel: Patrisius Mutiara Andalas, "Kritik Anthony Giddens
> atas Materialisme Historis", Majalah Filsafat Driyarkara, Tahun XXIV, No.
> 3, April 2000
>
> [2] Gagasan selengkapnya, bisa disimak dalam buku Anthony Giddens,
bertajuk
> "A Contemporary Critique of Historical Materialism", London, Mac Millan
> Press Ltd, 1995.
>
> [3] Buku ini telah terbit dalam edisi bahasa Indonesia bertajuk, "The
Third
> Way: Jalan Ketiga, Pembaruan Demokrasi Sosial", Gramedia Pustaka Utama,
> Jakarta, 1999, 189 hlm + xxviii
>
> [4] Istilah teori sosial dari Giddens mencakup isu-isu yang menjadi fokus
> perhatian semua ilmu sosial. Teori sosial melibatkan diri pada analisis
isu
> dalam filsafat, meski bukan terutama sebagai usaha filosofis. Teori sosial
> memiliki tugas menetapkan konsepsi aktivitas sosial dan agensi manusia
> ditempatkan dalam pelayanan karya empiris.
>
> [5] Merupakan sumber-sumber material yang terlibat dalam menjelmakan
> kekuasaan. Hal itu mencakup sifat-sifat material lingkungan; alat produksi
> material dan barang-barang yang dihasilkan dari interaksi sifat material
> lingkungan dan alat produksi material. Sumber alokatif itu, berasal dari
> kapabilitas manusia menguasai bukan hanya obyek-obyek, melainkan juga
dunia
> obyek.
>
> [6] Merupakan sumber-sumber non material yang terlibat dalam menjelmakan
> kekuasaan, yang bersumber dari kapabilitas manusia menguasai dunia
> masyarakat yang diciptakan manusia itu sendiri. Hal itu meliputi:
> pengorganisasian ruang-waktu sosial; (re) produksi tubuh manusia;
> pengorganisasian kesempatan manusia untuk mengembangkan dan
> meng-ekspresi-kan diri.
>

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar