Senin, 06 April 2009

Hirarki Kerja Perspektif Struktural Fungsional


Hirarki Kerja Perspektif Struktural Fungsional

Menurut Abercrombie (1994 : 270-271), salah satu karakteristik yang melekat dalam konsep modern (modernisasi) bidang ekonomi adalah semakin meningkatnya pembagian kerja (division of labour) dalam masyarakat. Ini sejalan dengan pemikiran para sosiolog beraliran konsensus (struktural fungsional). Pemikiran Emile Durkheim, dalam bukunya Division of Labour in Society, memiliki tema utama tentang analisa pengaruh atau fungsi kompleksitas dan spesialisasi pembagian kerja dalam struktur sosial dan perubahan-perubahan yang diakibatkannya dalam bentuk-bentuk pokok solidaritas sosial. Singkatnya, menurut Durkheim, pertumbuhan dalam pembagian kerja meningkatkan suatu perubahan dalam struktur sosial dari solidaritas mekanik ke solidaritas organik (Johnson, 1986 : 181-182).

Dalam masyarakat yang kompleks dan urban, struktur sosial dan pekerjaan bersifat heterogen. Kalau di pedesaan pekerjaan yang ditemukan sebagian besar bertani dan sebagian kecil berdagang, maka di kota kita akan menjumpai puluhan macam pekerjaan dan profesi yang digeluti orang-orang. Mulai dari dokter, direktur, pengacara, dosen, guru, manajer, arsitek, seniman, wartawan, sampai kepada satpam, pengamen, tukang parkir, buruh dan tukang semir. Di kalangan masyarakat pedesaan orang Melayu, sebutan Engku (guru) mengacu kepada mereka yang bekerja dalam urusan “mengajarkan ilmu”, akan tetapi di kota kita menemukan diversifikasi dalam pekerjaan guru, seperti dosen, tutor, trainer, pelatih olah raga, guru privat, profesor, widiaswara, dan seterusnya.

Dari beragam pekerjaan tersebut ada pembedaan kelas yang nyata dan konsekuensinya juga berbeda penghasilan dan gaji yang mereka terima. Seorang direktur atau manajer bisa saja punya penghasilan sepuluh kali lipat dari buruh dan karyawan. Upah yang diperoleh tukang parkir dalam sebulan bisa saja lebih kecil dibanding bayaran pengacara untuk untuk hanya satu minggu.

Dalam pandangan perspektif struktural fungsional, pembagian kerja yang beragam tersebut adalah sesuatu yang semestinya, hanya dengan begitu kelangsungan masyarakat akan terjaga. Ketimpangan dalam hal penghasilan dan kesejahteraan juga dapat dipahami, karena pekerjaan dan tanggung jawab seorang direktur, manajer atau pengacara jauh lebih berat dibanding tukang parkir atau satpam. Untuk bisa menjadi pengacara harus melewati sejumlah pendidikan dan persyaratan yang sangat ketat, tidak demikian halnya dengan buruh atau pengamen.

Masih menurut perspektif ini, kalau seandainya gaji seorang dosen disamakan dengan gaji seorang satpam, tentu saja akan merusak keseimbangan struktur (equilibrium), karena orang-orang tidak akan lagi termotivasi untuk sekolah dan mengikuti pendidikan untuk jadi dosen. Jadi ketimpangan dan perbedaan yang ada adalah sesuatu yang fungsional secara keseluruhan. Malah ada pemikiran yang lebih ekstrem dari perspektif ini, misalnya melihat “masalah-masalah sosial” sebagai sesuatu yang memiliki aspek fungsional (punya nilai guna). Menurut Herbert Gans (1972) kemiskinan bersifat fungsional bagi masyarakat, setidaknya ada lima belas fungsi dari kemiskinan. (Ritzer, 1985 : 27-28). Kalau kita merunut pemahaman yang ekstrem ini tentu saja kita juga akan menyimpulkan bahwa “pengangguran”, sebagaimana hal kemiskinan dapat juga dianggap perlu, bukankah karena ada orang yang menganggur, yang menyebabkan status “punya bekerja” akan lebih dihargai di tengah masyarakat?

Kesimpulannya, masyarakat merupakan suatu sistem yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen yang saling berkaitan, dan masing-masingnya saling menyatu dalam keseimbangan (Ritzer, 1985 : 25-26). Perubahan yang terjadi pada sutau bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain. Asumsi dasar dari pendekatan ini adalah setiap struktur dalam sistem sosial, bersifat fungsional terhadap yang lain, sebaliknya kalau tidak fungsional maka struktur tidak akan data atau hilang dengan sendirinya.

DAFTAR PUSTAKA

Abercrombie, Nicholas (et.al). 1994. Dictionary of Sociology. London : The Penguin Books.

Covey, Stephen R. 1990. The Seven Habits of Highly Effective People. New York : Simon & Schuster Inc.

Johnson, Doyle Paul. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta : Gramedia.

Poloma, Margaret M. 1984. Sosiologi Kontemporer. Jakarta : Rajawali Pers.

Ritzer, George. 1985. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta : Rajawali Pers.

Veeger, KJ. 1985. Realitas Sosial ; Refleksi Filsafat Sosial Atas Hubungan Individu-Masyarakat Dalam Cakrawala Sejarah Sosiologi. Jakarta : Gramedia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar