Senin, 06 April 2009

Talcot Parson

ENDAHULUAN

"Talcott Parsons was probably the most dominant theorist of his time. It is unlikely, I suspect, that any one theoretical approach will so dominate sociological teory again. For in the year 1950 and late 1970s, Parsonian functionalism was clearly the focal point around which theoretical controversy raged."

Ini adalah kutipan dari The Structure of Sociological Theory Jonathan Turner, bertolak dari kutipan ini maka bahasan dalam makalah ini meliputi dua bagian pokok bahasan. Bahasan pertama adalaha mengeai Talcott Parsons dan bahasan kedua mengenai Teori Fungsional Talcott Parsons yang membahas system sosial dan paradigm AGIL.

BIOGRAPI TALCOTT PARSONS

Parsons lahir tahun 1902 di Colorado Spring, Colorado. Ia berasal dari latarbelakang religious dan intelektual. Ayahnya seorang Pendeta, Profesor dan akhirnya menjadi Rektor sebuah perguruan tinggi kecil. Parsons mendapat gelar sarjana Muda dari Universitas Amherst tahun 1924 dan menyiapkan disertasi di London School of Economics. Di tahun berikutnya ia pindah ke Ruprecht Karl University of Heidelberg, Heindelberg, Jerman. Max Weber lama berkarir di Heidelberg dan meski ia telah meninggal 5 tahun sebelum kedatangan Parsons, pengaruh Weber tetap bertahan dan jandanya terus menyelenggarakan diskusi ilmiah di rumahnya dan Parsons menghadirinya. Parsons sangat dipengaruhi oleh karya Weber dan akhirnya menulis disertasinya di Heidelberg, yang sebagian menjelaskan karya Weber.

Parsons mengajar di Harvard pada 1927 dan meski berganti jurusan beberapa kali, ia tetap di Harvard hingga akhir hayatnya tahun 1979. Kemajuan kariernya tak begitu cepat sebelum mendapatkan jabatan profesor pada tahun 1939. Dua tahun sebelumnya ia menerbitkan The Structure of Social Action (1937), sebuah buku yang tak hanya memperkenalkan pemikiran sosiolog utama seperti Weber kepada sejumlah besar sosiolog, tetapi juga meletakkan landasan bagi teori yang di kembangkan Parsons sendiri.

Sesudah itu karier akademis Parsons maju pesat. Dia menjadi ketua jurusan Sosiologi Harvard pada 1944 dan dua tahun kemudian, ia mendirikan Departemen Hubungan Sosial yang tak hanya memasukkan sosiolog, tetagi juga berbagai sarjana ilmu sosial lainnya. Tahun 1949, ia terpilih menjadi Presiden American Sociological Association. Tahun 1950-an dan menjelang tahun 1960-an, dengan diterbitkan buku seperti The Social System (1951) Parsons menjadi tokoh dominan dalam sosiologi Amerika.

Tetapi, di akhir 1960-an Parsons mendapat serangan dari sayap radikal sosiologi Amerika yang baru muncul. Parsons dinilai berpandangan politik konservatif dan teorinya dianggap sangat konservatif dan tak lebih dari sebuah skema kategorisasi yang rumit. Tetapi tahun 1980-an, badai itu berlalu dan timbul kembali perhatian terhadap teori Parsons, tak hanya di Amerika Serikat, tetapi di seluruh dunia. Horton dan Turner mengatakan bahwa "karya Parsons mencerminkan sumbangan yang lebih berpengaruh terhadap teori sosiologi ketimbang Marx, Weber, Durkheim, atau pengikut mereka Masa kini sekalipun" (1986:13). Hal ini dikarenakan pemikiran Parsons tak hanya memengaruhi pemikir konservatif, tetapi juga teoritisi neo-Marxian, terutama Jurgen Habermas.

Setelah kematian Parsons, sejumlah para mahasiswanya, semuanya sosiolog sangat terkenal, merenungkan arti penting teorinya maupun pencipta teori itu sendiri. Dalam renungan mereka, para sosiolog ini mengemukakan pengertian menarik tentang Parsons dan karyanya. Beberapa pandangan mengenai Parsons adalah dari Robert King Merton, Sosiolog handal Mahasiswa dari Parsons.

Robert Merton adalah salah seorang masiswanya ketika Parsons baru saja mulai mengajar di Harvard. Merton yang menjadi terkenal karena teori ciptaannya (teori taraf menegah) menjelaskan bahwa mahasiswa pascasarjana yang datang ke Harvard di tahun-tahun itu bukan hendak belajar dengan parsons, tetapi dengan Sorokin, anggota jurusan sosiologi yang telah menjadi musuh utama pemikiran Parsons (Zafirovski, 2001):

Generasi mahasiswa pascasarjana yang paling awal datang ke Harvard, dan tak seorangpun ingin belajar dengan Parsons. Mereka tak ungkin berbuat demikian selain karena alasan paling sederhana: pada 1931 is belum dikenal publik apalagi sebagai seorang sosiolog. Meski kami mahasiswa belajar dengan Sorokin yang masyhur, sebagian di antara kami diharuskan bekerja sama dengan Parsons yang tak terkenal itu. (Merton, 1980:69).

Celaan Merton tentang kuliah pertama Parsons dalam teori, juga menarik, terutama karena materi yang disajikan adalah basis untuk salah satu buku teori paling berpengaruh dalam sejarah sosiologi:

Lama sebelum Parsons menjadi salah seorang tokoh tua terkenal di dunia sosiologi, bagi kami mahasiswa angkatan paling awal, dia hanyalah seorang pemuda yang sudah tua. Kemasyhurannya herawal dari kuliah pertamanya dalam teori yang kemudian menjadi inti karya besarnya, The Structure of Social Action, yang tidak terbit hingga lima tahun setelah publikasi lisannya di kelas (Merton, 1980:69-70).

Meski tak semua orang sependapat dengan penilaian positif Merton tentang Parsons, mereka akan mengakui penilaian berikut:

Kematian Parsons menandai berakhirnya suatu era dalam sosiologi. Ketika (suatu era baru) dimulai, era itu henar-benar akan dibentengi oleh tradisi besar pemikiran sosiologi yang ia tinggalkan untuk kita (Merton, 1980:71).

Sepanjang hidupnya Talcott Parsons telah berusaha mengembangkan kerangka-kerangka teoritis. Ada perbedaan yang menyolok antara karya-karya awal Talcott Parsons dan karya-karyanya yang lebih kemudian. Karya-karya awal Talcot Parsons lebih berhubungan dengan usahanya membangun Teori Aksi atau Teori Tindakan sebagaimana nampak dalam bukunya The Structure of Social Action (1937). Sedangkan karya-karyanya yang kemudian lebih berhubungan dengan teori fungsionalisme struktural sebagaimana diuraikan di dalam bukunya yang berjudul The Social System (1951). Pada bagian berikut ini, kita akan menguraikan beberapa pokok pikiran penting dari Talcott Parsons.

TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL TALCOTT PARSONS

Robert Nisbet menyatakan : "Jelas bahwa fungsionalisme structural adalah satu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad sekarang" (Turner dan Mayarski, 1979).

Teori ini ialah sudut pendekatan yang menganggap bahwa masyarakat pada dasarnya , terintegrasi di atas dasar kata sepakat para anggotanya akan nilai, norma dan aturan kemasyarakatan tertentu, suatu general agreements yang memiliki daya mengatasi perbedaan-perbedaan pendapat dan kepentingan di antara para anggota masyarakat.

Pendekatan ini memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi ke dalam suatu bentuk ekuilibrium. Karena sifatnya demikian, maka aliran pemikiran ini disebut sebagai integration approach, order approach, equilibrium approach atau lebih populer disebut structural-functional approach .

Pendekatan Fungsionalisme Struktural awalnya muncul dari cara melihat masyarakat dengan dianalogikan sebagai organisma biologis. Auguste Comte dan Herbert Spencer melihat adanya interdependensi antara organ-organ tubuh kita yang kemudian dianalogikan dengan masyarakat. Sebagaimana alasan-alasan yang dikemukakan Herbert Spencer sehingga mangatakan masyarakat sebagai organisma sosial adalah:

a. Masyarakat itu tumbuh dan berkembang dari yang sederhana ke yang kompleks

b. Pertumbuhan dan perkembangan masyarakat berjalan secara perlahan atau evolusioner

c. Walaupun institusi sosial bertambah banyak, hubungan antarsatu dan lainnya tetap dipertahankan kerena semua institusi itu berkembang dari institusi yang sama

d. Seperti halnya bagian dalam organism biologi, bagian-bagian dalam organisma sosial itu memiliki sistemnya sendiri (subsistem) yang dalam beberapa hal tertentu dia berdikari.

Pokok pikiran inilah yang melatar belakangi lahirnya pendekatan fungsionalisme-struktural yang kemudian mencapai tingkat perkembangannya yang sangat berpengaruh dalam sosiologi Amerika, khususnya di dalam pemikiran Talcott Parsons (1902-1979).

Dengan kata lain, suatu sistem sosial, pada dasarnya tidak lain adalah suatu sistem dari tindakan-tindakan. Ia terbentuk dari interaksi sosial yang terjadi di antara berbagai individu, yang tumbuh berkembang tidak secara kebetulan, namun tumbuh dan berkembang di atas consensus, di atas standar penilaian umum masyarakat. Yang paling penting di antara berbagai standar penilaian umum tersebut adalah norma-norma sosial. Norma-norma sosial itulah yang membentuk struktur sosial.

Sistem nilai ini, selain menjadi sumber yang menyebabkan berkembangnya integrasi sosial, juga merupakan unsur yang menstabilir sistem sosial budaya itu sendiri.

Oleh karena setiap orang menganut dan mengikuti pengertian-pengertian yang sama mengenai situasi-situasi tertentu dalam bentuk norma-norma sosial, maka tingkah laku mereka kemudian terjalin sedemikian rupa ke dalam bentuk suatu struktur sosial tertentu. Kemudian pengaturan interaksi sosial di antara mereka dapat terjadi karena komitmen mereka terhadap norma-norma yang mampu mengatasi perbedaan pendapat dan kepentingan individu. Dua macam mekanisme sosial yang paling penting di mana hasrat-hasrat para anggota masyarakat dapat dikendalikan pada tingkat dan arah menuju terpeliharanya sistem sosial adalah mekanisme sosialisasi dan pengawasan sosial (social control).

PARADIGMA AGIL

Kehidupan sosial sebagai suatu sistem sosial memerlukan terjadinya ketergantungan yang berimbas pada kestabilan sosial. Sistem yang timpang karena tidak adanya kesadaran bahwa mereka merupakan sebuah kesatuan, menjadikan sistem tersebut tidak teratur. Suatu sistem sosial akan selalu terjadi keseimbangan apabila ia menjaga Safety Valve (katup pengaman) yang terkandung dalam paradigma AGIL.

Fungsi diartikan sebagai segala kegiatan yang diarahkan kepada memenuhi kebutuhan atau kebutuhan-kebutuhan dari sebuah sistem (Rocher). Dengan menggunakan definisi itu, maka terjadi Paradigma AGIL sebagai teori Sosiologi yang dikemukakan oleh Talcott Parsons (1950). Teori ini adalah lukisan abstraksi yang sistematis mengenai keperluan sosial (kebutuhan fungsional) tertentu, yang mana setiap masyarakat harus memeliharanya untuk memungkinkan pemeliharaan kehidupan sosial yang stabil. Teori AGIL adalah sebagian teori sosial yang dipaparkan oleh Parson mengenai struktur fungsional, diuraikan dalam bukunya The Social System (1937), yang bertujuan untuk membuat persatuan pada keseluruhan system sosial.

AGIL merupakan akronim dari Adaptation, Goal Attainment, Integration, dan Latency atau latent pattern-maintenance, meskipun demikian tidak terdapat skala prioritas dalam pengurutannya.

a. Adaptation yaitu kemampuan masyarakat untuk berinteraksi dengan lingkungan dan alam. Ada dua permasalahan yang perlu diperhatikan yakni, pertama segi inflexible (keras atau tak dapat diubah) yang datang dari lingkungan dan kedua adalah transformasi aktif dari transformasi. Lingkungan bisa berupa fisik dan sosial.

b. Goal-Attainment adalah persyaratan fungsional bahwa tindakan diarahkan pada tujuan-tujuan masa depan dan membuat keputusan yang sesuai dengan itu. Menurut skema alat-tujuan (means-end schema), pencapaian maksud adalah tujuan dan kegiatan penyesuaian adalah alat.

c. Integration atau harmonisasi keseluruhan anggota sistem sosial setelah sebuah general agreement mengenai nilai-nilai atau norma pada masyarakat ditetapkan. Di sinilah peran nilai tersebut sebagai pengintegrasi sebuah sistem sosial

d. Latency (Latent-Pattern-Maintenance) adalah memelihara sebuah pola, dalam hal ini nilai-nilai kemasyrakatan tertentu seperti budaya, norma, aturan dan sebagainya.

Di samping itu, Parsons menilai, keberlanjutan sebuah sistem bergantung pada system tindakan yakni:

a. Sistem memiliki properti teratur dan saling bergantung

b. Sistem cenderung mempertahankan keteraturan diri atau keseimbangan

c. Sistem mungkin statis atau bergerak

d. Sifat dasar sistem berpengaruh terhadap bentuk bagian lain

e. Sistem memelihara batas-batas dengan lingkungan

f. Alokasi dan integrasi merupakan dua proses fundamental yang diperlukan menjaga keseimbangan sistem

g. Sistem cenderung menuju arah pemeliharaan keseimbangan diri yang meliputi pemeliharaan batas, hubungan, mengendalikan lingkungan berbeda dan kecendrungan merubah system dari dalam.

Menurutnya persyaratan kunci bagi terpeliharanya integrasi pola nilai dan norma ke dalam sistem ialah dengan internalisasi dan institusionalisasi. Internalisasi artinya ialah nilai dan norma sistem sosial ini menjadi bagian kesadaran dari aktor tersebut. Akibatnya ketika si aktor sedang mengejar kepentingan mereka maka secara langsung dia juga sedang mengejar kepentingan sistem sosialnya.

Sementara proses institusionalisasi adalah sosialisasi yang berhubungan dengan pengalaman hidup dan harus berlangsung secara terus menerus, karena nilai dan norma yang diproleh sewaktu kecil tidaklah cukup untuk menjawab tantangan ketika dewasa.













DAFTAR PUSTAKA

Sahara, Siti dkk. Keterampilan Berbahasa Indonesia. Jakarta: FITK Press. 2008.

Poloma, Margaret. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: CV. Rajawali. 1984.

Ravo, Bernand. Teori Sosiologi Modern. Jakarta:Prestasi Pustaka. 2007.

Ritzer, Georgre dan Goodman, Douglas.Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana. 2007.

Turner, Jonathan. The Structure of Sociological Theory. California: Wadsworth Publishing Company, 1991.

Paul Johson, Doyle. Teori Sosiologi Klasik dan Modern (Di indonesiakan oleh Robert M.Z. Lawang). Jakarta: PT. Gramedia. 1986.

http://kindasoup.blogspot.com/2008/10/pokok-pokok-pikiran-talcott-parsons.html


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar