Selasa, 21 April 2009

Kritik atas Rasionalitas Masyarakat Modern


Oleh: Firdaus Putra A.

Rasionalitas Modern
Dalam karya patungannya, Dialectic der Aufklarung, Adorno dan Horkheimer nampaknya mulai menyadari akar masalah yang diidap oleh masyarakat modern. Mereka menemukan, bahwa ilmu alam yang bernuansa positivistis lahir dari rasio pencerahan di masa fajar budi (1350 – 1800). Pencerahan merupakan momentum manusia untuk keluar dari mitos dan menuju logos. Mitos-mitos yang menyelimuti tabir kehidupan mulai disingkap dengan rasionalitas. Pada masa itu, umat manusia memasuki kondisi akil balig. Sapere Aude! Merupakan jargon pencerahan yang mensyaratkan keberanian manusia untuk menggunakan rasionalitasnya dalam memahami alam, tanpa harus terbayang-bayangi oleh otoritas apapun. Pada titik inilah, otoritas agama juga mulai ditinggalkan.

Melalui rasio, manusia mencapai pengetahuan tentang alam yang dihuninya. Cara pengetahuan ini adalah manusia melakukan penjarakan dengan alam yang hendak ia ketahui. Cara inilah yang belakangan hari dinamakan sebagai obyektivisme ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus menarik diri dari realitas yang berada di luranya untuk kemudian di dapatkan sebuah pengetahuan terhadap realitas secara komprehensif.

Obyektivisme ilmu pengetahuan ternyata tidak menawarkan sejumlah praksis yang emansipatoris bagi kehidupan. Dalam konteks ini, Adorno dan Horkheimer menyebut ilmu pengatahuan yang memiliki karakter demikian sebagai ilmu tradisional. Ilmu untuk ilmu. Pengetahuan untuk pengatahuan. Tidak ada konsekuensi logis dari sebuah penemuan atau penelitian dari sebuah pengetahuan untuk melakukan pembenahan terhadap ketimpangan atau penyimpangan yang ada. Ilmu tradisonal hanya memapankan kondisi yang ada. Status quo dijunjung tinggi sebagai konsekuensi dari obyektivisme. Ilmu tradisional menurut Adorno dan Horkheimer telah mandul dalam praksisnya.

Sebagai tokoh sentral dalam Madzhab Frankfurt, Adorno dan Horkheimer (direktur yang menjabat institut pada masa itu) menghendaki adanya pertautan antara teori dengan praksis. Konteks sejarah nampaknya sudah menyentil mereka berdua untuk melakukan kerja-kerja epistemologis ini. Di tangan mereka berdua, Madzhab Frankfurt menemukan karakter khasnya, yakni keberpihakan terhadap realitas.

Langkah yang mereka tempuh selanjutnya adalah mencoba mengkonstruksi epistemologis kritis. Kemudian hari, mereka berdua, di tambah Herbert Marcuse, menjadi juru bicara dari Generasi Pertama Teori Kritis (GPTK). Meskipun sebenarnya Madzhab Frankfurt diisi oleh banyak tokoh dari latar belakang yang berbeda. Tetapi hanya kepada tiga orang tersebut, Generasi Pertama Teori Kritis disematkan.

Proyek pertama yang mereka lakukan adalah mencari akar dari segenap permasalahan masyarakat modern. Dalam bahasa lain, Marcuse menyebutnya sebagai proses reifikasi. Dimana relasi antarindividu nampak sebagai relasi komoditas. Hubungan antarmanusia menjadi sebuah hubungan komoditas yang sifatnya pertukaran ekonomis-politis belaka. Di dalam, One Dimensional Man, Marcuse mengkritik kecenderungan reifikasi ini sebagai kondisi yang tidak manusiawi dalam masyarakat manusia.

Pada sisi lain, Adorno dan Horkheimer kemudian melakukan penjelajahan terhadap akar masalah yang reifikasi masyarakat modern. Mereka memulainya dengan penelusuran ke masa fajar budi, dimana saat itu kemampuan rasio manusia mendapatkan tempat sebagai pembimbing dalam memahami alam. Mereka menemukan, bahwa usaha manusia modern untuk mengetahui alam sejatinya tidak berbeda dengan usaha manusia primitif. Manusia primitif mengetahui alam dengan cara melakukan proses ritual. Dalam proses ritual tersebut mereka melakukan proses mimesis—atau proses peniruan—sehingga mereka menjadi tahu posisi mereka di tengah-tengah alam. Sedangkan manusia modern, mengetahui alam dengan ilmu pengetahuannya. Dengan ilmu pengatahuan itu, manusia modern melakukan penjajakan, penjelajahan, pengkalkulasian dan sebagainya, sehingga gambaran alam dapat ia ketahui.

Manusia modern melalui ilmu pengetahuannya yang dipimpin oleh rasio, ternyata juga melakukan mimesis. Awalnya rasio kritis berusaha mengatahui alam sebagai wujud keprihatinan eksistensial manusia di tengah-tengah alam. Namun, lambat laun, rasio kritis mampu membakukan prosedur-prosedur tersebut sebagai hukum-hukum pengetahuan yang dapat dilakukan secara terus menerus. Manusia modern kemudian memiliki seperangkat prosedur, tata aturan yang dapat membantunya untuk mengetahui alam. Berangkat dari konteks ini, kemudian rasio kritis kehilangan ruhnya dan meninggalkan form dalam bentuk prosedur-prosedur baku. Rasio kritis menjadi netral.

Netralitas rasio ini kemudian dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk melakukan apapun. Rasio yang netral dapat digunakan tanpa harus mempertimbangkan untuk apa mereka mengetahui, apa konsekuensi dari pengatahuan itu, dan seterusnya. Umat manusia dapat menggunakannya secara bebas, siapapun dan di mana pun. Rasio kritis yang sudah dipisahkan antara spirit awal dengan form-nya berubah menjadi rasio bertujuan atau rasio instrumental.

Rasio instrumental hasil dari pencerahan, sejatinya merupakan bentuk mitos baru bagi manusia. Awalnya, mitos dalam bentuk tahayul, mistis, dan semecamnya dapat diketahui dengan penceraha atau logos. Kemudian dialektika mitos dan logos ini melahirkan logos baru yang sifatnya netral. Logos baru, sebagai ilmu pengatahuan yang sifatnya positivistik berlaku secara kalkulatif, manipulatif, proyektif yang dari ‘kebenaran-kebenaran’ (dari proposisi tertutupnya) ia menjadi tidak terverifikasi. Manusia modern tidak memikirkannya kembali (rethinking) tetapi hanya mimesis. Mereka tanpa kritisisme, mempercayai begitu saja logos baru itu. Pada titik ini, sejatinya logos kembali menjadi mitos.

Dalam realitasnya, Adorno dan Horkheimer menyaksikan ekses dari mitos pencerahan di masa fajar budi di landscape sejarah masyarakat manusia; Perang Dunia I dan II, pembantaian massal (genocide) oleh Nazi, fasisme menjadi sah sebagai alat pejuangan seperti yang ia lihat dalam New Left Movement (1956) sampai akhirnya mereka, termasuk Marcuse mengundurkan diri sebagai juru bicaranya. Sisi gelap mitos pencerahan ini mereka saksikan sebagai pengalaman keseharian.

Melihat sejarah yang penuh nestapa itu, mereka menjadi skeptis akan kemampuan rasio manusia untuk melakukan praksis yang emansipatoris. Mereka sudah melihat bahwa rasio kritis yang berangkat dari keprihatinan eksistensial, ternyata berubah menjadi rasio instrumental yang justru destruktif. Di tangan mereka Teori Kritis menjadi mandul. Epistemologi kritis yang mempertautkan antara teori dan praksis pun gagal mereka temukan.

Kritik atas Rasionalitas Modern
Kemandulan proyek Generasi Pertama Teori Kritis menjadikan seorang tokoh Madzhab Franfurt lainnya tersentil untuk melakukan kerja dalam rangka membangun epistemologi kritis. Jurgen Habermas, sebagai seorang tokoh lain tampil dalam panggung perdebatan dengan membawa kerangka kerja yang lain. Meskipun lain, Habermas masih meminjam penemuan dari tiga rekan sebelumnya. Ia meminjam analisis Adorno dan Horkheimer tentang ilmu tradisional yang positivistik sebagai perwujudan dari rasio instrumental; dan juga meminjam analisis Marcuse tentang reifikasi.

Berbeda dengan yang dilakukan oleh Adorno dan Horkheimer, Habermas tidak menapaki jalan dialektika pencerahan. Justru Habermas membaca kegagalan proyek Adorno dan Horkheimer karena mendialektikakan antara mitos dengan logos yang akhirnya melahirkan logos baru dalam bentuk rasio instrumental. Menurutnya, Adorno dan Horkheimer masih terlalu setia terhadap warisan Marx yakni kerangka dialektika.

Habermas mecoba melakukan kritik terhadap rasio instrumental yang mereifikasi ‘dunia kehidupan’ masyarakat manusia. Dengan rasio instrumental manusia modern berlaku terhadap di luar dirinya dalam hubungan subyek-obyek. Tidak hanya kepada alam, melainkan juga kepada sesama manusia. Menurutnya, pengetahuan yang lahir dari rasio instrumental adalah pengetahuan yang sejauh mana dapat mendefinisikan obyek di luar dirinya. Dan praksis yang lahir, sejauh mana manusia sebagai subyek otonom mampu memanipulasi realitas di luar dirinya.

Melampaui Adorno dan Horkheimer, Habermas menawarkan perangkat lain yakni rasio komunikatif. Rasio komunikatif ini ia bedakan secara tegas dengan rasio instrumental. Dalam rasio komunikatif, relasi yang dibangun adalah relasi subyek-subyek. Proses mengetahui bukan dalam rangkan mendefiniskan obyek di luar dirinya, melainkan membangun pemahaman intersubyektif antarsubyek dalam ‘dunia kehidupan’.

Oleh sebagian pengamat, Habermas dianggap telah melakukan turning to language. Analisisnya memusatkan kepada bahasa, bukan dalam konteks semantik, gramatikal atau sintaksis, melainkan dalam konteks wicara (speech act). Menurutnya, potensi manusia untuk berbicara terkandung di dalamnya potensi manusia untuk mengerti dan dimengerti. Peroses bicara yang termaktub dalam penggunaan bahasa, membuka lebar proses belajar dari kesalahan.

Lebih jauh, dalam teorinya, Habermas mengemukakan tentang kompetensi komunikasi. Dalam sebuah komunikasi, individu harus memiliki empat klaim dasar; kebenaran, kejujuran, kejelasan dan ketepatan. Setiap individu yang berkomunikasi sejatinya pasti meneguhkan empat klaim tersebut. Lantas tahap selanjutnya yang harus dilakukan antara pembicara dengan pendengar (dan sebaliknya, kaena mereka akan bertukar posisi-peran) adalah melakukan uji validitas terhadap tuturan berdasar empat klaim tersebut.

Satu komunikasi dianggap berhasil bukan karena mampu mewujudkan tujuan dari satu atau lebih pesertanya, melainkan jika setiap peserta mempunyai pemahaman intersubyektif yang sama tentang situasi atau masalah yang sedang terjadi. Habermas nampaknya sedang membelokkan hasrat bertujuan rasio instrumental ke arah klaim moral tentang ‘dunia kehidupan’ bersama itu.

Praktiknya, setiap komunikan harus menyampaikan satu masalah dengan benar; yakni ketika masalah yang disampaikan sesuai dengan yang sedang atau sudah terjadi. Juga harus menyampaikannya secara jelas; yakni tuturan tidak mengandung miskonsepsi yang berpotensi melahirkan mispemahaman. Lantas komunikan harus menyampaikannya secara jujur; yakni apa yang disampaikan adalah sesuai apa yang diinginkan, tidak memanipulasi pembicaraan atau berbohong. Dan terakhir, komunikan harus menyampaikan secara tepat; yakni apa yang disampaikan sesuai dengan tata aturan, kode, simbol yang sudah dipahami oleh peserta diskusi secara intersubyektif.

Dengan memegang tegus klaim validitas di atas, Habermas berharap bahwa komunikasi intersubyektif akan terbangun. Komunikasi yang demikian pada gilirannya akan mengikis hasrat bertujuan dari rasio instrumental manusia modern. Untuk itu, Habermas juga mensyaratkan bahwa komunikasi harus jauh dari kepentingan-kepentingan tersembunyi yang bertujuan tertentu. Bilamana ada, selubung kepentingan tersebut harus dapat ditelanjangi melalui proses verifikasi. Habermas mendambakan sebuah masyarakat ideal yang melakukan sesuatu atas dasar ketulusan, i’tikad baik untuk menuju kehidupan bersama yang lebih baik.

Keprihatinan Habermas tentang reifikasi yang terjadi di masyarakat modern sudah dijawabnya dengan lengkap. Dua jilid karyanya Theorie des Kommunikativen Handelns, Band I&II, menyiratkan keseriusannya dalam menekuni dunia komunikasi sebagai fitrah manusia. Menurutnya hidup masyarakat manusia terbangun dari proses bertanya dan berjawab. Berbeda dengan konsepsi Marxis Ortodoks yakni proses kerja untuk produksi.

Keseriusan ini juga terungkap dalam tindakan-tindakannya; Habermas turut serta melakukan aksi pengkritisan ketika pemerintah Jerman Barat ingin menceburkan diri dalam aliansi NATO. Ia juga berteriak lantang ketika teknologi clonning terhadap manusia atau pun binatang ditemukan oleh para saintis. Untuk itu, ia mendorong agar masyarakat diajak berdiskusi atas suatu permasalahan. Dalam konteks tersebut, Habermas menggariskan bahwa diskusi akan optimal ketika jauh dari tekanan dan dalam kesederajatan posisi.

Konsensus atau kesepakatan bersama akan lahir sebagai hasil dari pemahaman intersubyektif peserta diskusi. Nampak Habermas adalah sosok yang anti-fasis, dalam kerangka besar teorinya, ia tidak ingin menyelesaikan masalah dengan cara kekuasaan atau kekerasaan, melainkan dengan cara adu argumentasi. Dalam proses adu argumen tersebut, peserta diskusi yang kalah (baca: salah) dalam menyusun atau memberikan pendapatnya harus mengakuinya secara jujur dan bijaksana. Dari proses ini, koreksi kesalahan (falsifikasi) dapat terjadi. Harapan dari koreksi atas kesalahan ini, peserta diskusi dapat melakukan proses refleksi diri.

Proses komunikasi intersubyektif semacam ini yang menurut Habermas dapat mengembalikan pesona dunia. Manusia berinteraksi bukan hanya karena tujuan-tujuan tertentu saja, melainkan juga dalam rangka membantu memahami yang lain. Egosentrisme tidak harus melulu ada dalam proses interaksi masyarakat manusia.

Dari dua karya besarnya, Habermas menggarisbawahi bahwa komunikasi intersubyektif sebagai sebagai bentuk praksis emansipatoris dapat terjadi ketika setiap individu meneguhkan empat klaim validitas; kebenaran, kejujuran, kejelasan dan ketepatan. Selain itu, ia juga menggariskan bahwa komunikasi harus jauh dari tekanan atau dominasi. Dan juga komunikasi intersubyektif akan terbangun ketika individu berada dalam posisi yang sederajat serta menetralkan kepentingan-kepentingannya.

Konsepsi besar ini merupakan kritik atas rasionalitas intrumental yang menjerembabkan manusia pada nestapa kehidupan dan tragedi kemanusiaan. Selain itu, melalui teorinya praksis yang emasipatoris akan tercapai ketika individu sampai pada pemahaman intersubyektif.
Sebagai teori yang ia klaim kritis (dengan maksud praksis), nampaknya kita harus menguji klaim kebenaran itu. Pengujian ini kita dasarkan pada bangunan teori yang tersebut di atas. Sederhananya, Habermas berharap besar terhadap i’tikad individu untuk berubah ke arah yang lebih baik. Asumsi semacam ini tentu saja cukup naif dan tidak menjejak pada realitas. Sehingga sebagai hipotesis awal, saya berpendapat bahwa bangunan teori Habermas rapuh dalam praksisnya. Ia hanya rigorus sebagai sistem teori atau sistem berfikir, tidak untuk bertindak (praksis).

Untuk membuktikan hipotesis tersebut, saya mengajukan dua pertanyaan penelitian; bagaimana konsepsi teori praksis komunikasi atau rasio komunikatif Habermas? Dan pertanyaan kedua, apakah teori itu dapat dipraksiskan dalam realitas sebagai bentuk konsistensi atas epistemologi kritis?

Seperti satu komentar dari Franz Magnis-Suseno, Habermas adalah Kantian sampai ketulang sum-sumnya. Karena itu, saya melihat bahwa Habermas berangkat dari idealisme yang mungkin akan terjerembab dalam utopisme (dalam makna Mannheimian). Apakah benar seperti itu? Semoga saya mampu membuktikannya.[]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar