Selasa, 19 Mei 2009

INTERAKSI SIMBOLIK

MERETAS JALAN SOSIOLOGI

GEORGE HERBERT MEAD, Mind, Self, and Society, University of Chicago Press, 1934.


GEORGE HERBERT MEAD, Selected Writings, edited by Andrew J. Reck, Bobbs-Merrill, 1964.

HERBERT BLUMER . Symbolic Interactionism: Perspective and Method. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1969.

E. GRIFFIN, A First Look at Communication Theory. New York: The McGraw-Hill Companies, 1997.

HOWARD S. BACKER & MICHAEL McCALL (editors), Symbolic Interaction and Cultural Studies,University of Chicago Press, 1990.

ERVING GOFFMAN, The Presentation of Self in Everyday Life, Doubleday, 1959

CHARLES HORTON COOLEY, Human Nature and the Social Order, Schocken Books, 1964.

CHARLES HORTON COOLEY, Social Organization: A Study of the Larger Mind, Schocken Books, 1962.

WILLIAM I. THOMAS, "Life History", American Journal of Sociology 79: 243-250, 1973

WILLIAM I. THOMAS, The Unadjusted Girl, Little Brown, 1923

MERETAS JALAN SOSIOLOGI: interaksionisme simbol

Di dekat sebuah warkop, tiga ekor anjing sedang berkelahi. Anjing yang satu mulai menggertak dengan menggeram, menunjukkan deretan giginya, dan mulai mengambil ancang-ancang untuk menyergap lawannya. Anjing kedua ketakutan, lalu lari tunggang langgang karena tubuhnya memang paling kecil, sementara anjing ketiga menanggapi yang pertama dengan juga menggeram dan menunjukkan giginya, siap untuk balas menyerang. Anjing pertama setelah melihat reaksi anjing ketiga akan menunjukkan perubahan diri, ia memperkeras geramannya. Hal ini mengundang respon anjing ketiga tersebut, dan seterusnya.

Dua mahasiswa yang sedang duduk di warkop tersebut melihat anjing yang berkelahi itu, tadinya sedang bertukar cerita tentang orang tua masing-masing. Anak pertama berseru melihat anjing yang hendak berkelahi itu, dan membelokkan pembicaraan menjadi tentang anjingnya yang dua tahun lalu hilang. Ternyata anak kedua tak menyukai topik pembicaraan itu, ia memberi respon dengan melihat ke langit-langit, sesekali melihat jam tangannya, dan seterusnya.

Perilaku tiga anjing dan dua mahasiswa itu merupakan ikhwal bahasa isyarat. Menunjukkan gigi sambil menggeram, lari tunggang langgang, melihat langit-langit dan jam tangan, dan seterusnya merupakan bahasa isyarat, masing-masing kemarahan, rasa takut, dan kebosanan. Ini adalah inti dari teori interaksionisme simbol yang didirikan oleh sosiolog Amerika, George Herbert Mead (1863-1931), yang juga dikenal sebagai seorang sosiolog pragmatis, karena ia berkeyakinan bahwa semua teori sosial yang ada harus dapat diuji secara praktis, termasuk semua hal tentang kebenaran, pengetahuan, moralitas, dan politik. Interaksionisme simbol merupakan teori yang dicanangkannya sebagai studi perilaku individu dan atau kelompok kecil masyarakat melalui serangkaian pengamatan dan deskripsi. Metode ini berlandaskan pada pengamatan atas apa yang diekspresikan orang meliputi penampilannya, gerak-geriknya, dan bahasa simbolik yang muncul dalam situasi sosial. Jadi sangat berbeda dengan pendekatan yang terinspirasi dari Marxisme yang ingin mempelajari seluruh sistem ekonomi dan politik, para interaksionis mengambil cara pandang akan masyarakat dari bawah, sebagaimana situasi yang diciptakan oleh individu-individu tersebut.

Dengan pendekatan ini Mead dikenal juga sebagai seorang psikolog sosial, karena memang pada akhirnya ia banyak berbicara tentang proses berfikir, konsep diri dalam organisasi sosial, dan pola-pola pengambilan peran orang lain sebagai dasar organisasi sosial.

Kontribusi untuk teori sosial ini juga dilakukan oleh Charles Horton Cooley (1864-1929), seorang sosiolog Amerika yang pernah dekat dengan Mead. Cooley membangun teori relasi sosial yang tak bertitik berat pada kondisi individual (MIKRO) maupun sosial (MAKRO), dengan meyakini bahwa kedua hal itu tak bisa dipisah-pisahkan. Cooley banyak berbicara tentang konsep diri (disebutnya konsep melihat diri di kaca), sifat-sifat manusia, kelompok primer dalam pembentukan sifat manusia, interaksi antara pemimpin politik dan massanya, dan pentingnya arti sosial dalam nilai keuangan. Dalam beberapa hal, Cooley menunjukkan dilema yang dihadapi antara hal-hal yang menjadi warisan biologis dan hal-hal yang menjadi warisan lingkungan sosial.

Hal menarik yang ditunjukkan oleh Cooley adalah perumpamaannya yang mengatakan bahwa sebuah kapal yang dibangun oleh seratus orang yang berbeda, sangat berbeda dengan seratus kapal yang masing-masing dibangun oleh satu orang untuk menjelaskan terjadinya pandangan umum dalam masyarakat yang dibentuk oleh pandangan-pandangan umum yang dimiliki oleh tiap individu yang membangun masyarakat. Pandangan umum MEMBROJOL (emergent) dari pandangan-pandangan individual. Inilah yang menjadi pusat kajiannya.

Di sisi lain, William I. Thomas (1863-1947), juga sosiolog interaksionis Amerika, memusatkan teorinya atas sifat saling ketergantungan organis antar individu dan lingkungan sosialnya dengan metoda yang hampir dapat dikatakan sama dengan metode Mead dan Cooley. Misalnya, Thomas berusaha mengidentifikasi faktor-faktor psikologis dan biologis yang dibawa sejak lahir dan menjelaskan perilaku manusia itu; ia menyimpulkan ada empat hal dasar keinginan manusia, yaitu

(1) keinginan untuk pengalaman baru
(2) keinginan untuk dihargai
(3) keinginan untuk menguasai
(4) keinginan untuk merasa aman

Thomas yakin bahwa perilaku manusia tidak dapat dimengerti dengan baik semata sebagai respon reflektif dari stimulus lingkungan. Ia percaya bahwa ada definisi subyektif yang penting yang ada di antara stimulus dan respon.

Interaksionisme simbol Mead-Cooley-Thomas ini mendapat sambutan dari banyak sosiolog Amerika bahkan hingga kini.

Manford Kuhn (1904-1968), sosiolog yang ingin menstrukturkan metodologi empiris dalam interaksionisme simbol, menyatakan bahwa perlu beberapa perspektif teoretis yang sifatnya terbatas yang tergabung dalam interaksionisme, yaitu teori peran, teori kelompok referens, perspektif persepsi sosial dan persepsi pribadi, teori diri, dan teori dramaturgi. Intinya, Kuhn ingin membuat strategi pengukuran empiris atas konsep-konsep interaksionisme simbol tersebut. Kontribusinya yang terkenal adalah 20-UJI-PERNYATAAN untuk mengukur analisis diri; isinya adalah 20 respon yang diminta dari orang terhadap pertanyaan "Siapakah saya?".

Hal ini ditentang oleh seorang murid Mead, Herbert Blumer (1900-1987), dengan mengatakan bahwa metoda pengukuran empiris itu bertentangan dengan konsep BROJOLAN (emergence) dari kenyataan sosial. Bagi Blumer, brojolan itu lahir dari aksi dan interaksi, dan segala upaya yang ingin mengukur konsep diri tanpa memperhitungkan aksi dan interaksi berakibat fatal dan gagal dalam mengukur konsep diri dalam sistem sosial. Bagi Blumer, kenyataan sosial dan strukturnya pada dasarnya tak pernah tetap melainkan terus memiliki dinamika oleh karena interaksi antar individu tak pernah berhenti. Segi-segi struktural seperti budaya, sistem sosial, stratifikasi sosial, atau peran sosial MEMBENTUK tindakan individu, tapi TIDAK MENENTUKAN tindakan mereka. Orang yang bermain sebagai penjaga gawang dalam permainan sepak bola TERBENTUK perilakunya dalam pertandingan sepak bola, tapi TIDAK MENENTUKAN bagaimana ia harus bertindak saat gawangnya terancam serangan lawan.

Seorang sosiolog interaksionis lain, Erving Goffman (1922-1983), menitikberatkan teorinya pada konsep dramaturgi. Ia menganalisis berbagai strategi individu dalam meraup kepercayaan sosial melalui konsep-konsep teater, seperti manajemen kesan dan sebagainya. Misalnya, ia menganalisis bagaimana orang cenderung untuk saling menutupi kesalahan dengan teman, atau minimal berpura-pura tidak tahu dan tidak memperhatikan kesalahan teman, dan seterusnya. Pendeknya, baginya sosiologi adalah upaya membedah interaksi antar individu atau kelompok kecil dengan audiensnya, yaitu sistem sosial secara keseluruhan. Lebih jauh ia juga banyak berbicara tentang dasar kontekstual interaksi sosial seperti PEMAHAMAN BERSAMA sebagai KERANGKA di mana peristiwa-peristiwa sosial terjadi. Pendeknya dengan memperhatikan simbol-simbol yang digunakan oleh individu dalam interaksi sosial, interaksionis berkeinginan untuk mencari keterhubungan antara BROJOLAN yang terjadi dari tingkat MIKROSOSIAL ke MAKROSOSIAL secara komprehensif.

A multiple personality is in a certain sense normal.
G H Mead

'I,' 'me,' 'my' and 'mine'—was a matter of peculiar interest....we may hope to make out what the self-idea actually is, in its naive and comparatively simple form, in the form under which it functions in the every day relations of life
C H Cooley

. . . if men define situations as real, they are real in their consequences
W I Thomas

Symbolic interactionism is the peculiar and distinctive character of interaction as it takes place between human beings
Herbert Blumer

everyday life is the foundation of social reality
Erving Goffman

DOUGLAS KELLNER, The Frankfurt School and British Cultural Studies: The Missed
Articulation
, Illuminations, 1999.

SCOTT LASH, Sociology of Postmodernism, Routledge, 1990.

BRYAN S. TURNER, Orientalism, Postmodernism, and Globalism, Routledge, 1994.

PIERRE BOURDIEU, On Television, New Press, 1999.

ROLAN BARTHES, Elements of Semiology, Jonathan Cape, 1964.


MERETAS JALAN SOSIOLOGI: studi-studi budaya

Budaya adalah sebuah obyek studi yang menarik dalam sosiologi. Hal ini dikemukakan oleh teoretisi sosial Douglas Kellner yang menunjukkan pentingnya studi multidispliner dalam memahami budaya. Hal ini diawali di Inggris oleh Studi Budaya Birmingham yang melihat budaya dalam perspektif politik, kemasyarakatan dan budaya itu sendiri. Studi budaya tidak lagi didominasi oleh studi obyek-obyek budaya tinggi (avant-garde) namun juga membedah secara langsung budaya kontemporer yang berkembang di tengah masyarakat, mulai dari komik, bacaan, sains, hingga film.

Studi budaya seringkali dikaitkan dengan studi-studi poskolonial yang hampir paralel dengan teori-teori yang dikembangkan mazhab Frankfurt yang ingin membedah terjadinya penjajahan baru melalui obyek-obyek kultural. Semangat ini dikembangkan dalam teoretisi politik Amerika Serikat, Edward Said (1935-2003), dengan konteks pembedaan struktur sosial di belahan barat dan timur.

Secara umum, studi budaya menjalin studi yang melibatkan banyak analisis dan studi dalam disiplin studi komunikasi, politik, ekonomi, dan studi tentang linguistik atau semiologi. Semiologi merupakan bidang ilmu yang mempelajari konsep tanda sebagai elemen penyusun obyek budaya.

Salah satu pengayaan kajian sosiologi budaya dikembangkan oleh sosiolog Perancis, Pierre Bordieu (1930-2002), yang mempelajari bagaimana pola budaya yang terbentuk atas ruang pengalaman sosial manusia yang menyentuh hampir seluruh sisi kehidupan masyarakat modern, mulai dari sains, budaya pop, televisi, dan sebagainya.

like the political and economic fields, and much more than the scientific, artistic, literary, or juridical fields, the journalistic field is permanently subject to trial by market, whether directly, through advertisers, or indirectly, through audience ratings
Pierre Bourdieu


J. F. LYOTARD, The Postmodern Condition: A Report on Knowledge, trans. Geoff Bennington and Brian Massumi, Manchester University Press, 1984.

JAMES WILLIAMS , Lyotard: Towards a Postmodern Philosophy (Cambridge: Polity Press, 1998).

H. F. HABER, Beyond Postmodern Politics : Lyotard, Rorty, Foucault, New York : Routledge, 1994.

BEN AGGER, "Postponing the Postmodern", Cultural Studies 1:37-46, 1996

BRYAN S. TURNER, Orientalism, Postmodernism, and Globalism, Routledge, 1994.

ALAN SOKAL, "Transgressing the Boundaries: Toward a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity". Social Text 46/47: 217-252, 1996.

HOKKY SITUNGKIR, Cultural Studies thorugh Complexity Studies, Working Paper WPM2004, Dept.Comp.Soc., Bandung Fe Institute.

DAVID HARVEY, The Condition of Postmodernity, Basil Blackwell, 1989.

MERETAS JALAN SOSIOLOGI: set-back posmodernisme

Jika kita membicarakan sosiologi dan sejarah yang melahirkannya, seringkali kita terjebak pada diskusi filsafat dan metafisika yang menjadi dasar transendental lahirnya sebuah teori sosiologis. Ini tak terjadi pada bidang ilmu alam, karena memang ilmu alam memiliki seperangkat piranti empiris yang segera dapat menguji keabsahan sebuah teori. Sistem sosial sangat berbeda dengan sistem di alam, karena ia sangat dekat dengan manusia dan kehidupan sosialnya, obyek sains yang sangat tinggi derajat kebebasan ruang pengalamannya.

Pengalaman ini dialami oleh alam filosofis yang dikenal dengan posmodernisme. Pada awalnya, posmodernisme adalah sebuah terminologi yang diungkapkan oleh sosiolog Perancis, Jean-Fran├žois Lyotard (1924-1998). Lyotard pada awalnya tertarik pada studi-studi fenomenologi, dan filsafat paganisme. Ia berubah haluan dengan banyak berbicara tentang kondisi posmodernisme. Dalam paradigma Lyotard, kondisi posmodernisme adalah kondisi ketidakpercayaan sosial atas metanarasi. Metanarasi diartikan sebagai cerita atau teori keseluruhan tentang sejarah dan tujuan dari manusia yang menjadi dasar dan pengabsahan pengetahuan dan praktik budaya. Lyotard menggambarkan bagaimana situasi sosial setelah sekian lama dalam era modernisme (pasca pencerahan) dalam mengembangkan teknologi komputer, digitalisasi di mana-mana dan sebagainya dan mengkontraskannya dengan pendekatan filsafat sosial klasik seperti Hegel, Marx, dan seterusnya.

Belakangan, pendapat tentang posmodernisme yang seringkali memang bersandar pada studi linguistik Swiss, Ferdinand de Saussure (1857-1913), berkembang menjadi studi filsafat dan linguistik yang juga menghasilkan klaim-klaim dalam ilmu sosial. Inti pendekatan linguistik (disebut dengan istilah INTERTEKSTUALITAS) difahami sebagai rantai elemen bahasa yang bebas makna, karena satu kata ber-referensi atas kata lain, dan kata lain ber-referensi atas kata lain dan seterusnya dalam rantai yang luar biasa panjang. Hal ini memunculkan di antaranya filsuf sosial dan kritikus budaya Perancis yang sarat kontroversi, Jean Baudrillard, dua orang teoretisi Perancis, Gilles Deleuze dan Felix Guattari, teoretisi Frederic Jameson, dan sebagainya, dengan berbagai pendapat dan terminologi yang mengimpor istilah-istilah sains, khususnya fisika seperti teori chaos, dan sebagainya yang dianggap memelintir makna istilah tersebut dari makna aslinya di fisika. Mereka menggunakan banyak tradisi teori psikoanalisis Jaques Lacan yang seringkali pula menggunakan terminologi serupa. Hal ini dikritik dengan keras oleh fisikawan Alan Sokal, yang menunjukkan seringnya pemelintiran istilah-istilah fisika ini dalam literatur sosial dan bahkan tidak diakui sebagai sekadar metafora. Penggunaan istilah ini cenderung menjadi tren tersendiri dalam kritik budaya yang cenderung memperindah teks-teks yang ada namun cenderung miskin makna.

Hal inilah yang melahirkan apa yang disebut 'perang sains' antara kritikus budaya dan sekelompok fisikawan. Posmodernis atau juga akhirnya sering disebut pos-strukturalis cenderung tetap untuk ngotot dengan cara mereka. Para fisikawan tersebut di sisi lain tidak mau tahu dan menganggap hal ini sebagai bentuk impotensi dari ilmuwan sosial. Hal ini menjadi skandal dalam sains sosial, khususnya sains dan filsafat sosial Perancis abad ke-20.

Dalam 'perang sains' yang sangat merunyamkan pengembangan analitis sosiologi ini, beberapa ilmuwan mengembangkan MESIN DADA dengan menunjukkan bahwa filsuf-filsuf sosial tersebut memiliki semacam "ketakmampuan mental", dirancanglah sebuah perangkat lunak komputer yang menggambarkan cara menulis 'analisis' dengan pendekatan-pendekatan posmodern yang cenderung menggunakan metafora-metafora yang rumit yang diimpor dari berbagai teks ilmu alam, ilmu sosial klasik, sastra dan budaya pop, pembuatan terminologi dan istilah baru, namun pada dasarnya tidak menunjukkan analisis apapun. Kita tinggal memasukkan daftar pustaka, kata kunci, dan seterusnya untuk menghasilkan karya-karya yang tak jauh berbeda dengan karya filsuf sosial posmodernisme atau disertasi doktoral dalam studi posmodernisme (diuji cobakan secara praktis dan terbukti). Hal ini merupakan tantangan yang sangat berat bagi pengembangan ilmu sosial yang datang dari kekhilafan akan lemahnya kesinambungan antara metodologi dan konstruksi teoretis.

that the status of knowledge is altered as societies enter what is known as the postindustrial age and cultures enter what is known as the postmodern age
J. F Lyotard

JOHN MAYNARD KEYNES, The General Theory of Employment, Interest and Money, Macmillan, 1936.

STEVE KEEN, Debunking Economics: The Naked Emperor of the Social Sciences, Pluto Press, 2001.

J. R. HICKS, "Mr Keynes and the 'Classics': a suggested interpretation", Econometrica 5: 147-159.

MERETAS JALAN SOSIOLOGI: obyek-obyek ekonomi

Bagaimanapun, hari ini ekonomi telah menjadi disiplin ilmu tersendiri yang berkenaan dengan analisis masyarakat dengan aspek-aspek khusus sebagai efek dari modernisme dan penggunaan yang sangat luas uang dan modal. Ekonomi sendiri bahkan menjadi sedemikian luas sehingga perlu mendapat kategorisasi atas berdasarkan obyek yang hendak menjadi fokus studinya, yaitu MAKROEKONOMI dan MIKROEKONOMI.

Ekonomi biasanya berbicara tentang akumulasi modal, alokasi sumber daya, masalah tenaga kerja, mata uang, bank, dan sebagainya yang telah berdiri sendiri sebagai kaisar yang sangat populer dalam urusan kemasyarakatan, pemerintahan, dan politik. Sejarah perkembangan ekonomi telah bersimpangan dengan sejarah perkembangan sosiologi sendiri. Pengembangan pasca Adam Smith telah sedemikian jauh dan terspesialisasi atas masalah-masalah seperti pengangguran, mobilitas regional, hingga ke motif-motif ekonomi. Tak jarang memang kebijakan ekonomi mengandung kebijakan-kebijakan politik dan sebaliknya. Tokoh ekonomi modern yang terkenal adalah John Maynard Keynes (1883-1946) yang selama depresi dunia 1930 menjelaskan siklus pasang surut ekonomi yang menggerogoti kapitalisme. Keynes dikenal dan menjadi inspirasi atas teorinya tentang ketenagakerjaan, interes, uang dan fluktuasi ekonomi.

Saat ini teori Keynes telah sangat banyak mendapat perubahan dengan pengembangan berbagai model matematika dan komputasi yang secara khusus membahas berbagai fenomena ekonomi.

2 komentar:

  1. kok gambarnya gak maksimal se, bisa gak tu nulis posting di blog

    BalasHapus