Selasa, 19 Mei 2009

Anthonio Gramscy 2

Lebih Jauh dengan Gramsci (1)

GRAMSCI lahir di Ales, small town di Sardinia Italia, 22 Januari 1891. Anak keempat dari ketujuh bersaudara ini, pada awalnya, berasal dari sebuah keluarga yang tidak terlalu miskin, meski tetap berasal dari kelas bawah. Sang Ayah, Francesco adalah seorang kolonel dari Naples. Sardinia sendiri adalah daerah yang miskin, dan mengalami kebodohan. Bahkan menurut data dari dokumen zaman itu, di Ghilarza hanya 200 dari 2000 penduduk setempat yang melek huruf (Patria dan Arif, 1999:42-3). Itulah sebabnya mengapa keluarga Gramsci ingin sekali menyekolahkan anak-anaknya lebih tinggi lagi agar kelak ia bisa hidup lebih baik. Hanya saja, keinginan itu justru terhambat di tengah jalan lantaran Ayah Gramsci dipecat dari pekerjaannya (1897) tanpa pesangon karena diduga melakukan “kecurangan administratif”. Tidak hanya itu, karena tahun sesudah pemecatan itu bahkan harus dialami oleh ayahnya di penjara. Bisa dibayangkan betapa tersiksanya keluarga Gramsci saat itu. Diduga, bahwa pemenjaraan selama 6 tahun itu berkait erat dengan sikap oposisi ayahnya terhadap partai lokal yang menang Pemilu waktu itu. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya, ibunya terpaksa menjadi tukang jahit, sedangkan Gramsci dan kakaknya, Genaro, mengabdi di kantor bekas ayahnya bekerja.

Dalam suatu tulisannya, Gramsci pernah mengatakan, “Aku bekerja mulai umur 11 tahun, dan mendapat gaji hanya 9 Lira selama sebulan (uang itu hanya cukup untuk membeli roti dua pound setiap harinya). Aku bekerja selama sepuluh jam sehari, termasuk hari Minggu pagi. Pekerjaan itu terasa cukup berat dibandingkan dengan tenagaku. Setiap malam aku menangis diam-diam meratapi rasa nyeri yang mendera seluruh tubuh ini” (Patria dan Arif, 1999:44). Dua tahun kemudian ayahnya bebas dari penjara, dan ekonomi keluarganya sedikit membaik. Gramsci kemudian dikirim ke sebuah gymnasium di Santu Lussurgiu. Karena biayanya masih tidak mencukupi, Gramsci kerap menjual makanan yang dikirim keluarganya untuk membeli buku dan koran.

Singkat cerita, pada 1911, Gramsci memasuki perguruan tinggi setelah memenangkan perolehan beasiswa di Universitas di Turin Italia. Pada tahun-tahun itulah, Gramsci membentuk karakter intelektualnya. Ia banyak meluangkan waktunya untuk membaca dan belajar dari filosof idealis Beneddeto Croce, sebagai Godfather-nya. Croce adalah filsuf Marxisme yang paling berpengaruh di Italia. Pada akhirnya memang pikiran-pikiran Croce banyak mempengaruhi Gramsci (Simon, 1999:ix).

Dalam masa-masa itu (mahasiswa), minatnya sebagai aktivis politik dan aktivis gerakan buruh di kota Turin mulai terbentuk. Tahun 1913 ia bergabung dengan Partai Sosialis Italia/PSI.

Di usia yang relatif muda pada 1914, Gramsci menjadi staf editor tetap bagi Mingguan Partai Sosialis, Il Grido del Popolo (Jerit Tangis Rakyat). Selanjutnya pada tahun 1916, ia juga tercatat sebagai kolumnis pada terbitan Partai Sosialis lainnya, Avanti. Bulan Agustus 1917 terjadi sebuah pemberontakan buruh yang spontan di Kota Turin. Gerakan perlawanan itu terus berlanjut, dan selama kurun 1919-1920 adalah Tahun-tahun Merah, di mana rakyat Itali menyebutnya sebagai bienne rosso. Gerakan rakyat ini kemudian dikenal sebagai Gerakan Dewan Pabrik. Para buruh pabrik baja di Turin dilanda perang melawan kaum borjuis pemimpin pabrik. Termasuk pabrik mobil Fiat, perusahaan mobil terbesar di Itali (Patria dan Arif, 1999:49).

SAIFUL ARIF, Editor
Tulisan di atas merupakan petikan sebuah subbab dalam buku Pemikiran-pemikiran Revolusioner (Averroes Press, 1999).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar