Selasa, 19 Mei 2009

Fenomenologi 2

Kesadaran Intensional: Obyektivitas Dunia (8)

Belajar Filsafat

narcism, www.averroes.or.id

Pada titik ini, pertanyaan obyektivitas atas dunia muncul di benak kebanyakan pembaca. Tetapi jangan-jangan pertanyaan tersebut muncul justru karena pembaca berusaha menemukan sebuah realitas obyektif yang terletak di luar realitas kesadaran? Apakah itu bukan karena dia masih menginginkan untuk memikirkan dunia sebagai sesuatu yang terpisah dari realitas pemikiran? Satu hal yang pasti: obyektivitas dunia haruslah tidak ditafsirkan secara obyektivistik. Realitas obyektif tak dapat dipikirkan jika realitas semacam itu dianggap sebagai sesuatu yang mendahului pemikiran, dan dengan itu mendahului kesadaran. Pemikiran yang sesungguhnya atas realitas obyektif senantiasa telah melibatkan kita dalam realitas tersebut dan menghalangi setiap “pengetahuan” yang mendahului keterlibatan itu. Istilah “realitas obyektif” tidak mungkin bisa diaplikasikan terhadap realitas yang dilihat tanpa kehadiran kesadaran. Sebuah dunia yang diamati tanpa kehadiran kesadaran adalah dunia yang non-sensical, dunia-yang-tak-bermakna. Semua pengetahuan riil atas dunia semacam itu menjadi sebuah ketidakmungkinan, karena pengetahuan yang riil mengimplikasikan keterlibatan yang sadar dalam sebuah dunia.

Tetapi kita juga tak boleh menafsirkan obyektivitas dunia secara subyektivistik. Kita tak dapat mengatakan sesuatu apapun yang muncul di pikiran kita dan masih saja mengklaim untuk berbicara secara obyektif mengenai sebuah realitas. Obyektivitas adalah aletheia, ketersingkapan (unconcealedness) benda-benda dalam dirinya sendiri. Benda-benda ditarik dari ketersembunyiannya (concealedness) melalui aktivitas kesadaran, melalui “membiarkan demikian” (senlassen) realitas. Kesadaran bukanlah hanya semata-mata bersifat pasif (sebagaimana dalam realisme), namun lebih merupakan pewahyuan yang aktif dari obyek. Tanpa pewahyuan yang aktif dari kesadaran ini, manusia adalah manusia tanpa dunia apapun. Intelek adalah sebuah intellectus agens (Skolastisisme). Namun, kesadaran itu bukanlah aktivitas murni (sebagaimana dalam idealisme); kesadaran bersifat sensitif dan reseptif terhadap benda-benda itu sendiri begitu benda-benda itu menembusi kesadaran dengan sebuah urgensi tertentu. Intelek juga adalah intellectus patiens (Skolastisisme).

Sebagai ringkasan dan penyimpul dua aspek itu, kita melukiskan kesadaran sebagai perjumpaan. Sekarang menjadi terang mengapa kaum fenomenolog berkeberatan dengan semua pretensi obyektivitas dan keunggulan dari pengetahuan. Kaum fenomenolog berkeberatan dengan interpretasi yang obyektivistik dan absolutistik atas kebenaran. Kebenaran bukanlah sebuah pertanyaan korespondensi antara pengetahuan kita dan makna yang dimiliki oleh dunia yang terpisah dari kesadaran manusia. Dengan pemikiran itu, kita dapat berbicara tanpa rasa cemas mengenai “subyektivitas” dari semua kebenaran jika kita memahami ini dengan pengertian bahwa semua pengetahuan mengekspresikan obyektivitas sebagaimana dia tampil kepada seorang subyek. Lebih jauh lagi, kita dapat menafsirkan ulang pernyataan bahwa “semua kebenaran itu relatif” dengan pengertian bahwa semua kebenaran itu mengekspresikan sebuah hubungan dengan seorang subyek: dalam hubungan dengan seorang subyek inilah kebenaran itu absolut.

Sekarang jelas mengapa “apa yang disebut sebagai problem kritis” dalam bentuk-bentuk tradisionalnya merosot ke-problem-annya jika intensionalitas dilihat sebagai sebuah ada-yang-terarah-menuju-dunia, sebagai sebuah kesatuan implikasi mutual (timbal-balik) dari dunia dan kesadaran (Kwant). “Problem kritis” itu sendiri tidaklah dapat membentuk basis bagi sebuah penolakan atas konsep intensionalitas. Jika sebuah problem kritis hadir, maka problem itu haruslah diungkapkan dalam peristilahan yang diturunkan dari pengetahuan sebagaimana dia sesungguhnya hadir, dan tidak melalui sebuah filsafat a priori dari Cogito (Heidegger). Walaupun begitu, kiranya hal tersebut tidaklah menjadikan tidak mungkin untuk menghadirkan kembali bayang-bayang, ataupun substansi problem kritis. Bisa saja terjadi seorang fenomenolog mengatakan bahwa dia tak akan lagi berbicara tentang dunia-dalam-dirinya-sendiri (monde-en-soi), sementara pada saat yang bersamaan dia berpikiran bahwa dunia yang semacam itu ada. Godaan kebiasaan itu besar, sehingga siapapun bisa mendapati dirinya berada kembali dalam kubangan lumpur Cartesianisme. Memiliki gagasan sebuah dunia yang terpisah dari kesadaran (yang merupakan sebuah kontradiksi) mengimplikasikan sebuah kesadaran yang terpisah dari dunia dan kemudian tertarik kembali ke dunia. Pengetahuan mengenai dunia dalam situasi ini tereduksi menjadi sebuah proses kecil dan privat dari psike batiniah. Sekali lagi kita harus mengajukan pertanyaan seperti bagaimana psike batin ini mendapat informasi mengenai dunia luar. Dan dasar apakah yang kita miliki untuk mempostulasikan dunia luar ini? Kita tak dapat lari dari kebenaran sederhana bahwa tanpa kesadaran manusia, tak ada dunia.

Banyak pembaca, yang sampai pada titik ini mengikuti argumen kami dengan ketertarikan dan mungkin bahkan dengan persetujuan, sekarang akan menggeleng-gelengkan kepala mereka tidak percaya manakala dia membaca paragaraf yang barusan. Dia bahkan akan meragukan kewarasan kaum fenomenologi yang menulis itu pertama kali. Namun, Heideggerlah yang dengan segenap kemampuan dalam bidangnya menulis bahwa, ”wenn kein Dasein existiert ist keine Welt da” atau “without Dasein there is no world.” Seaneh apapun kedengarannya pada pandangan pertama, argumen itu melukiskan sebuah konklusi yang seksama dan pokok dari konsep intensionalitas. Tak seorangpun bisa secara tepat menyebut dirinya seorang fenomenolog jika dia tidak berusaha menganut sepenuhnya pemikiran dasar ini. Menolak pemikiran dasar itu secara otomatis akan membawa kita kembali kepada Cartesianisme. Sebenarnya, pemikiran yang diekspresikan oleh Heidegger di sini sangat bisa diterima, jika kita sadar bahwa “kembali ke benda itu sendiri” pada saat yang sama mengimplikasikan sebuah gerak kembali ke “kata yang berucap” (parole parlante, Merleau-Ponty). “Kata yang berucap” ini adalah kata yang hidup: hanya kata inilah kata yang sungguh-sungguh berbicara. Kata ini mengimplikasikan seorang subyek yang memakai “kata yang diucapkan” (parole parlĂ©e) untuk mengungkapkan realitas.

Siapapun yang menggunakan kata ada dalam pengertian sebuah “kata yang berucap,” bermaksud untuk mengafirmasi sebuah realitas partikular. Jika kita menggunakan kata “ada” dalam setiap bentuknya, dan jika kita tidak berniat untuk mengafirmasi apapun dengannya, sebenarnya kita tak membicarakan apapun. Kata “ada” memiliki arti hanya ketika seorang subyek berusaha mengafirmasi sebuah realitas yang eksis buat subyek tersebut.

“Ada” mengimplikasikan manusia kepada siapa benda-benda itu ada! Heidegger tak mengatakan sesuatu yang aneh manakala dia menyatakan bahwa “tanpa Dasein tak akan ada dunia”: tanpa manusia tak ada sesuatu, karena ada itu senantiasa berarti ada-untuk-manusia. Ada itu senantiasa dan secara niscaya “apa” dan “bagaimana”; ini adalah makna yang tak bisa dipisahkan dari Cogito. “Ada dan kebenaran itu bisa dipertukarkan” (ens et verum convertuntur, Skolastisisme).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar